Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Menghasilkan


__ADS_3

Tampaknya, nenek jin sudah menunggu Tumini sejak tadi. Sedangkan Rita, asyik melihat pohon Sawon dan buah yang bergelantungan.


Air liur Rita tak hentinya menetes melihat buah yang ada di pohon Sawon. Namun, rasa ingin memakan buahnya di tahan oleh Rita karena dirinya belum bertanya pada nenek jin, apa yang akan terjadi jika Rita memakan buah pohon Sawon.


Dengan berlari kecil, Tumini memanggil Nenek jin


"Nenek, aku sudah menemukan persembahan nenek moyang ku" ucap Tumini sambil memberikan sebuah bungkusan kecil kepada nenek jin


"Oh, kau sudah berhasil nak"


"Mana?"


"Serahkan kepadaku" ucap nenek jin sambil melihat ke arah Tumini.


Tumini segera memberikan bungkusan itu kepada nenek jin dan dalam beberapa menit kemudian, nenek jin menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa nek?"


"Mengapa kau menggelengkan kepalamu?"


"Apakah ada hal yang sangat berbahaya bagiku?" tanya Tumini penasaran.


"Tumini, perjanjian leluhurmu sudah sangat keterlaluan"

__ADS_1


"Mereka memberikan tumbal berupa anak keturunan nya yang pertama kali lahir untuk menjadi teman dedemit sepanjang umurnya" ucap nenek jin kepada Tumini


"Hah, benarkah?"


"Mengapa harus aku?" tanya Tumini penasaran


"ya, karena kau adalah anak pertama dari orang tuamu"


"Yang melakukan perjanjian dengan dedemit adalah nenek buyut kamu" ucap nenek jin sambil membuka bungkusan kecil yang didapat dari Tumini.


"Tumini, aku akan menjelaskan sekali lagi"


"Perjanjian ini terjadi sekitar 200 tahun yang lalu, dimana nenek buyut kamu melakukan perjanjian dengan seorang dedemit nakal"


"Perjanjiannya adalah nenek buyutmu akan menjadi bupati di desa mu, namun imbalannya adalah semua keturunan pertama dari mereka, akan mempunyai aura dedemit yang sangar kuat"


"Dengan begitu, kau akan mencari mereka"


"Selendang ijo hanyalah perantara mu bertemu dengan dedemit kebo ijo, sehingga dia leluasa membelenggumu sampai sekarang" ucap nenek jin


"Sayangnya, dedemit nakal yang melakukan perjanjian dengan nenek buyut mu itu sudah mati karena suatu hal" ucap nenek jin sambil memandang ke arah Tumini.


"Mati karena apa nek?" tanya Tumini penasaran

__ADS_1


" Entahlah, aku tak tahu"


"Yang pasti, ini ada hubungannya dengan perjanjian ini"


"Ada sosok kyai sakti yang berusaha melepas perjanjian ini, namun gagal"


"Imbalannya adalah kematian dedemit yang melakukan perjanjian, tapi energi mistis tetap menempel pada anak keturunan pertama nenek buyut kamu"


"Hanya saja, energi itu mulai melemah sekarang" ucap nenek jin


"Oh begitu"


"Aku ingin melepas nya nek" ucap Tumini dengan nada memohon. Tumini sudah merasa hidup nya tak berarti lagi semenjak kematian tak pernah datang kepadanya.


Padahal, usia 100 tahun ke atas adalah usia manusia tertua jika dirinya hidup di dunia. Rasa bosan selalu menghampiri Tumini begitu juga dengan Rita.


"Baiklah, aku akan membantumu" jawab nenek jin


Nenek jin segera meniup bungkusan kecil itu dan membuangnya ke arah timur. Saat tumbal itu terbuang, terdengar suara letusan yang sangat dahsyat hingga memekikkan telinga makhluk jin yang berada di sekitar pohon Sawon


"Hah, suaranya sangat keras sekali nek" ucap Tumini sambil menutup telinganya.


"Iya, energi kebo ijo tak bisa mengendalikan mu lagi"

__ADS_1


"Sekarang, selendang ijo milikmu sudah menjadi hak mu, tanpa ada campur tangan makhluk lain" ucap nenek jin sambil tersenyum lepas.


"Nek, apakah selendang ijo milikku masih mempunyai kekuatan gaib, tanpa ada campur tangan kebo ijo?" tanya Tumini semakin penasaran


__ADS_2