
"Hallo, saya ada tugas untukmu," titah Divia pada seseorang melalui sambungan teleponnya.
"Awasi semua gerak-gerik Emran, putraku. Kemanapun dan dimanapun selalu ikuti dia. Laporkan kepadaku bersama siapa saja dia ber-interkasi. Dan satu lagi, jangan sampai ketahuan! Paham!"
"Baik, Nyonya."
"Bagus. Kutunggu hasil kerjamu."
Sambungan pun terputus.
Meskipun begitu, tidak menyurutkan rasa penasaran dalam hatinya. Siapa kira-kira wanita itu. Bagaimana dia bisa membuat putranya yang dingin itu, tergila-gila padanya. Hanya pertanyaan itu yang selalu berkelebat dalam hatinya selama beberapa hari belakangan ini.
Divia melangkah kesana kemari, tak bisa menghilangkan keresahannya.
"Apa yang kau lakukan, Mam?" tanya Raichand menghampiri istrinya.
"Bukan apa-apa," jawabnya singkat.
''Lantas, kenapa mama mondar-mandir persis setrikaan seperti itu?"
Divia menghela nafas.
"Aku meminta orang untuk menyelidiki Emran," jawab Divia dengan nada rendahnya.
"Mam, mam.... Kau ini." Raichand tak habis pikir dengan istrinya.
"Kenapa? Apa tidak boleh aku penasaran? Aku hanya ingin tahu saja, Pap. Wanita seperti apa yang di sukai anak-anak kita. Wanita baik-baik, bukan? Sesuai kriteria, belum? Keluarga kita keluarga terhormat, pilih mantu harus dari kalangan baik-baik, meskipun tidak sepadan dengan kita."
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka," lanjut Divia.
"Terbaik menurut mama, belum tentu terbaik untuk anak-anak," balas Raichand
"Papa selalu seperti itu. Tak pernah mau mendukung apa yang mama lakukan. Semua selalu salah di mata papa."
Karena kesal, Divia berlalu begitu saja meninggalkan sang suami.
"Dan satu lagi, jangan pernah coba-coba ikut campur sama urusan mama," kata Divia dengan penuh penekanan sebelum menghilang di balik pintu.
Raichand hanya bisa menghembuskan nafas kasar, istrinya benar-benar keras kepala.
...----------------...
"Hallo, Maura cantik," sapa Rayyan saat melihat gadis pujaannya baru selesai melakukan tugasnya.
"Hmmm."
Hanya gumaman yang keluar dari mulut gadis itu. Malas rasanya meladeni pria seperti dokter kandungan sengklek ini.
"Katanya libur, kok masuk. Kangen ya sama abang ganteng,'' kata Rayyan dengan menaik-turunkan alisnya.
Maura merotasi bola matanya. Kenapa hidupnya harus dipertemukan dengan pria aneh seperti dia, mending Emran kemana-mana, pikirnya.
"Kok jadi keinget pria dingin itu, sih," batin Maura.
__ADS_1
"Apasih, gak jelas." Maura menatap aneh pria disampingnya.
"Tebakanku benar, 'kan, Ra? Ngaku aja, kamu. Gak usah sok jual mahal segala. Aku malah senang kalau kamu mengakuinya.'' Rayyan terus mengekor kemanapun langkah Maura hingga terhenti di depan ruang ganti.
"Udah ngocehnya? Sana balik ke tempatmu," kesal Maura.
Akan tetapi, Rayyan hanya bergeming. Pria itu malah menyedekapkan tangannya di dada.
"Aku mau ganti baju, Rayyan," kata Maura dengan merapatkan giginya menahan kesal.
Sepertinya, dia harus memupuk rasa sabarnya untuk menghadapi pria ini.
"Masuklah, biar aku jaga di sini. Aku rela menjadi satpammu," ucap Rayyan dengan santainya.
"Huh! Terserah!''
BHAK!!
