Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Episode 6 (gelisah)


__ADS_3

Rupanya, kejadian misterius itu terdengar sampai ke telinga Ririn dan Tumini.


"Kak, bangun kak" panggil Ririn kepada kakak nya yang sejak tadi tidur nyenyak di sampingnya.


"Ada apa sih"


"Mengapa kau mengganggu tidurku?" Tanya Tumini


Tumini segera bangun dan duduk di kasur sambil membuka matanya lebih lebar lagi.


"Tuh, lihat kak"


"Ada anak gadis meninggal secara misterius di desa kita" ucap Ririn dengan nada gugup


"Apa?" tanya Tumini setengah tak percaya


"Iya kak,"


"Ada anak gadis yang meninggal dunia secara misterius di desa ini" ucap Ririn memberi tahu kakak nya.


"Oh, iya"


"Terus, kalau dia mati secara misterius, emang ada hubungannya dengan kita?".


"Tidak kan?" ucap Tumini dengan nada ketus


"Sudahlah"


"Jangan berpikir terlalu jauh"


"Lebih baik, kita pikirkan diri sendiri dulu"


"Masih banyak hal yang harus kita kerjakan"


"Ayo, berkemaslah"


"Bukankah hari ini adalah hari pertama kontrak kita dengan Tuan Hendra sang pemilik sanggar tari?"


"Jangan buat dia kecewa dengan tarian kita" ucap Tumini kepada Ririn.


"Baiklah kak"


"Aku akan segera berkemas"


Ririn segera pergi ke meja rias dimana dirinya selalu berdandan di situ.


"Hem, sangat aneh"


"Kejadian ini baru pertama kali terjadi di desaku"


"Dulu, tak pernah terjadi hal seperti ini"


"Ada apa ya?"


"Ah, biarlah"


"Aku tak mau berpikir terlalu berat"


"Sekarang, aku harus menemui tuan hendra untuk ikut memberikan tarian terbaikku" gumam Ririn dalam hati.


Sementara itu, Tumini pergi menuju lemari penyimpanan selendang ijo pemberian dari aki mamang.


Tumini segera membuka lemari tempat penyimpanannya dan ternyata selendang ijo berada di tempat berbeda dari tempat semula dirinya menyimpan.


"Sungguh aneh"


"Mengapa selendang ijo berpindah tempat?"


"Seingatku, aku meletakkan selendang ini di rak pertama"

__ADS_1


"Mengapa sekarang berpindah di rak kedua?" gumam Tumini dalam hati


"Apakah aku memang lupa meletakkannya?"


"Ah, tidak mungkin"


"Aku benar-benar ingat kalau selendang ijo ini aku letakkan di rak pertama" ucap tumini sambil terus mengingat


Karena dirinya tak bisa mencapai titik temu, Tumini mengabaikan semuanya dan menganggap dirinya memang lupa meletakkan selendang ijo itu.


"Biarlah"


"Aku tak mau berpikir lagi"


"Bisa gila jika aku berpikir hal yang tak bisa aku jawab"


"Anggap saja aku lupa dan memang aku meletakkan selendang ijo ini di rak nomor dua" ucap Tumini sembari mengambil selendang ijo miliknya.


"Ririn, dimana kau" tanya Tumini memanggil Ririn yang sejak tadi sibuk berdandan


"Iya kak, ni aku lagi di kamar"


"Aku sedang merias wajahku" ucap Ririn lantang.


"Cepatlah"


"Kita berangkat sekarang" "Ajak Tumini kepada Ririn


"Iya kak" jawab Ririn.


Beberapa lama kemudian, Ririn segera keluar dari kamar. Meja rias miliknya tampak berantakan karena Ririn tak sempat membersihkannya.


Panggilan Tumini yang tergesa-gesa membuat Ririn tak bisa konsentrasi membersihkan meja Rias miliknya.


"Ayo, kalau begitu kits berangkat sekarang" ajak Tumini sambil menarik tangan Ririn dengan kasar.


"Oh ya, Ririn, maaf"


"Aku tak sengaja" jawab Tumini singkat.


Ririn pun menganggap angin lalu sikap kakak nya yang sedikit demi sedikit mulai berubah.


Akhirnya, mereka berdua pun berangkat menuju ke sanggar tari milik Hendra yang letaknya agak jauh dari rumah mereka.


