Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Sebuah misteri


__ADS_3

"Citra, dimanakah kamu?"


"Tolong beri aku penjelasan tentang apa yang aku lihat di layar" ucap hendra


Namun, tak ada jawaban dari citra. Mantan kekasih hendra itu seperti hilang ditelan bumi.


Amin dan Ririn yang saat itu berada di dekat hendra juga tak mengetahui kepergian Citra karena mereka berdua seperti telah terhipnotis untuk diam sejenak.


"Hendra, memangnya apa yang kamu lihat di layar?" tanya Amin penasaran


Hendra hanya diam terpaku dan tak berani menjelaskannya kepada Amin dan Ririn karena hal itu menyangkut aib di dalam keluarga besarnya.


"Hendra, mengapa kau diam?"


"Tolonglah, beri penjelasan kepada kami" ucap Ririn


"Sudahlah"


"Aku cerita pun, kalian tidak akan mengerti" jawab Hendra ketus


Amarah hendra semakin meluap saja karena ayah yang selama ini di sayang oleh nya telah tega meregut kesucian pacarnya sendiri.


"Aku akan membuat perhitungan kepadamu ayah, setelah aku pulang dari tempat ini" gumam Hendra geram.


Setelah semua hilang tak berbekas, Hendra mengajak Amin dan Ririn untuk segera pergi dari tempat itu.


Hendra, Amin dan Ririn berlari dengan sangat cepat melewati jalanan yang berliku. Tak lama kemudian mereka berdua berada di perbatasan antara alam roh dan alam manusia.


"Teman - teman, sepertinya, kita sudah berada di perbatasan antara alam roh dan alam manusia. Apakah kalian bisa melihatnya?" tanya Hendra kepada Amin dan Ririn.


Ririn dan Amin terkejut melihat hendra berkata demikian.


"Hendra, darimana kau tau jika di tempat ini adalah perbatasan antara alam roh dan alam manusia?" tanya Amin


"Aku tidak bisa melihatnya" ucap Amin kepada hendra"


Ririn yang berada di samping Hendra juga berkata hal yang sama dengan Amin.


"Benar Hendra, aku pun juga tidak tahu kalau disini adalah tempat perbatasan antara dunia manusia dan dunia roh" ucap Ririn


"Entahlah"


"Aku juga merasa ada hal yang aneh dalam diriku"


"Aku bisa melihat yang tak bisa kalian lihat"

__ADS_1


"Aku juga tidak pernah merasakan capek lagi" ujar hendra sembari menatap ke atas langit.


Suasana langit di alam roh berbeda dengan alam manusia. Tak ada cahaya matahari. Di sana suasana seperti di sore hari dan cahaya remang-remang.


" Sudahlah"


"Yang terpenting, saat ini kita cepat sampai di alam kita" ucap Amin


"Ayo kita loncat ke arah barat"


"Kita akan sampai di alam manusia" ucap Hendra


Ririn, Amin dan Hendra segera meloncat ke arah barat dan ternyata benar. Mereka langsung berada di tanah pekuburan dimana tempat mereka berangkat pertama kali menuju alam jin.


"Kawan, kita sudah sampai di tempat semula" ucap Ririn kegirangan.


"Iya benar, aku senang sekali kita sudah kembali lagi ke alam kita"


"Tapi, mengapa wajahmu terlihat lebih tua dari kemarin?" tanya Amin kepada Ririn.


Ririn terkejut mendengar ucapan Amin dan dirinya juga memperhatikan wajah Amin Dan Hendra yang juga mengalami penuaan lebih cepat.


"Oh, kamu juga mengapa kamu lebih tua dari kemarin?"


"Tanah makam ini juga mengalami banyak perubahan" ucap Hendra sembari melihat ke sekeliling.


"Kemana kakek tua itu, apakah dia masih menjadi penjaga makam ini?" tanya Amin sambil melihat ke sekitar makam.


"Lihatlah, itu dia pak tua, dia sedang duduk di teras masjid kuburan, ayo kita kesana" Ajak hendra kepada teman-temannya.


Ririn dan Amin mengikuti arahan hendra dan mereka bertiga mulai menyapa pak tua itu.


"Pak tua, kami telah datang dari alam jin, dan kami tidak menemukan Tumini"


"Kami sudah ikhlas jika Tumini telah tiada karena kami sudah melakukan upaya yang maksimal" ucap Amin kepada pak tua itu


Pak tua itu menoleh dan tersenyum ke arah Amin dan Hendra.


Hendra dan Amin terkejut melihat perubahan pak tua itu karena wajahnya semakin tua renta tak seperti kemarin mereka bertemu.


"Aku sudah bilang kepada kalian, kalau lebih baik jangan mencari Tumini karena dia masih dalam proses hukuman"


"Jika situasi mendukung nya, dia pasti akan kembali dengan sendirinya" ucap pak tua itu memberi penjelasan.


"Kalian sangat lama sekali melakukan pencarian"

__ADS_1


"Apakah kalian merasakan perubahan pada tubuh kalian?"


"Kalian tidak sadar bahwa kalian melakukan perjalanan selama 20 tahun"


"Waktu muda kalian terbuang sia-sia" ucap pak tua itu


Ririn yang mendengar hal itu sangat terkejut dan tak percaya akan hal yang terjadi.


"Hah, aku tidak ingin tua sebelum waktunya" ucap Ririn mengelak


"Ririn, kau tak bisa mengelak"


"Lihatlah wajahmu sekarang"


"Kau seperti wanita yang sudah berusia 40 tahun" ucap pak tua itu memberi penjelasan.


Amin yang berada di samping Ririn juga merasakan hal aneh dalam tubuhnya.


Badannya dirasa mudah lelah tak seperti biasanya.


"Kalau kau tak percaya, bercerminlah sekarang" ucap kakek tua itu sambil memberikan sebuah cermin kepada mereka bertiga.


Saat Ririn menerima cermin dari pak tua itu, betapa terkejutnya Ririn karena wajahnya tidak muda lagi.


"Hah, tidak mungkin"


"Aku tidak mungkin setua ini" ucap Ririn menangis tersedu-sedu.


Amin yang berada di samping Ririn juga menggunakan kaca yang sama dengan Ririn begitu juga dengan Hendra.


Mereka berdua juga terkejut melihat perubahan wajah mereka yang menua dengan cepat tanpa mereka sadari.


"Hah, aku tidak percaya ini telah terjadi" ucap Hendra dan Amin.


"Kalian tak perlu menyesalinya"


"Jika kalian terlambat sehari saja kembali ke alam ini, kalian akan berumur 60 tahun saat sampai disini"


"Bersyukurlah kalian karena berkat Hendra, kalian cepat sampai di tempat ini"


"Usia 40 tahun adalah usia yang sudah matang dan tubuh kalian juga tidak terlalu tua"


"Hanya saja, bagi Ririn dirinya telah kehilangan masa mudanya karena posisinya sebagai wanita"


"Berbeda dengan kalian sebagai laki-laki" ucap pak tua itu

__ADS_1


__ADS_2