Pencarian Maura

Pencarian Maura
Karma Nyata...


__ADS_3

Di sebuah ruangan minimalis, sepasang pasangan paruh baya tampak saling membisu satu sama lain. Terlihat sang wanita menunduk dengan memilin ujung bajunya, sedangkan sang pria menatap tajam sejak tadi. Hampir dua puluh menit berlalu, tetapi salah satu dari mereka tak ada berniat untuk membuka suara, hingga sang pria merasa jengah, lalu mengeluarkan sindirannya.


''Sudah kuberi waktu tapi ternyata tidak ada itikad baik darimu."


Divia tak memberi respon apapun, bahkan kepalanya tertunduk semakin dalam.


''Oo, aku lupa jika kau tak se-update dulu mengenai berita terkini atau mungkin ... Sekarang, kau juga tidak tau trend busana bulan ini?"


''Ckckck, kasihan sekali kau, Divia. Kemana Divia yang selalu angkuh, keras kepala dan selalu merasa benar. Divia yang selalu menganggap segala keputusannya terbaik tanpa memikirkan dampak di kemudian hari."


''Kemana semua kesombonganmu, Divia. Kemana? Keluarkan sekarang juga! Aku ingin melihatnya."


Suara Raichand semakin lama semakin meninggi hingga membuat Divia beringsut ketakutan. Air mata sejak berusaha ditahan luruh sudah. Dengan tangan bergetar, dia berusaha menyentuh tangan kekar sang suami yang tengah terkepal kuat di atas meja. Namun sayang, sebelum tangannya mencapai tujuan, Raichand menarik kasar tangannya sendiri. Alhasil, tangan Divia berakhir menggantung begitu saja.


''Ma-maaf, Pap ... Ma-maafkan aku, hiks-hiks," ujarnya dengan suara bergetar sambil memeluk tangannya sendiri.


''Aku minta maaf." Suaranya tidak terdengar jelas akibat tangis yang semakin menjadi, air mata pun semakin deras membanjiri wajah pucatnya.


''Apa semua kata maafmu bisa mengembalikan semuanya, hah? Jawab!" Bentakan Raichand menggema di ruang minimalis itu. Divia hanya beringsut mundur dengan isak tangis yang semakin jelas.


Seorang penjaga yang mendengar pertengkaran itu pun segera memasuki ruangan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.


''Hentikan air mata buayamu itu, Divia. Aku muak melihatnya. Tiga puluh menit sudah aku di sini, aku datang hanya ingin memberikan ini...." Raichand menyodorkan sebuah amplop putih ke hadapan istrinya.


Divia menegang di tempat saat mengetahui logo dan tulisan yang tertera pada surat resmi tersebut.

__ADS_1


''Ap-apa maksud papa?" tanyanya dengan air mata berderai.


''Kau bisa baca, 'kan? Baca sendiri,'' titahnya ketus.


Divia meraih benda itu dengan tangan bergetar.


''Aku sudah menandatanganinya, tinggal tanda tanganmu saja. Semua berkas juga sudah aku urus, juga sudah di tangan pengacara. Setelah tanda tangan kau bubuhkan, kita resmi bercerai. Kita akan bertemu di pengadilan.''


Divia menggeleng keras, tidak percaya dengan semua ini. Dia tidak menyangka suaminya mengambil keputusan sebesar itu. Sungguh, Divia tidak bisa menerima ini begitu saja. Dia masih sangat mencintai suaminya.


''Aku tidak akan menandatangani surat ini." Divia meremas kuat amplop putih yang ada di tangannya. "Aku tidak ingin berpisah denganmu, Pap. Maafkan aku ... Aku masih mencintaimu.''


Dengan berani, Divia menggenggam kuat tangan itu.


''Percuma kau bersikeras menolak, Divia. Kau tandan tangan ataupun tidak, perceraian kita tetap sah karena aku telah menjatuhkan talak tiga kepadamu."


Ungkapan itu bagaikan sambaran petir yang menyambar tubuhnya. Divia mematung di tempat, kata 'talak tiga' terus terngiang di telinganya.


''Tidak! Aku tidak terima," teriak Divia dengan mata memerah.


''Aku lebih baik mati jika tidak bisa bersamamu, Raichand. Aku masih mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon tarik semua ucapan talakmu padaku."


Raichand menggeleng tak percaya, bagaimana mungkin seseorang menarik kembali ucapan yang sudah terlanjur terlontar. Dia berpikir jika wanita ini sudah tidak waras.


''Tidak bisa, Divia. Kata talak terlanjur terucap tak mungkin ditarik kembali. Hubungan kita sampai di sini."

__ADS_1


''Untuk anak-anak tidak usah pikirkan mereka. Emran dan Emru suda dewasa, pasti mereka bisa memahami semua ini," sambungnya dengan beranjak dari tempatnya.


''Tidak, Raichand. Aku lebih baik mati." Divia bersikeras dengan keputusannya.


Wanita itu langsung menghampiri penjaga yang ada di sana, kemudian mengambil pelatuk yang terselip di antara bajunya.


''Bu Divia, letakkan benda itu. Sangat berbahaya, Bu."


Petugas pun merasa panik, hendak merebut kembali miliknya. Namun, ancaman Divia mengurungkan niatnya.


''Jangan mendekat atau aku menembak kepalaku sendiri," ujarnya dengan mengarahkan benda itu ke arah pelipisnya.


''Baik, saya tidak akan mendekat. Tapi tolong letakkan benda itu," pinta si petugas dengan nada memohon, kemudian dia beralih menatap Raichand yang tampak terlihat santai.


''Tuan, tolong cegah istri Anda."


''Biarkan saja. Itu hanya aktingnya," ucapnya santai, "kau tidak usah banyak drama, Divia. Meskipun kau melakukan ini, tidak akan bisa merubah apapun. Aku juga tidak bisa membatalkan perceraian ini karena aku dan kau tak bisa bersama lagi, bagaimanapun caranya."


''Jadi, terima saja kenyataan." Pria itupun memilih meninggalkan tempat itu. Muak rasanya melihat drama yang diciptakan mantan istrinya.


''Jika kau menganggap ini hanya drama. Baiklah, akan kutunjukkan dramaku, Raichand. Ini juga sebagai bukti jika aku memang tidak bisa hidup tanpamu.''


Tak berapa lama terdengar suara tembakan keras yang membuat semua orang yang ada di sana menegang di tempat.


"Divia!"

__ADS_1


__ADS_2