
Tumini hanya terdiam meratapi nasibnya.
"Mengapa aku baru tahu sekarang?"
"Saat usiaku sudah sangat tua?"
"Aku ingin mati tapi aku tak bisa mati?"
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Tumini sambil terus memikirkan takdirnya yang buruk.
"Cara terbaik adalah aku harus pergi ke negeri jin"
"Aku harus mencari obat penawar agar aku bisa kembali seperti dulu, sebelum aku meminum bubuk pemurni jasad itu" gumam Tumini sambil terus meratapi nasibnya.
Rita yang ada di samping Tumini rupanya mulai merasa kasihan dengan nasib sahabatnya itu.
Walau dia bersama Tumini sejak lama, Rita tak terikat dengan perjanjian selendang ijo milik Tumini. Rita hanya meminjam saja dikala dia menari. Segala bentuk kesialan di tanggung oleh Tumini.
"Tumini, bagaimana jika kita kembali ke alam jin dan mencaro obat penawar?" tanya Rita dengan nada yang serius
"Rita, apakah kau siap dengan konsekuensi yang ada?" tanya Tumini
"Aku serius"
"Aku sudah capek hidup di dunia ini tanpa kepastian"
__ADS_1
"Lihatlah semua teman kita telah tenang di alam sana"
"Kita berjuang selam ribuan tahun hanya untuk mencari ketenaran semu?" ucap Rita sambil memandang ke arah Tumini
"Lalu, bagaimana dengan selendang ijo milikku?"
"Apa aku buang saja?" tanya Tumini meminta pendapat Rita.
"Ah, lebih baik kau buang saja itu selendang" ucap Rita pendek.
"Baiklah kalau begitu"
"Aku akan membuang selendang ini"
"Tapi, jika aku buang, tubuhku akan menghitam dan aku tak mau itu terjadi" ucap Tumini ketus
"Bagaimana jika sementara selendang ijo kau pakai dulu sampai kita menemukan penawar bubuk pemurni jiwa yang sudah terlanjur kita makan?" tanya Rita
"Oh, benar juga"
"Untuk sementara waktu, aku akan mencari darah perawan lagi jika khasiat selendang ijo ini pudar"
"Sekarang, kita lakukan pencarian penawar bubuk pemurni jiwa terlebih dahulu"
"Aku tak sabar ingin mengakhiri kehidupan ini" ucap Tumini sambil meneteskan air mata
__ADS_1
"Ya, akupun demikian"
"Salah satu penghalang kita adalah bubuk pemurni jiwa"
"Jika kita sudah terlepas darinya, mungkin kita akan secepatnya mati" ucap Rita
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang" ajak Tumini.
Mereka berdua pun terbang ke alam jin untuk mencari penawar bubuk pemurni jiwa. Mereka berdua sudah lelah dengan takdir yang mereka hadapi.
Ternyata, hidup lebih lama dari manusia lainnya membuat mereka berdua tersiksa. Mereka tak bisa merasakan nyaman nya kehidupan sewajarnya.
Kehidupan mereka diliputi rasa was was yang selalu datang setiap saat.
Jiwa tumini dan Rita terbang menuju alam jin. Alam yang dulu mereka tinggalkan dan tak punya rencana untuk kembali.
Mereka berdua sebenarnya sudah puas dengan tinggal di alam dedemit. Sebuah alam pembatas antara alam manusia dan alam jin.
Namun, karena suatu hal, mereka pun berusaha kembali untuk menebua kesalahan mereka.
"Sia-sia aku mengambil bubuk itu"
"Jika tak ku ambil, mungkin aku sudah tenang di alam sana" gumam Tumini sambil terus meratapi nasibnya.
Tak menunggu waktu lama, Tumini dan Rita akhirnya telah sampai di alam jin. Yaitu alam yang dulu pernah membelenggu mereka hingga dipenjara berpuluh puluh tahun lamanya.
__ADS_1
Namun ,ada hal aneh yang terjadi. Alam jin yang sekarang berbeda dengan alam jin yang dahulu.
Alam jin yang sekarang lebih megah dari sebelumnya. Terdapat kota dengan lampu yang berkilauan