Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Episode 11 ( keputusan Hendra)


__ADS_3

Sementara itu, di rumah Hendra suasana sudah normal seperti biasa. Hendra tak begitu memikirkan Tumini walau dalam hati kecilnya masih timbul rasa penasaran terhadap sosok wanita cantik itu.


Hingga suatu saat, hendra pergi ke rumah amin untuk mengajak Amin pergi ke rumah Tumini karena rasa penasaran hendra.


"Amin, ayo temani aku ke rumah Tumini" ucap Hendra sambil menepuk bahu Amin


"Ah, Hendra kau mengagetkan ku saja"


"Ngapain ke rumah Tumini"? tanya Amin sembari melihat tatapan mata hendra yang kosong


"Entahlah"


"Aku seperti pengen ketemu aja ama si Tumini" ucap Hendra sedikit tersenyum


"Wah, wah"


"Tak biasanya kau minta hal yang aneh-aneh"


"Biasanya si cewek yang mencarimu"


"Mengapa hatimu makin lemah setelah ketemu Tumini?" tanya Amin sambil memukul pundah hendra


"Sudahlah amin"


"Kali ini, kau harus menuruti kemauan ku" ucap hendra sembari tersenyum tipis


"Yah, baiklah"


"Aku akan mengantar mu ke rumah Tumini sekarang juga"


"Tapi ingat"


"Jangan pernah menatap matanya" ucap amin mengingatkan sahabatnya itu


"Baiklah" ucap Hendra sambil berjalan menuju bagasi mobil nya untuk pergi ke rumah Tumini yang berjarak sekitar 7 kilometer dari tempat tinggal nya.


Sementara itu, Tumini dan Ririn masih bersantai di rumah. Pagi ini tak ada jadwal manggung untuk mereka karena hendra tak memberi kabar apapun kepada mereka.


Mereka berdua tak tahu jika hendra dan Amin akan datang menemui Tumini.


"Hem, kak Tumini"


"Kalau boleh aku memberi saran, lebih baik buang saja selendang ijo pemberian aki mamang"


"Akhir-akhir ini setelah kakak memakai selendang ijo, banyak kejadian aneh yang terjadi" ucap Ririn sembari menatap wajah kakak nya dengan penuh perhatian.


Ririn sedikit berpikir keras mendengar masukan adik nya yang ada benarnya.


"Hem, kalau aku buang selendang ijo itu, terus apakah kita bisa menjadi penari terkenal seperti sekarang ini?"


"Setahuku, kita tak pernah di pandang oleh siapapun sebelum ini"

__ADS_1


"Setelah kakak memperoleh bantuan dari aki mamang, pekerjaan kita menjadi lancar dan bang hendra yang mempunyai sanggar tari juga tertarik pada kita" ucap Tumini sembari mengibaskan rambutnya.


"Kak, aku tak ingin kakak terjerumus lebih dalam lagi"


"Apa yang akan terjadi besok malam dan selanjutnya?"


"Aku sudah tak tahan lagi" ucap Ririn kepada Tumini.


"Ririn, kalau kau tak tahan, kau boleh pergi dari rumah ini" ucap Tumini dengan nada marah.


Otak ririn rupanya telah dirasuki efek jahat dari seledang ijo sehingga apa yang diucapkan nya sudah di luar akal logika.


Rasa belas kasihan dan kasih sayang Tumini untuk adik kandung nya Ririn seakan hilang sirna tak berbekas.


"Kak Tumini?"


"Apa yang kau katakan?" ucap Ririn setengah tak percaya.


"Ririn, apakah kau tidak mendengar kata-kataku?"


"Aku ingin kau pergi dari rumah ini, karena aku sudah muak melihatw wajahmu yang tiap hari seakan tak suka aku memakai selendang ijo pemberian aki mamang" ucap Tumini kepada Ririn.


