
Divia buru-buru pergi dari tempat persembunyiannya sebelum ada yang melihat. Namun nahas, mantel panjangnya menyambar sebuah vas bunga, hingga membuat benda itu terjatuh dan berbunyi nyaring di lantai.
PRANK!
Emru yang baru sampai di tengah tangga terpaksa menghentikan langkahnya ketika mendengar suara menggema di malam sunyi itu.
"Siapa kamu?''
Pria itu kembali menuju lantai dasar dengan tergesa. Dia takut jika ada pencuri atau penyusup memasuki rumahnya.
''Keluar kau, jangan bersembunyi!" suara keras Emru menggelegar di ruangan itu.
Matanya awas mengamati keadaan sekitar. Dilihatnya, sebuah vas bunga terbelah beberapa bagian karena terjatuh dari tempat yang lumayan tinggi.
''Mati aku! Jangan sampai ketahuan!" batin Divia cemas.
Dia semakin merapatkan tubuhnya di balik nakas yang ada di dekat putranya.
''Tidak usah bersembunyi, aku pasti menemukanmu," kata Emru dengan nada dinginnya. Dia melangkah perlahan hingga hampir mendekati tempat persembunyian ibunya.
''Meong .... Meong....''
__ADS_1
Seekor kucing putih milik Divia tiba-tiba muncul dari arah belakang pria itu, kemudian kucing tersebut menempati nakas tempat vas bunga berada.
''Ck, kukira siapa? Ternyata kau," gerutu Emru sambil berlalu kembali ke kamarnya.
Divia segera keluar dari tempatnya dengan menghembuskan nafas lega.
''Katty, kau akan mendapatkan imbalan karena telah membantuku," gumamnya pada kucing kesayangannya.
Wanita itu segera berlari menuju pintu keluar, tanpa lupa menguncinya kembali. Dia bergegas ke bagasi untuk mengambil mobil yang biasa dia pakai, lalu membawanya keluar melewati gerbang samping agar tidak ketahuan para penjaga.
''Akhirnya, aku bisa keluar dengan aman."
...----------------...
Dia menatap sinis ke arah pria yang tengah duduk santai di kursi putarnya sambil menghisap cerutu yang ada di tangannya.
''Tante terlambat tiga puluh menit."
''Kau kira mudah keluar dini hari begini. Untuk sampai kemari butuh perjuangan yang luar biasa, aku harus mengendap-endap agar tidak ketahuan," sahut Divia masih dengan nada yang sama.
Tawa menggelegar memenuhi gedung tua itu, tempat yang disebut markas untuk Angelo.
__ADS_1
''Maafkan aku, Tante. Karena ini memang mendadak. Kita harus segera menyusun rencana, mengingat waktu kita semakin mepet."
''Tante duduklah!"
Divia menurut, kemudian duduk pada sofa yang berada tak jauh darinya. Angelo meminta semua anak buahnya masuk karena orang yang ditunggu telah tiba.
Divia sedikit terkejut saat melihat beberapa pria berbadan tinggi besar berwajah bengis berdiri tak jauh darinya. Mereka lebih tepat dipanggil algojo dari pada anak buah Angelo. Wanita itu diam-diam bergidik ngeri, namun dia berusaha bersikap sebiasa mungkin.
Angelo mulai menyusun strategi dan membagi tugas pada masing-masing orang. Ada beberapa anak buahnya yang dia tempatkan sebagai seorang pelayan pesta, sisanya mengikuti arahan pria itu. Dan semua anak buahnya mengangguk mengerti tanda memahami tugas mereka.
''Tante Divia memerankan seorang penyelamat Maura tapi arahkan wanita kepadaku, paham, 'kan, Tante?"
Divia mengangguk paham tapi kegelisahan tergambar jelas di wajahnya.
''Tapi, An ... Apa kau yakin yang kita lakukan ini tidak akan ketahuan. Anak buah Bramasta Haydar sangatlah banyak."
''Apa tidak ada cara lain, selain ini. Ini ... Ini terlalu berbahaya. Lagipula, ini juga perbuatan kriminal." Divia mengutarakan pendapatnya yang sedari tadi dia pendam.
''Kau tenanglah, Tante. Selama kita bermain aman, kita tidak akan tertangkap. Maka dari itu aku buat kekacauan ini, begitu mereka yang ada di sana sibuk menyelamatkan diri. Kita grasak target utama," ucap Angelo berusaha menenangkan wanita baya itu.
''Berarti aku harus menyamar?"
__ADS_1
"Tepat sekali."
''Tapi kau akan membantuku, 'kan, An? Seandainya terjadi apa-apa padaku.''