
Selendang ijo milik Tumini tetap terbang tak terkendali. Sementara itu, Rita teman Tumini tak menyadari hal itu. Rita baru menyadari jika Tumini tak ada di samping nya setelah beberapa lama kemudian.
Melihat Tumini tak ada di dekatnya, Rita berusaha mencari dan mengejar kawan nya itu. Selama ini dalam mengarungi cobaan hidup nya, Rita selalu bersama Tumini dan mendampingi Tumini dalam menari.
"Tumini, dimana kamu" Rita mulai memanggil Tumini dan terlihat Tumini berlari mengejar selendangnya.
Tak ingin ketinggalan terlalu jauh, Rita berlari mengejar teman nya itu sampai jauh.
Sementara itu, Doni juga berlari ke arah yang sama. Hingga pada akhirnya Selendang ijo milik Tumini jatuh di persimpangan jalan.
Jalan yang dilewati ternyata adalah jalan perbatasan dimana alam dedemit dan alam manusia berada.
Jalanan itu memancarkan warna merah dan hijau sehingga membuat mata Tumini dan Doni silau.
"Warna nya seperti sore hari"
"Padahal, tadi aku berasa malam hari disana" guman Doni dalam hati.
Sementara itu, Rita telah sampai menyusul Tumini dan bertanya kepadanya mengapa sampai berlari sejauh ini.
"Tumini, ada apa dengan kamu?"
"Mengapa kau lari sampai ke sini?"
"Apa yang kau cari?" tanya Rita penasaran
Tumini memandang Rita dengan rasa cemas.
"Rita, selendang ijo ku terlepas dan menuju ke arah sini" ucap Tumini jujur.
"Hah, selendang ijo itu alat untuk kita menari"
"Kalau begitu, ayo kita cari" ucap Rita sambil menarik tangan Tumini.
"Itu, lihatlah" ucap Rita sambil menunjuk ke arah selatan dimana selendang ijo tersebut terbang ke sana.
"Iya, ayo kita kejar" ucap Tumini bersemangat
Saat hampir memperoleh selendang ijo miliknya, tiba-tiba suasana terasa gelap, dan yang ada hanya suara jangkrik dan anjing yang melonglong.
"Dimanakah kita?" tanya Tumini sembari melihat ke sekitar.
"Hah, sepertinya kita kembali ke alam dunia"
"Tapi, alam dunia ini berbeda dengan alam dunia yang kita singgahi" ucap Rita sambil melihat ke sekitar.
__ADS_1
"Yah, aku dapat lagi" ucap Tumini sambil menggenggam selendang ijo yang tadi terbang tak tentu arah. Selendang ijo itu rupanya memancarkan warna yang sangat menyilaukan mata Tumini dan Rita.
"Rita, tak biasanya selendang ijo milikku liar seperti ini"
"Biasanya, dia tak menunjukkan hal-hal aneh" ucap Tumini sambil mengamati selendang ijo yang dimiliki nya itu.
Rita mulai menghitung dan otaknya mulai digunakan untuk berpikir.
Tampaknya, Rita mengingat sesuatu yang membuat Tumini terkejut.
"Tumini, kita sudah melewati 100 tahun pengabdian. Harusnya, kita memberikan tumbal darah perawan untuk selendang ini" ucap Rita mengingatkan Tumini.
"Oh, ya"
"Aku lupa" jawab Tumini
"Tindakan selendang ijo rupanya benar adanya"
"Dia membawa kita kemari untuk mencari darah perawan itu" ucap Tumini sambil memandang ke arah Rita.
Sementara itu, jiwa Doni juga berada di samping mereka berdua. Hanya Rita dan Tumini yang bisa melihat jiwa Doni berada.
Selama ratusan tahun, Rita dan Tumini telah menguasai berbagai ilmu yang dimiliki bangsa dedemit, sehingga mereka bisa merasakan aura jiwa manusia yang tersesat.
Sebenarnya, Tumini dan Rita menjadi buronan para jin yang berada di alam jin, karena telah mencuri serbuk sakti mereka.
Namun, karena permasalahan ini sudah lama, sedangkan Rita dan Tumini tak bisa ditemukan, akhirnya bangsa jin sudah mengabaikan nya dan mencari mangsa baru selain mereka.