Seperti terkena petir di siang bolong, hati Ririn menjadi hancur karena baru kali ini kakak yang dia sayangi tega untuk mengusir nya.


"Kakak, kau sangat tega mengusirku hanya demi selendang ijo itu"


"Apakah kau tidak sedang bercanda?" tanya Ririn mencoba meyakinkan kakak nya bahwa yang diucapkan kakak nya tidak benar dan hanya gurauan.


"Ririn, pergilah"!


"Aku tak ingin melihat wajahmu lagi"


"Wajahmu sangat mengganggu ku"


"Aku tak butuh kau lagi"


"Kau bukan adikku lagi" ucap Tumini sembari masuk ke dalam kamarnya.


Mendengar ucapan Tumini yang memang mengusirnya, Ririn seketika itu menangis.


Ririn berusaha mengejar kakak nya dan berusaha agar Tumini tak jadi mengusir nya


"Kak Tumini"


"Jangan usir aku"


"Aku sudah berjanji pada ayah dan ibu bahwa aku akan selalu menjaga kakak" ucap Ririn memohon kepada kakak nya.


Tumini hanya terdiam mendengar permohonan Ririn karena dalam hati kecil nya rasa sayang untuk Ririn masih sangat besar.


Tapi entah kenapa, dalam.hatinya ada bisikan yang menyuruhnya untuk mengusir adik kesayangannya itu.

__ADS_1


"Diam kau Ririn"!


"Biarkan aku sendiri dulu"


"Otak ku sudah mulai panas dan telingaku sudah sangat penuh karena mendnegar ocehan mu" ucap Ririn sembari menutup telinganya.


"Iya kak, istirahatlah dulu"


"Aku tak akan pergi walau kau mengusirku berulang kali"


"Aku tak ingin kau sendirian di dunia dalam keadaan seperti ini" ucap Ririn sambil meneteskan air mata.


"Hem, dasar kau selendang ijo"


"Suatu saat, aku akan membakarmu tanpa sepengetahuan kakak ku" ucap Ririn dalam hati.


Tumini mulai melamun dan berpikir keras melawan egonya sendiri.


"Ah, ada apa dengan ku"


"Mengapa aku berani mengusir adikku sendiri"


"Apakah aku sudah terlalu jahat" ucap Tumini dalam hati


Tumini sedikit histeris dan memukul kepalanya ke tembok karena rasa sakit dan stres yang dialaminya saat itu.


Akibat nya, kepalanya berdarah dan Tumini pingsan.


Ririn yang saat itu berada di balik pintu langsung mendobrak kamar Tumini dan usaha Ririn tak membuahkan hasil.


"Kak Tumini, kakak tidak apa - apa?" teriak Tumini sambil berusaha mendobrak pintu kamar Tumini yang masih terkunci rapat.


Ririn seakan putus asa dan saat hatinya mulai melemah, terdengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya.


Ririn langsung berlari ke arah depan rumahnya untuk melihat siapa yang datang.


Tampak laki-laki berkacamata hitam dengan pakaian rapi turun dari mobil dan ternyata Hendra datang ke rumah mereka.


"Oh, tuan hendra, kebetulan kau datang" ucap Ririn sambil berlari ke arah hendra dan amin.


"Ada apa sepertinya wajahmu sangat panik?"


"Dimana Tumini?" tanya hendra penasaran


"Kak Tumini ada di dalam kamar dan sepertinya dia pingsan" ucap Ririn sembari menggandeng tangan hendra menuju ke kamar Tumini.


Hendra dan Amin akhirnya pergi menuju ke kamar Tumini dan mendobrak pintu kamar Tumini bersama-sama.


Tak membutuhkan waktu lama, pintu kamar Tumini mulai terbuka dan mereka bertiga terkejut melihat Tumini tergeletak dengan darah di kepalanya yang mengucur deras.


Bersambung

__ADS_1


Tunggu ceritanya makin seru ya teman teman


__ADS_2