
Sementara itu, kabar Tumini masih penuh tanda tanya bagi teman Tumini yang saat ini berada du negeri peri. Tumini berjuang sendirian melawan ganas nya kaum jin yang mulai meminta imbalan tentang selendang ijo yang sudah terlanjur dipakainya.
Tumini berteriak dan menangis. Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah sedikit demi sedikit. Wajah Tumini pucat pasi. Tentunya tal ada satu pun yang tau dimana Tumini berada.
Saat ini, Tumini masih saja terperangkap dalam timbunan pepohonan setan yang mengikatnya. Tangannya di tahan dan di paku di sebuah pohon tangis besar yang rindang.
"Tolong aku"
"Aku ingin keluar dari sini" teriak Tumini dengan nada suara yang lemah.
Tak ada satupun makhluk yang menghiraukan tentang segala tangisan Tumini. Mereka hanya memandang Tumini dengan tatapan sinis. Sementara itu di samping kanan dan kiri Tumini juga ada manusia yang mempunyai nasib yang sama dengan nya.
"Ah, Tumini, kami sudah lama mengalami nasih buruk sama sepertimu"
"Bahkan, kami lebih dulu menerima hukuman ini jauh sebelum kau merasakan nya" ucap salah satu manusia yang bernasib sama dengannya.
Tumini dengan tatapan sedih selalu berharap dirinya lebih beruntung dari beberapa manusia yang ada di dekatnya saat itu.
"Oh ya, aku ingin bebas dari sini"
"Aku tak ingin terus berada dalam siksaan makhluk yang tak berhak menyiksa diriku" ucap Tumini
Tumini berusaha melepaskan ikatan tubuhnya dan lagi-lagi tak pernah berhasil
"Sial sekali aku"
"Mengapa aku terjebak dalam kesialan ini?"
__ADS_1
"Apa salah dan dosaku?" gumam Tumini dalam hati.
Tumini terus berpikir dan berpikir sampai tubuhnya lemah karena kehilangan banyak darah.
"Mungkin, kematian akan lebih baik bagiku dibandingkan siksaan seperti ini" ucap Tumini sambil meronta-ronta
"Hai Tumini, kau berharap mati?"
"Itu tidak akan terjadi sampai ajal mu benar benar datang"
"Di alam ini, kematian akan berjalan lambat dan panjang"
"Tak mudah kita mati"
"Tubuh kita akan selalu hidup"
"Ingat itu" ucap salah satu penghuni lama di tempat itu.
"Kalau boleh tau, kapan kau terjebak di sini?" tanya Tumini sembari meringis menahan perih.
"Asal kau tau, usia ku sudah 1000 tahun, dan aku tak bisa merasakan kematian sampai sekarang" ucap salah satu manusia sembari memandang Tumini dengan tatapan sinis
"Hah, benarkah?"
"Kau tidak makan dan minum mengapa kau bisa bertahan hidup dengan kondisi tubuh terikat?" tanya Tumini penasaran
"Ketahuilah Tumini, Tubuh ku sudah rusak, tapi jiwaku tetap terperangkap dalam tubuh yang rusak ini" ucap Salah satu manusia disamping nya.
__ADS_1
"Aku juga sudah mengalami rasa takut yang bergejolak sama dengan apa yang sekarang kau rasakan"
"Segala upaya untuk lari dari tempat ini sudah aku coba lakukan"
"Tapi, semua tak membuahkan hasil"
"Kekuatan energiku tak mampu melawan penghuni alam ini karena aku telah salah melakukan perjanjian" ucap manusia yang ada di sampinf Tumini.
Karena penasaran, Tumini mulai bertanya kepada manusia disamping nya siapa namanya.
"Kalau boleh tau, siapa namamu?" tanya Tumini penasaran
"Aku rita, dan aku lahir sebelum kamu lahir" ucap Rita sembari menatap mata Tumini dengan tatapan mata yang sangat tajam
"Ah, Rita, walau usiamu 1000 tahun, kau tampak lebih muda"
"Seperti usia 25 tahun" ucap Tumini berusaha mengamati tubuh Rita yang masih kencang tidak keriput.
Rita hanya tertawa melihat kelakukan Tumini yang masih sangat bodoh dimatanya.
"Tumini, rasa sakit ku hilang melihat tingkah mu kali ini" ucap Rita sedikit tersenyum
Tumini mengangguk saja tanpa banyak berkata
Di tempat lain yaitu di negeri peri, beberapa penghuninya mulai mengadakan pesta meriah dan tentunya peri cantik yang telah mengajak Ririn, Amin dan Hendra untuk memakai cincin ajaibnya menyangka bahwa ketiga manusia yang ditemui nya tempo hari mau menuruti semua perkataanya.
"Hem, apa yang sedang dilakukan ketiga manusia bodoh itu?" gumam peri itu
__ADS_1
"Mengapa mereka bertiga tak datang?"
"Padahal, aku telah mengundang nya kemari" gumam peri cantik itu sembari melihat ke segala arah dengan harapan ketiga manusia itu datang ikut berpesta dengan ny.