
"Katakan! Ada kejadian apa saja selama aku pergi." Emran memanggil salah satu bawahan yang ia percaya untuk memantau situasi rumah sakit.
Pria baya yang tidak memahami maksud Emran hanya terdiam bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang tidak ada hal-hal serius selama pimpinan mereka pergi.
"Tidak ada apa-apa, Dokter. Semua berjalan lancar, tidak ada protes yang berarti terhadap pelayanan rumah sakit ini, bahkan kebanyakan pasien dan keluarga pasien merasa sangat puas," jawabnya apa adanya.
"Aku kurang puas dengan jawaban dari mulutmu. Katakan! Ada peristiwa penting apa selama aku pergi?" cecar Emran.
Pria di depannya berusaha mengingat-ingat hingga dia teringat akan sesuatu.
"Tidak ada, hanya kunjungan Nona Divia seminggu setelah bapak pergi."
"Mama," gumamnya.
"Ada perlu apa mama kemari?"
Pria itu menjelaskan mengenai tujuan Divia yang mencari Dokter pindahan bernama Maura serta menanyakan alamatnya. Emran mendengarkan dengan seksama, dalam hatinya menerka-nerka, apa mungkin perubahan Maura ada hubungannya dengan mamanya.
"Ya sudah, kau boleh pergi."
Si pria menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan sang pimpinan.
"Aku harus menemui Maura untuk menanyakan hal ini. Jika memang benar mama menemuinya pasti mama sudah mengancam dan menekan gadis itu agar dia menjauhiku."
"Tidak, menemui Maura urusan nanti. Setelah semuanya jelas. Lebih baik aku menemui mama dulu, baru bertemu Maura. Ya, itu tindakan yang tepat."
Pria berahang tegas nan tampan beranjak dari tempatnya, bergegas pulang ke rumah untuk meluruskan masalahnya.
Empat puluh lima menit kemudian, Emran tiba di kediaman megahnya. Dengan langkah lebar, dia segera menuju ke sebuah tempat dimana sang ibu menghabiskan waktunya.
"Tumben sudah pulang, Kak. Sini duduk sama mama." Divia menyambut riang kedatangan putra sulungnya.
Tanpa banyak berucap, Emran menuruti perintah ibunya dengan wajah yang terlihat semakin dingin.
Divia belum menyadari akan perubahan raut wajah putranya. Wanita yang selalu tampil elegan itu masih santai membolak-balikan majalah fashion di tangannya.
__ADS_1
"Apa mau mama?" tanya Emran datar.
"Maksudmu?" Divia balik bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Apa mau mama? Sampai mama repot-repot mendatangi tempat tinggal Maura," cecar Emran.
Divia hanya tersenyum sinis. "Dia mengadu rupanya."
"Bukan dia, tapi aku yang mencari tahu. Setiap kali, aku mendekati Maura. Gadis itu selalu menghindar. Setiap kali aku memaksa, ada saja alasan yang keluar dari mulutnya. Apa yang sudah mama katakan padanya?"
Divia meletakkan buku tebal itu pada tempatnya, lalu beralih menatap intens putranya.
"Kenapa kau begitu yakin jika dia masih gadis, Kak?"
"Apa maksud mama?"
"Mama pernah memergokinya jalan dengan pria tua seumuran papamu. Dengan tanpa rasa malu, mereka saling merangkul mesra di depan umum."
"Sayangnya, aku tidak percaya dengan bualan mama. Ini pasti akal-akalan mama untuk menghasut ku agar aku membenci Maura. Aku tidak terpengaruh," tegas Emran.
"Mama bohong!"
"Baiklah, akan mama tunjukkan." Divia beranjak dari tempat duduknya.
Tak berselang lama, wanita itu kembali dengan sebuah amplop coklat di tangannya.
"Kau bisa melihat sendiri."
Emran langsung melihat isinya. Rahangnya mengeras ketika melihat foto-foto di dalamnya. Tapi, dia tidak memercayai begitu saja. Hal itu bisa ditanyakan langsung, nanti saat bertemu Maura.
Divia menyeringai puas saat melihat wajah marah putranya. Dia sangat yakin, setelah ini Emran akan menjauhi, bahkan membenci wanita itu.
"Apa yang mama katakan padanya?" Emran mengulang pertanyaannya.
"Mama hanya berusaha menyadarkan. Jika Upik Abu murahan seperti dia tidak pantas menjadi bagian keluarga kita."
__ADS_1
''Tidak sepantasnya mama berkata seperti itu." Pria itu menyela cepat ucapan sang ibu.
"Pantas-pantas saja karena memang kenyataannya begitu."
"Aku kecewa sama mama," kata Emran dengan suara meninggi, hingga suaranya terdengar di ruang kerja Raichand.
"Mama selalu ikut campur urusan ku dengan Emru. Entah kriteria wanita seperti apa yang mama inginkan. Semua tidak pernah benar di mata mama. Aku tekankan pada mama, ini yang terakhir mama ikut campur urusan percintaan kami."
Setelah berkata seperti itu, Emran pergi begitu saja meninggalkan ibunya.
"Ada apa ini?" tanya Raichand yang baru tiba di tempat itu.
''Papa urus wanita papa."
Raichand paham jika putranya saat ini sedang marah besar. Jadi, dia membiarkan saja Emran berkata seperti itu. Dia memilih menghampiri sang istri.
"Papa, lihat. Dia berani membentak mama gara-gara mama menemui wanita itu. Dia memang membawa pengaruh buruk untuk putra kita." Divia berusaha menghasut sang suami.
"Papa sudah bosan menasehati mama. Berulang kali papa bilang, tidak usah ikut campur tapi mama selalu seperti ini, keras kepala. Sekarang mama rasakan sendirian akibatnya. Ini baru satu putramu, Ma. Jika mama tidak berubah, siap-siap saja mama menerima kemarahan putramu satunya lagi."
Kekesalan Divia semakin bertambah saat tidak mendapat dukungan dari sang suami. Wanita itu hanya bisa menahan rasa kesalnya di dalam hati.
''Pikirkan baik-baik nasehat papa. Jangan masuk telinga kanan keluar telinga kiri," sambungnya sebelum pergi meninggalkan sang istri.
"Si*lan!"
...----------------...
Emran segera menancap gasnya menuju tempat tinggal Maura. Karena dia tahu jika gadis itu ada jadwal malam hari ini. Dia akan menuntut penjelasan pada Maura tentang foto-foto itu. Emran sangat yakin, Maura bukanlah wanita seperti yang di tuduhkan ibunya.
Pria itu menghentikan mobilnya tak jauh dari area apartemen ketika melihat gadis itu tampak terburu-buru menyetop salah seorang tukang ojek yang melintas. Dari raut wajahnya, dia terlihat sangat panik. Tanpa berfikir panjang, Emran mengikuti kemana gadis itu akan pergi. Dahinya mengerut dalam ketika Maura pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja. Hanya saja, dia tidak mengenakan pakaian dinas, melainkan pakaian santai.
Dengan langkah lebar, Emran membuntuti gadis itu, hingga dia melihat Maura menemui seorang pria berusia lima puluh tahunan. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena posisinya terlalu jauh. Tapi dia bisa melihat, gadis pujaannya tampak mengangguk-angguk diiringi senyum manisnya. Seketika, dia teringat mengenai foto-foto tadi tapi dengan pria yang berbeda.
"Apa benar, Maura wanita yang seperti itu?" terkanya dalam hati.
__ADS_1