Maura memilih masuk, lalu menutup pintu dengan kasar berharap pria itu segera pergi dari sana.
"Bisa darting nganggur aku ngadepin dia," gerutu Maura.
Setelah selesai dengan penampilannya, Maura membuka pintu secara perlahan, mengintip untuk memastikan apakah masih ada Rayyan atau tidak.
"Astaga, dia benar-benar jadi satpam gue," keluh Maura dalam hati, ketika melihat Rayyan tengah bersandar pada dinding dengan posisi membelakangi.
Dia menyeringai ketika sebuah ide terlintas dalam otaknya.
"Gue kerjain lu." Maura berucap tanpa suara.
Wanita itu melangkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara, sesekali melirik ke belakang takut aksinya jahilnya ketahuan.
Bruk!
"Aww," pekik Maura ketika jidatnya membentur sesuatu yang keras.
Maura mendongak saat menatap tubuh jangkung yang menjulang di hadapannya.
"Eh, Dokter Emran," cengir Maura.
Dia segera menegakkan tubuhnya kembali, bersikap sebiasa mungkin.
"Sedang apa?"
Suara berat itu sukses membuat bulu kuduk Maura berdiri.
"Tidak. Sa-saya per-mi-si...."
Sepertinya, mata elang Emran terlalu jeli untuk memahami apa yang dilakukan Maura. Sangat jelas, jika dia ingin menghindar dari pria yang berada tak jauh darinya.
"Kau ingin menghindarinya?" tanya Emran menunjuk Rayyan yang masih setia dengan posisinya.
Maura mengangguk pelan.
__ADS_1
''Ya sudah, ayoo....''
Tanpa aba-aba, Emran langsung menarik tangan gadis itu menjauh, sebelum Rayyan menyadari keberadaan mereka.
Maura hanya bisa menatap tangannya yang tengah di genggam lembut oleh pria dingin, yang diam-diam sudah mencuri perhatiannya. Entah kenapa, hal sekecil ini saja berhasil membuat jantungnya berdetak abnormal dari sebelumnya.
Andai waktu bisa dihentikan, ingin rasanya lebih lama berada di posisi ini.
"Sudah aman." Suara berat Emran berhasil menyentak lamunan Maura
"Eh, iya. Te-ri-ma kasih, Dokter."
Emran yang mendengar itu langsung menatap tajam gadis di depannya.
"Ma-maksudku, Emran,'' lirih Maura.
Maura terkesiap saat merasakan sebuah tangan kekar menyentuh lembut keningnya. Dia berusaha menyeka keringat yang berada di sana.
"Seperti ini lebih baik. Kamu terlihat semakin cantik."
Semburat kemerahan terlukis di pipi putih Maura, kegugupan kembali melanda. Perlakuan Emran berhasil membuatnya salah tingkah
Dia memalingkan muka untuk menyembunyikan itu.
"Sangat menggemaskan," batin Emran.
Tanpa Emran tahu, dari kejauhan ada seseorang yang merekam semua perbuatannya sedari tadi.
...----------------...
''Kenapa lama sekali?" Rayyan mengalihkan perhatiannya dari game online yang sedari tadi dimainkannya.
Karena merasa khawatir, pria itu menghampiri pintu, lalu mengetuknya pelan.
Tok-tok-tok....
"Ra, kamu gak apa-apa, 'kan?''
Hening....
"Ra," panggilnya lagi.
Tok-tok-tok
Tetap hening....
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Rayyan memberanikan diri untuk memutar knop pintu, kemudian membukanya secara perlahan.
"Maura, masih lama, 'kah?"
Pria itu melongokkan kepalanya ke dalam yang ternyata kosong.
"Si*l, dia ngerjain gue," umpatnya kesal.
__ADS_1
Sejurus kemudian, senyum tersungging dari bibir manisnya.
"Dasar gadis aneh. Kamu kira setelah ini aku bakal menjauhimu, Ra. Tentu tidak! justru aku semakin penasaran denganmu."