Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Kehidupan baru


__ADS_3

Dalam waktu sekejab, tubuh tumini dan Rita telah sampai di alam manusia. Merekabsaat ini berada di hutan dimana terdapat sungai yang mengalir di sekitarnya.


Tak ada perubahan yang terjadi pada wajah mereka. Mereka terlihat tetap muda sama dengan saat mereka berada di alam jin.


"Lihatlah Tumini, kau tetap sama seperti waktu kita di alam jin"


"Coba kau berkaca sekarang" ucap Rita sambil tersenyum lebar


"Tumini mencari sumber air dan melihat wajahnya disana"


Dengan tersenyum senang, Tumini berjingkrak layak nya seperti anak kecil.


"Rita, benar katamu"


"Wajahku masih terlihat seperti dulu"


"Aku ingin secepatnya pulang dan bertemu dengan Ririn sekarang" ucap Tumini kepada Rita


"Baiklah.."


"Aku akan ikut dengan mu"


"Aku tak punya siapa-siapa sekarang"


"Sanak saudaraku pastinya telah meninggal" ucap Rita kepada Tumini.


Akhirnya, Tumini membawa Rita pulang ke rumahnya. Tumini masih ingat betul hutan itu sehingga Tumini tak bingung mencari jalan pulang. Berbeda dengan Rita yang daerah itu sudah asing baginya.


Tumini dan Rita berjalan menyusuri sungai-sungai dan sampailah di perkampungan dimana Tumini dulu tinggal.


Suasana Perkampungan itu berbeda saat Tumini muda dulu. Saat Tumini melihat tokp mode, dirinya melihat tahun yang berbeda 30 tahun.


Tumini terkejut melihat hal itu.


"Rita, waktu kita sudah hilang 30 tahun, bagaimanakah kondisi adikku Ririn ya?" ucap Tumini bertanya -tanya.


"Kalau sudah 30 tahun berarti ririn dan kawan kawan mu saat uni sudah berusia 50 tahun" ucap Rita


"Hah, benarkah?"


"Aku tak percaya" ucap Tumini sembari melihat di sekeliling.


Pakaian yang dikenakan warga yang masih muda dan seusia dengannya tampaknya berbeda dengan pakaian yang dipakai Tumini.


"Rita lihatlah"


"Pakaian mereka tampak aneh bagiku"


"Mereka berpakaian kurang sopan" ucap Tumini.


"Sudahlah Tumini, ayo kita sekarang pulang untuk menemui adik mu Ririn" ucap Rita.


"Baiklah" ucap Tumini sambil berjalan cepat menuju rumah Ririn.

__ADS_1


Tampak terlihat rumah yang masih sederhana. Rumah nya tetap seperti dulu, tak ada perubahan. Hanya saja rumah itu memiliki lampu penerangan yang lebih baik dibandingkan jaman dulu.


Tumini dan Rita mulai mengetuk pintu. Tampak anak kecil berusia sekitar 10 tahun mulai membukakan pintu rumah itu.


"Mama, ada tamu dua orang yang sangat cantik" ucap anak laki-laki itu


"Iya, siapa dia?" kata Ririn sambil bergegas menuju ke ruang tamu.


Betapa terkejut nya Ririn ketika melihat sosok wanita yang datang.


"Hah, kak Tumini?"


"Benarkah ini kamu?" tanya Ririn seolah tak percaya dengan apa yang telah terjadi.


"Aku kira kau sudah meninggal kak Tumini"


"Aku, Amin dan hendra sudah mencarimu hingga ke alam lain, dan kami tak mendapatkan hasil" ucap Ririn sambil menangis tersedu-sedu.


"Untungnya aku bisa kembali"


"Hanya saja, aku kembali saat usia ku sudah mencapai 40 tahun" ucap Ririn kepada Tumini.


"Ririn, kau sampai rela mencariku?"tanya Tumini seakan tak percaya.


"Iya kak, aku pergi mencarimu bersama Amin dan Hendra"


"Setelah aku berhasil pulang ke alam manusia, aku menikah dengan Amin di usia ku yang sudah 40 tahun"


"Kalau hendra, dia tetap membujang sampai sekarang" ucap Ririn panjang lebar.