"Kak Tumini tidak berdandan?"Tanya Ririn heran


"Ah, kakak malas berdandan"


"Biarlah aku tampil apa adanya" jawab Tumini singkat.


Ririn mengangguk saja, dan merasa heran karena wajah Tumini terlihat sangat pucat tak seperti biasanya


Sesampai di sanggar milik Hendra, Tumini dan Ririn segera menemui Hendra dan disambut dengan antusias oleh hendra dan beberapa orang yang berada di sana.


"Oh, tumini, kau sangat cantik hari ini" puji Hendra saat melihat Tumini yang saat itu berada tepat di hadapannya.


"Benarkah tuan?" tanya Tumini sedikit menggoda


"Benar, aku tidak bohong"


"Kau tampak cantik sekali" ucap hendra memuji Tumini.


"Ah, tuan bisa saja memuji"


"Terimakasih tuan hendra" ucap Tumini sambil tersenyum manis dan hal itu membuat hendra makin penasaran saja terhadap senyuman Tumini yang ditujukan kepadanya.


Ririn sedikit heran melihat Tuan hendra yang sangat tertarik dengan Tumini karena saat itu Ririn melihat Tumini tak berdandan sama sekali. Penampilan Tumini di mata Ririn seperti Tumini yang baru saja bangun tidur. Tidak berdandan layaknya penari lainnya.


"Ih, aku jadi takut"

__ADS_1


"Mengapa kak Tumini terlihat sangat cantik di mata semua orang?"


"Padahal, jelas-jelas dia tak berdandan layaknya penari kebanyakan?" gumam Ririn dalam hati


"Apakah khasiat selendang ijo yang dipakai kakak ku mulai bekerja"..?


"Jika iya, berarti benar-benar hebat selendang ijo yang dimiliki kakak ku"


"Selendang itu bisa memelet setiap lelaki yang melihat nya"


"Bahkan, sepertinya bukan lelaki saja"


"Ibu-ibu tampaknya sangat kagum melihat penampilan kakak ku hari ini" gumam Ririn dalam hati


"Hai Ririn" panggil Hendra dan hal itu membuat lamunan Ririn mengenai kakak nya menjadi buyar.


"Oh, iya tuan Hendra, ada apa?" tanya Ririn kepada Hendra.


"Mengapa kau bengong?"


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Hendra penasaran.


"Tidak apa-apa tuan"


"Saya hanya memikirkan almarhum ayah dan ibu saya" jawab Ririn berbohong


"Dengarkanlah"


"Sebentar lagi, Tuan Vladimir dari belanda akan datang"


"Kau dan Tumini harus memberikan pertunjukan yang bagus untuknya"


"Jangan sampai ada kesalahan" ucap Hendra kepada Ririn


"Baiklah Tuan"


"Saya akan memberikan tarian yang bagus untuk Tuan Vladimir" jawab Ririn sambil tersenyum manis.


"Baiklah, cepat naiklah ke panggung bersama Tumini"


"Sebentar lagi, pertunjukan tarian mu akan segera di mulai"


"Lihatlah ke arah depan panggung kursi pertama"


"Disitulah tuan Vladimir nantinya duduk melihat pertunjukan kalian"


"Jangan sampai membuat dia kecewa"


"Ingat pesan ku" ucap Hendra kepada Ririn


"Siap Tuan" jawab Ririn


Akhirnya, Ririn dan Tumini naik ke panggung untuk menunjukkan tarian terindah mereka


Tampak di kursi yang telah tersedia, Tuan Vladimir melihat tarian yang diperankan oleh Tumini dan Ririn dan tampaknya mata tuan Vladimir menjadi berbinar-binar melihat penampilan mereka berdua.


Tumini yang memakai selendang ijo untuk memelet penonton tampaknya berhasil.


Seluruh penonton yang hadir sangat antusias melihat tarian Tumini yang sangat indah gemulai.


Di sudur ruangan, sosok pria yang bernama Amin mulai mencium hawa yang kurang sedap dalam acara itu. Dirinya memandang ke arah panggung dan melihat sosok wanita pucat menari menggunakan selendang ijo.


"Tumini, mengapa wajahmu sangat pucat?"


"Anehnya, mengapa semua penonton yang melihat mu menari sangat tertarik sekali?"


"Padahal, Ririn lebih bagus tariannya dibanding kamu"


"Sepertinya, ada yang tidak beres" gumam amin dalam hati

__ADS_1


__ADS_2