Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
pertemuan mengharukan


__ADS_3

Perjalanan Devi terasa cukup jauh. Tubuh nya seakan kecapekan karena melakukan perjalanan itu.


Hingga pada akhirnya, sampailah Devi di rumahnya. Rumah devi sudah berubah dan seperti tak terurus.


"Wah, kenapa dengan rumahku?" gumam devi dalam hati.


Devi pun masuk ke dalam rumahnya, dan mengetuk pintu rumahnya. Tiba-tiba, tampak lelaki tua yang mulai membuka pintu rumah itu.


Wajahnya tak asing bagi devi namun devi masih belum sadar jika lelaki tua itu adalah suaminya.


"Istriku?"


"Devi?" tanya lelaki tua itu.


"Hah,?"


"Siapa kau?"


"Mana suami dan anakku?" tanya devi penasaran


Suami devi yang sudah tua itu segera menjawab


"Apakah kau tak mengenali aku?"


"Aku adalah suamimu"


"Sudah 40 tahun kau pergi dari rumah"


"Tak ada kabar sama sekali darimu"


"Anak kita sekarang sedang merantau ke kota" ucap suami devi memberi penjelasan kepadanya.


"Hah?"


"empat puluh tahun?"

__ADS_1


"Aku merasa, hanya sehari saja aku melakukan perjalanan ke tempat nyi ratu" ucap Devi sambil menunjukkan raut muka yang sedikit tak percaya.


"Wajahmu setua itu?" tanya devi


Devi segera mundur selangkah dan tak mau menyentuh suaminya itu.


Suami devi yang melihat tingkah devi langsung berkata


"Dik, kalau kau tidak percaya, berkacalah sekarang"


"Kau juga sama seperti ku"


"Sudah tua" ujar suami devi sambil menuntun devi dan pergi ke arah cermin yang ada di rumah mereka.


Devi pun pergi ke cermin mengikuti arahan suaminya. Dan terkejutlah devi melihat wajahnya yang sudah tak muda lagi.


Rambut devi mulai memutih dan wajah devi sudah keriput.


"Ah, tidak"


"Aku belum.menikmati hidup ku"


"Mengapa aku bisa setua ini?" gumam devi setengah tak percaya.


"Hem, istriku"


"Bertobatlah"


"Sudah saat nya kita bertobat dan tak memelihara tuyul lagi"


"Sekarang, nikmatilah hidup kita yang telah tua renta ini"


"Paling tidak, kita sudah bertobat dan menyadari kesalahan kita" ucap suami devi memberi nasehat pada devi.


Devi pun menangis dan menganggukkan kepalanya. Dirinya langsung duduk di kursi disusul oleh suamimnya.

__ADS_1


Tak lupa, devi melihat isi di dalam kantong bajunya.


"Mas, aku masih punya harta dari nyi ratu"


"Mungkin harta ini akan membantu kita di masa tua" ujar devi sambil merogoh kantong bajunya itu


Terlihat emas permata yang sangat berkilauan tetap berada di saku baju milik devi.


"Mas, lihatlah"


"Emas milikku?" ucap devi sambil memperlihatkan emas permata pada suaminya itu.


"Ya dik"


"Tapi, apa gunanya bagi kita emas itu?"


"Kita sudah sangat tua dan tubuh kita renta"


"Apakah lebih baik, emas itu kita buang saja?"


"Kalaupun kita sumbangkan ke orang lain, emas itu haram hukumnya" ucap suami devi


"Masalah makan, kita sudah punya anak yang setiap hari mengirim makanan untuk kita"


"Kita nikmati masa tua kita dengan beribadah" ucap Suami devi memberi nasehat pada devi


Devi pun mengangguk menyetujui nasehat suaminya. Setelah sadar dari perbuatannya, Devi segera pergi ke sebuah tempat yang ada di rumah nya. Di tempat itu dirinya pertama kali menyusui sang tuyul.


Emas itu akhirnya di pendam dalam tanah tanpa seorang pun yang tahu termasuk anaknya sendiri


"Mas, emas nya sudah aku pendam di tanah ini"


"Tak kan ada orang lain yang tau selain kita" ucap devi dengan suara parau


Kedua lansia itu saling berpelukan dan mulai menjalankan ibadah menunggu ajal mereka. Kedua insan itu benar-benar telah bertobat.

__ADS_1


__ADS_2