"Oh, jadi putra kecil ini anakmu dan Amin?" tanya Tumini penasaran.


"Iya kak"


"Sekarang, Amin masih bekerja dan mungkin nanti sore dia pulang.


Saat berbincang dengan Tumini, Ririn baru sadar jika wajah Tumini masih saja seperti saat usianya 20 tahun.


"Kak, kenapa wajahmu tetap seperti dulu?" tanya Ririn keheranan.


Ririn, ceritanya sangat panjang" ucap Tumini sembari menghela nafasnya.


"Aku akan menceritakan nya saat hatiku sudah tenang kembali" ucap Tumini sambil duduk di kursi ruang tamu yang sudah tersedia.


Saat Tumini dan Rita sedang duduk dan menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh Ririn, tiba-tiba saja Hendra datang ke rumah Ririn untuk memberikan suatu undangan.


"Oh, bang hendra, kau datang rupanya"


"Apakah kau ingat siapa dia?" tanya Ririn sambil menatap hendra


Hendra terkejut melihat Tumini yang masih segar bugar dan tetap sama seperti dulu.


"Kau tumini?" tanya Hendra penasaran

__ADS_1


"Iya, aku Tumini tuan" ucap Tumini sembari tersenyum ke arah Hendra.


"Kau tetap seperti dulu"


"Apakah mataku tak salah melihatmu?" ucap Hendra masih tak percaya.


"Sudahlah hendra, aku tak kan bisa menceritakan semua hal ini kepadamu"


"Sekarang, aku sudah kembali"


"Mengapa kau belum menikah?" tanya Tumini penasaran


"Tumini, sepulang aku mencari keberadaan mu, tubuhku seperti bukan manusia normal seperti yang lain. Tangan ku sudah menghitam dan mengeluarkan bau busuk"


"Tak kan ada yang betah hidup dengan ku"


"Mungkin, aku tak kan menikah selamanya" ucap Hendra dengan nada serius.


Tumini hanya terdiam mendengar penjelasan Hendra. Dirinya merasa bersalah karena akibat hendra mencarinya, Hendra menjadi ikut mengalami nasib sial seperti dirinya.


Pertemuan antara kakak beradik dan pertemanan beda ruang dan waktu rupanya cukup unik. Di akhir cerita Ririn hidup sampai usia 70 tahun dan meninggal dunia, disusul hendra dan Amin yang meninggal dunia tak lama setelah Ririn meninggal.


Kehidupan silih berganti layaknya manusia normal lainnya. Aki mamang pun sudah damai di alam kuburnya.


Sedangkan sosok Tumini dan Rita tetap hidup dengan wajah yang tetap saja saat mereka berusia 20 tahun.


Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menghilangkan identitas dan membuat nama baru.


Lambat laun, Tumini dan Rita semakin menderita karena walau wajah mereka tetap muda, namun organ tulang mereka tetap menua seiring bertambahnya usia.


Tumini dan Rita selalu merasakan kesakitan yang luar biasa karena organ tubuh menua namun mereka berdua tak bisa mati.


Mereka juga telah menikah berkali kali dan pasangan mereka juga tua pada akhirnya.


"Tumini, hukuman kita di dunia ini sama saja rasanya dengan hukuman saat kita berada di negeri jin" ucap Rita


"Mungkin takdir kita bukan disini lagi"


"Ayo kita menari di perbatasan itu" ucap Rita sambil memberikan selendang ijo milik Tumini yang ternyata ada di tangam Rita sejak dulu.


"Hah, darimana kau dapatkan?" tanya Tumini


"Kau tak perlu banyak tanya"


"Ayo ikut aku" ucap Rita sembari menggandeng tangan Tumini.


Akhirnya, Mereka pergi ke suatu hutan dan menghilang.


Konon katanya, Tumini dan Rita menjadi wanita penghibur di perbatasan negeri dedemit dan negeri manusia. Saat di negeri dedemit rasa sakit mereka akan hilang karena mereka tak menggunakan tubuh manusia nya, namun saat mereka keluar dari negeri dedemit, mereka sering merintih di hutan itu.


Suara mereka sering terdengar di keheningan malam.


Tamat...

__ADS_1


.


__ADS_2