
Mereka bertiga akhirnya berjalan menyusuri jalanan, dan tak lama kemudian Ririn melihat satu perumahan warga.
Rumahnya terlihat suram karena tak ada lampu penerangan di sana.
Tuan hendra, ayo kita tanya pada penghuni rumah itu" ucap Ririn sembari menunjuk rumah yang berada tepat di hadapannya.
"Oke, ayo"! jawab hendra disusul Amin yang berada di belakang hendra.
Akhirnya mereka bertiga pergi menuju ke rumah itu.
Sesampai di rumah itu, tak ada satu orang pun yang berada di halaman rumah. Kondisi rumah sepi seperti tak berpenghuni. Hendra melihat ke sekeliling. Tampak tumbuhan aneh yang menghiasi isi rumah.
Tumbuhan aneh itu sangat berbeda dengan tumbuhan yang ada di alam dunia. Bentuk daunnya seperti tangan manusia, dan bunganya seperti kepala manusia.
"Ah, tumbuhan apa ini?"
"Aneh sekali" ucap Ririn sambil mengeluarkan keringat dingin karena rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
"Tuan, aku takut"
"Aku ingin pulang saja" ucap Ririn dengan suara bergetar.
Hendra memandang Ririn dengan perasaan sedikit marah.
"Ririn, kau tidak kasihan melihat kakak mu Tumini terperangkap di tempat ini?"
"Ayo kita cari bersama-sama"
"Kau tak perlu takut"
"Ada aku dan Amin di sini" ucap Hendra memberi semangat pada Ririn.
"Baiklah Tuan, maaf"
"Aku sangat takut sekali" ucap Ririn sambil menyeka keringat nya yang mulai bercuran
Hendra segera menuju ke pintu depan rumah, dan mencoba mengucapkan salam berharap bertemu dengan penghuni rumah itu.
"Permisi, apakah ada orang di dalam?" ucap Hendra memberi salam kepada penghuni rumah.
Tak ada jawaban apapun dari dalam rumah dan hal itu membuat hendra penasaran.
__ADS_1
Hendra mencoba mengetuk pintu dan mengucapkan salam untuk kedua kalinya, dan lagi-lagi tak ada makhluk yang memberikan jawaban.
Hingga akhirnya, hendra merasa kesal dan melempar botol air minum yang memang sudah habis diminum nya selama perjalanan tadi
Secara tak sengaja, botol air minum milik hendra tepat mengenai tanaman yang ada di sekitar rumah.
Tanaman itu bergoyang sangat kencang seakan marah terhadap ulah hendra yang membuang botol air minum sebarangan.
"Aduh...hikz..."
"Hemmmm......." tiba-tiba terdengar lirih suara erangan kesakitan yang muncul di sekitar tanaman yang baru saja terkena lemparan botol air minum milik hendra.
"Hah, suara apakah itu?"
"Darimana asalnya."?
"Sejak tadi aku tak melihat apapun di sini"
"Mengapa tiba-tiba ada suara aneh muncul?" tanya hendra penasaran.
Ririn dan Amin yang berada di situ juga turut penasaran karena sejak tadi mereka tidak melihat sosok makhluk pun.
Mereka akhirnya melihat ke sekeliling dan Ririn melihat sebuah tanaman aneh bergerak-gerak tak tentu arah. Daun nya yang hijau berubah warna menjadi merah darah dan hal itu membuat Ririn menjerit ketakutan
"Lihatlah"
"Daun itu semula hijau, mengapa berubah warna menjadi merah dan seperti ada darah mengalir ?" tanya Ririn penasaran.
Keringat Ririn mulai bercucuran melihat fenomena aneh yang telah terjadi.
Hendra akhirnya melihat ke arah tanaman yang ditunjuk oleh Ririn.
"Hem, benar"
"Tanaman apa ini" ucap Hendra sambil melangkah menuju ke arah tanaman itu.
"Hendra, jangan kau dekati tanaman itu" ucap Amin
"Kita tidak tahu bahaya apa yang akan mengancam kita nantinya"
"Sepertinya, tanaman itu bukan tanaman biasa"
__ADS_1
"Ingat"
"Kita sekarang berada di alam gaib"
"Kita tak boleh sembarangan memegang benda apapun di sini"
"Apakah kau ingat tujuan utama kita?"
"Kita hanya mencari Tumini dan setelah kita menemukan Tumini, kita harus secepatnya pergi dari sini" ucap Amin mencoba mengingatkan Hendra.
"Waktu kita tidak banyak"
"Kita hanya diberi waktu selama satu minggu saja oleh bapak tua itu"
"Apakah kau ingat?" Amin mencoba mengingatkan kembali apa yang telah di sarankan oleh pak tua yang mereka temui di tanah pekuburan sebelum akhirnya mereka sampai di tempat itu.
"Ya, aku ingat" jawab Hendra pendek
"Tapi, sejak tadi, di alam ini tak ada tanda-tanda dimana Tumini berada".
"Siapa tau, dengan mencoba menyentuh tanaman itu, kita bisa tahu keberadaan Tumini saat ini" jawab Hendra sambil terus mendekati tanaman itu tanpa menghiraukan larangan dari Amin.
"Ya sudahlah"
"Kalau begitu, cepat ambil tanaman itu"
"Setelah kau ambil, kita ikuti saja sinyal tongkat pemberian dari pak tua itu"
"Ririn,mana tongkat nya?" tanya Amin kepada Ririn
"Oh, tongkat nya ada di tas rangsel ku"
"Sebentar aku ambil" jawab Ririn sambil membuka tas ransel nya.
Setelah mendapatkan tongkat di dalam ransel nya, Ririn segera menyerahkan tongkat itu kepada Amin.
Tampak cahaya dalam tongkat itu mengarah ke arah timur.
"Ririn, sepertinya, cahaya tongkat mengarahkan kita untuk pergi ke arah timur"
"Mungkin, Tumini ada di sana" ucap Amin dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Iya, benar"
"Tuan Hendra, ayo cepat waktu kita tak banyak" ucap Ririn memanggil Hendra yang sejak tadi berjalan ke arah tanaman berdarah itu.