
Sesampai di musholla, Ririn tersadar dengan sendirinya. Dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat suasana di musholla yang sedikit gelap tanpa adanya lampu penerangan.
"Dimana aku?" ucap Ririn dengan raut muka cemas.
"Ririn, sekarang kau berada di tempat yang aman" jawab Amin
"Lalu, dimana kakak ku?"
"Kak, Tumini...." ucap Ririn dengan suara lirih berusaha memanggil kakak nya.
Tak ada jawaban apapun dan hal itu membuat Ririn semakin cemas dan kebingungan.
Tak lama kemudian, pak tua yang saat itu berada tepat di samping Ririn berkata
"Tumini masih dalam perjalanan menuju kebenaran"
"Mungkin, pencarian kalian akan berlangsung lama" jawab pak tua singkat
"Hah, dari mana bapak tau tentang kak Tumini?"
"Apakah ada cara agar kak Tumini bisa segera ditemukan?" tanya Ririn penasaran
Pak tua terdiam dan tak menjawab sepatah katapun. Sepertinya ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan olehnya.
"Ah, kita bertiga benar-benar sial" ucap hendra sambil mengusap keningnya.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Amin sambil memandang ke arah hendra.
"Kita cari Tumini sampai ketemu" ucap Hendra. Setelah mendapatkan kesepakatan bersama mereka bertiga pun kembali menuju ke kuburan dimana pertama kali Tumini hilang di sana.
Sebelum pergi, pak tua yang tak dikenal itu kembali menjelaskan bahwa Tumini tak akan bisa mereka temukan dalam waktu dekat.
"Anak muda, jangan sia-siakan waktu kalian"
"Lebih baik, kalian menjalani kehidupan yang sewajarnya, karena wanita yang kalian cari telah berada di alam yang sulit kalian jamah" ujar pak tua itu.
"Tidak pak, aku akan tetap mencari keberadaan kakak ku" jawab Ririn tak mempedulikan ucapan pak Tua itu.
"Hem, kalau begitu aku akan memberikan perlindungan untuk kalian agar tak terpengaruh efek buruk dari makhluk gaib" ucap pak tua sambil mengeluarkan sebuah tongkat.
Tongkat itu berwarna hijau dan ada lambang ular di ujungnya.
"Bawalah tongkat ini di sepanjang jalan menuju pencarian. Saat melakukan pencarian kalian jangan ada satupun yang menoleh kebelakang" ucap pak Tua tersebut mengingatkan.
"Hem, kenapa pak?" tiba-tiba Amin memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian tak boleh banyak tanya" ucap pak tua sambil melihat ke sekeliling.
"Pak tua, sejak tadi kami memanggilmu dengan nama pak tua"
"Siapakah namamu sebenarnya dan mengapa kau berada di tempat ini sendirian?"
"Selain kami bertiga dan engkau, tak ada lagi satupun penduduk yang beribadah di musolla ini" ucap Amin penasaran.
Mendengar ucapan Amin, pak tua itu terdiam sejenak. Matanya menerawang ke atas seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
Beberapa lama kemudian, pak tua itu segera menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Amin karena sejak tadi Amin terlihat sangat penasaran terhadap dirinya.
"Namaku Jamhari"
"Aku juru kunci makam ini" ucap jamhari sambil melihat ke arah Ririn, Amin dan Hendra.
"Hem, rupanya kau adalah juru kunci makam ini"
"Kalian boleh pergi sekarang"
"Jika telah bertemu dengan Tumini, kalian harus segera kembali ke tempat ini"
"Aku akan memantau terus dari sini" ucap Jamhari dengan nada serius.
"Tidak nak" tiba-tiba jamhari menolak permintaan Amin
"Kenapa pak?"
"Bukankah engkau tau tentang wilayah ini? tanya Amin penasaran
"Aku telah berjanji kepada penguasa alam yang akan kalian kunjungi bahwa aku tak boleh ikut campur dengan urusan kalian" ucap Jamhari memberi penjelasan.
"Oh ya, ketahuilah"
"alam yang akan kalian singgahi kali ini adalah alam dedemit dimana semua makhluk dedemit yang buruk rupa tinggal di sana"
"Tumini saat ini sedang berada dalam belenggu para dedemit itu, dan cepatlah pergi mencarinya sekarang sebelum terlambat" ucap Jamhari mengingatkan.
"Baiklah pak, aku akan mencari Tumini sampai dapat" ucap Hendra tanpa banyak bertanya lagi.
"Ririn, Amin, ayolah"
"Mengapa kalian melamun"
"Tumini dalam bahaya, kita harus segera menolongnya" ucap Hendra
__ADS_1
"Baiklah hendra" ucap Amin.
"Ayo"! ajak amin sembari menggenggam tangan Ririn yang saat itu terlihat gemetar ketakutan.
Akhirnya mereka bertiga pergi menuju ke alama dedemit. Jamhari hanya mengantar mereka di perbatasan alam, dan tanda perbatasan sudah jelas mereka ketahui yaitu sebuah bongkahan batu besar bertuliskan makam keramat raden jaya kusuma.
"Jangan lupa pesanku"
"Selalu Ingatlah perbatasan antara alam dedemit yang akan kalian kunjungi dengan alam manusia, yaitu ketika kalian nanti akan kembali ke alam manusia lagi, kembalilah melewati batu besar ini" ucap jamhari mencoba mengingatkan kembali karena jamhari kawatir jika tak diingatkan, mereka bertiga akan tersesat dan menjadi penduduk dedemit selamanya.
"Baiklah"
"Kami mengerti pak"
"Kami berangkat dulu ya?"
"Terimakasih engkau telah memberitahu kami" jawab Ririn
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Jamhari menghilang dari tempat itu dan suasana yang tadinya siang hari berubah menjadi sore hari.
Suasana terlihat remang-remang
Bunga-bunga terlihat indah di tempat itu. Pepohonan juga tertata rapi. Suasana seperti di tengah desa yang maju dan nyaman.
"Hem, inikah tempat kak Tumini di culik?" tanya Ririn penasaran
"Suasana tempat ini sangat indah"
"Baru kali ini aku melihatnya"
"Tapi, apakah kalian merasakan hal aneh?" tanya ririn kepada hendra dan Amin.
"Aneh kenapa emangnya?" tanya hendra sembari melihat ke sekeliling.
"Sejak tadi kita berjalan menyusuri tempat ini, kita tak menemui satu penduduk pun" ucap Ririn
Hendra berusaha melihat sekeliling begitu juga dengan amin.
"Benar katamu"
"Aku tak melihat seorang pun disini" ucap Hendra.
"Ah, ayo kita jalan terus, siapa tau di depan ada perumahan warga"
"Kita tanyakan kepada mereka dimana keberadaan Tumini kakak mu" ucap Hendra
__ADS_1