Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Perpindahan Alam


__ADS_3

Amin, Hendra dan Ririn mulai masuk ke dalam cahaya putih itu dan hal aneh pun terjadi. Tak ada suara apapun yang mereka dengar dalam cahaya itu.


Ririn berteriak begitu juga dengan Amin. Hendra hanya diam seribu bahasa. Namun, teriakan mereka berdua seakan tak terdengar sama sekali.


Suara mereka terkunci oleh perputaran cahaya asap yang membawa mereka pergi dari alam peri.


Tangan mereka saling menggenggam dan tak ada yang lepas. Cengkeraman tangan Hendra sangat kuat dan membuat Amin dan Ririn tenang dibuatnya.


"Aku heran mengapa Hendra menjadi sekuat ini" gumam Amin dalam hati.


Amin adalah teman Hendra sejak kecil dan tahu kemampuan Hendra harusnya di bawah dirinya.


"Ah, aku malas berpikir lagi. Sekarang aku harus mengikuti apa kemauan Hendra"


"Aku juga tak ingin berlama-lama di alam yang penuh misteri ini" ucap Amin sambil berusaha melihat keadaan.


Cahaya makin meredup dan mereka bertiga terpental ke tempar kosong.


"Tempat apa lagi ini?" tanya Amin penasaran


"Sepertinya alam ini lebih aman dari alam yang kita singgahi sebelum nya" ucap Ririn sembari melihat ke sekeliling.


"Oh ya benar"


"Alam ini lebih tenang dan damai"


"Apakah kita sudah berada di alam manusia?" tanya Ririn penasaran


Hendra melihat ke sekeliling dan dirinya menemukan sosok kakek nya yang sudah meninggal.

__ADS_1


Aneh nya, kakek yang ditemui nya memiliki wajah yang masih muda sebaya dengan nya.


Hendra masih bisa mengingat wajah kakek nya saat muda karena waktu kecil, hendra sempat melihat foto kakek nya saat muda dulu.


"Kakek" panggil Hendra dengan tersenyum kegirangan


"Apakah kau kakek ku yang sudah meninggal?" tanya Hendra penasaran


Kakek hendra hanya melihat ke arah hendra tanpa menjawab sepatah katapun. Pakaian yang dikenakan kakek nya berwarna putih bersih. Tampak beberapa selir wanita cantik melayaninya.


Aneh nya, tak ada nenek nya di samping kakek nya. Padahal, seingat hendra, nenek hendra meninggal bersama dengan nenek nya.


Hendra menyadari jika dirinya berada di alam ruh. Alam dimana semua ruh berada di sana.


"Amin, Ririn, benar kata peri cantik itu"


"Aku bisa melihat kakek ku yang telah lama meninggal" ucap Hendra sambil memandang ke arah lain dengan harapan dirinya bisa menemui mantan kekasih nya yang dulu telah meninggal.


"Ya, kita benar-benar berada di alam ruh" ucap Ririn


"Jika kak Tumini sudah meninggal, pastinya dia sudah berada disini"


"Aku tak ingin kak Tumini meninggal" ucap Ririn sembari memandang ke sekitarnya.


"Ririn, kakek ku hanya memandang ke arahku dan dia tam berkata apapun"


"Mengapa dia sangat cuek kepadaku ya?" tanya hendra berusaha menyapa kakek nya kembali.


Amin yang juga berada di situ mencoba menjawab

__ADS_1


"Hendra, mungkin saja kakek mu tak tahu kalau kau cucunya"


"Coba saja kau mendekat ke arahnya" ucap Amin kepada Hendra.


Hendra pun mengiyakan ucapan amin dan pergi lebih mendekat lagi ke arah kakek nya.


"Kakek" panggil hendra mengulang memanggul kakek nya untuk kedua kalinya.


Mendengar panggilan kedua, akhirnya kakek nya mulai menberi respon dengan senyuman. Hendra yang melihat senyuman kakek nya berusaha menggapai kakek nya namun tak bisa.


Seperti ada penghalang antara merrka berdua.


"Amin, mengapa aku tak bisa menyentuh kakek ku?"


"Padahal jarak kami sangatlah dekat" ucap hendra penasaran


"Hendra, sepertinya alam kita dan kakek sudah berbeda"


"Jika kau memaksa untuk mendekatinya, bisa jadi kau akan masuk ke alam roh lebih jauh lagi dan tak bisa kembali ke dunia"


"Ayo hendra, lebih baik kita pulang saja" ucap amin kepada Hendra.


"Tunggu Amin"


"Mumpung aku berada di alam roh, aku juga ingin bertemu mantan kekasih ku yang sudah meninggal"


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya" ucap Hendra sambil melihat ke sekeliling.


Amin hanya terdiam mendengar ucapan Hendra dan memberi kesempatan pada hendra untuk melaksanakan keinginan terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2