Pelet Selendang Ijo

Pelet Selendang Ijo
Kebenaran


__ADS_3

Bu rusdi hanya melihat-lihat saja. Saat bu devi pergi ke sebuah lorong aneh yang ada di sekitar rumah devi, tiba-tiba ustadz Janu memanggil nya.


"Bu rusdi, jangan pergi ke situ" ucap ustadz Janu pada Bu rusdi


"Loh, kenapa ustadz?"


"Aku penasaran saja"


"Saat aku berkunjung ke rumah ini, aku sempat singgah di tempat ini" ucap bu rusdi pada ustadz Janu.


"Sudahlah bu Rusdi"


"Lebih baik jangan"


"Bu rusdi tunggu di halaman saja"


"Biar aku yang membersihkan tempat ini" ucap Ustadz Janu pada bu rusdi.


"Baiklah ustadz" jawab bu rusdi pendek


Bu rusdi akhirnya kembali ke halaman dengan membawa anak devi, sedangkan ustadz Janu pergi ke tempat dimana saat rumah itu berdiri sang tuyul berada di sana.

__ADS_1


"Alangkah baiknya, aku menutup tabir ini, agar seluruh warga tak tahu jika devi mempunyai pesugihan tuyul" gumam ustadz Janu dalam hati


Ustadz Janu pun memejamkan matanya ,dan melantunkan ayat suci alqur an. Keajaiban pun terjadi. Tiba-tiba saja, lorong kecil itu tertutup dengan sendirinya dan tak terlihat oleh mata telanjang.


Jalan menuju ke negeri gaib telah di tutup oleh ustadz Janu dengan doa-doa yang dipanjatkan.


Ustadz Janu sedikit lega melihat keadaan sudah kembali seperti semula. Pembersihan puing-puing rumah devi akhirnya berjalan dengan lancar tanpa hambatan.


Tak lupa, ustadz Jany berpesan kepada ketua RT setempat untuk memberikan sumbangan pada keluarga Devi yang saat ini membutuhkan perhatian mereka.


Setelah urusan nya telah selesai, ustadz janu pergi ke desa nya yang tak jauh dari desa devi. Dia pamit pada warga dan berpesan pada mereka agar tidak ada warga yang menyimpang dari ajaran agama.


Warga desa mulai menanggapi ceramah ustadz janu yang singkat itu tanpa mengetahui bahwa yang dimaksud ustadz Janu adalah Devi.


"Bu rusdi" panggil suami devi yang baru saja selesai membantu warga membersihkan puing-puing sisa rumahnya


"Oh ya pak" jawab bu rusdi


"Makasih banyak ya bu, sudah mau menjaga anak saya"


"Ya, gak apa-apa pak"

__ADS_1


"Saya ikhlas membantu" jawab Bu rusdi sambil menyerahkan anak devi kepada suami devi yang saat itu berada tepat di depannya.


Setelah berterimakasih pada bu rusdi, suami devi pergi ke puskesmas untuk melihat keadaan devi yang terbaring lemah di puskesmas.


Semua warga pulang ke tempat masing-masing.


Beberapa minggu kemudian, setelah hancurnya rumah devi, beberapa warga yang terbiasa kehilangan uangnya tak ada yang mengeluh lagi.


"Bu rusdi, apakah kau akhir-akhir ini sering kehilangan uang?" tanya salah satu tetangga nya yang kebetulan belanja di toko sayur nya.


"Aku jarang kehilangan uang"


"Bahkan tidak pernah lagi"


"Apakah kau juga begitu?" tanya bu rusdi balik tanya


"Ya, aku juga gak pernah kehilangan uang"


"Biasanya, dua hari sekali atau tiga hari sekali, uangku sering hilang walau hanya seratus ribu rupiah" ujar salah satu tetangga yang berbelanja di tokonya.


"Wah, kalau begitu aku jadi penasaran"

__ADS_1


"Aku mau mengumpulkan para tetangga yang dulu pernah mengeluhkan kehilangan uangnya"


"Apakah sekarang mereka juga bernasib sama seperti kita" ucap bu rusdi pada tetangganya.


__ADS_2