Setelah situasi mulai tenang, Tumini memandang ke arah Jiwa Doni yang sejak tadi kebingungan.
"Hai pemuda, kau juga ada di tempat ini?" tanya Tumini sambil melihat Doni yang sepertinya kebingungan.
Doni tak sempat menjawab pertanyaan Tumini, karena setelah Tumini menanyakan hal itu, muncul Sandra dan ustadz Rosi membawa obor sambil memanggil nama Doni.
"Doni..."
"Doni...."
"Dimanakah kamu?" panggil Sandra tak henti-hentinya.
Doni berusaha menjawab panggilan dari Sandra dan Ustadz Rosi namun sia-sia. Sandra dan ustadz Rosi tak melihat keberadaan Jiwa Doni karena bentuknya yang halus seperti asap.
Tumini dan Rita yang melihat hal itu berusaha membantu. Dengan kekuatan yang dimiliki Tumini, Tumini membawa Jiwa Doni mendekat ke arah Sandra dan ustadz Rosi.
Wujud Tumini dan Rita tak berwujud sebagai manusia. Mereka berbentuk mirip seperti asap dan hanya orang yang memiliki kemampuan lebih yang tahu keberadaan mereka berdua. Tumini dan Rita memakai tubuh gaib, karena jika tidak, mereka akan merasakan kesakitan yang amat sangat karena usia mereka telah melampaui batas di alam dunia.
__ADS_1
"Tumini, aku mencium bau perawan"
"Sepertinya, dia cocok untuk tumbal kita" ucap Rita kepada Tumini.
Tumini hanya mengangguk sambil mengamati Sandra yang terlihat sangat cantik. Tumini tak menyadari jika Sandra masih cucu nya sendiri.
Sementara itu, dari kejauhan, Sandra berbincang dengan ustadz Rosi
"Ustadz, sepertinya kita sudah melaksanakan arahan dari kyai yusuf"
"Kalau begitu, ayo kita kembali"
"Siapa tahu, Doni sudah kembali ke dalam tubuhnya" ucap Sandra kepada ustadz Rosi.
"Baiklah Sandra, kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah kyai yusuf" ucap Ustadz Rosi
Sandra dan Ustadz Rosi kembali ke kediaman kyai yusuf sambil membawa obor mereka. Sementara itu, Tumini dan Rita mengikuti mereka dari belakang sambil membawa jiwa Doni yang mulai membisu
Tak lama kemudian, Sandra dan ustadz Rosi telah sampai ke tempat kyai Yusuf. Kedatangan mereka disambut oleh kyai yusuf dengan senyuman.
"Nak, apakah kau sudah menyelesaikan semua tugas mu?" tanya kyai yusuf kepada Sandra
"Sudah kyai" jawab Sandra pendek.
"Oh ya bagus"
.
"Bawa obor kalian kemari" ucap kyai yusuf sambil melihat obor yang dipegang oleh Sandra.
Saat kyai yusuf mulai memegang obor yang dibawa Sandra, kyai yusuf mulai merasakan aura mistis yang amat sangat.
Saat itu, dirinya menyadari bahwa ada makhluk lain yang mengikuti Sandra dan ustadz Rosi.
"Sandra, diamlah kau di situ" ucap kyai yusuf tiba-tiba
Sandra terkejut melihat ekpresi kyai yusuf yang berubah drastis menatap nya. Seperti tatapan penuh curiga.
"Ada apa kyai?" tanya Sandra penasaran.
Kyai yusuf langsung memanjatkan doa dan sambil memejamkan kedua matanya.
Suasana hening, tak ada suara hewan apapun di sana.
Sementara itu, Tumini dan Rita mulai ketakutan karena mereka merasakan bahwa kyai yusuf mengetahui keberadaan mereka. Jiwa Doni yang ada di tangan Tumini akhirnya terlepas dan kembali ke dalam tubuh Doni yang sebenarnya. Tak menunggu waktu lama, raga manusia Doni yang sejak tadi melamun mulai pingsan dan setengah jam kemudian, Doni mulai bisa bangun.
__ADS_1