
"Kak, tarik kedua sudut bibirmu! berpura-puralah bahagia, meski kau tak menginginkan ini terjadi," bisik Emru pada saudara kembarnya.
''Aku bukan dirimu yang bisa hidup dalam kepura-puraan," balas Emran dengan wajah dinginnya.
Suasana meriah di sebuah ballroom hotel bintang lima seakan tak berarti bagi pria itu. Jiwanya terasa kosong, meskipun dia berada di tengah keramaian. Yang ada di dalam hatinya hanya satu nama.
"Maura," geramnya tertahan.
Pada saat melihat wanita yang beberapa hari belakangan mengganggu pikirannya, tengah mengamit mesra lengan seorang pria. Mata memerah dengan gigi bergemeretak demi menahan gejolak emosi yang tiba-tiba melanda.
''Kau melihat apa sih, Kak?" tanya Emru yang merasa penasaran, kemudian dia mengikuti arah pandang sang kakak.
''Ooo, jadi itu gadis yang bernama Maura."
"Hmmm,. lumayan cantik pantas kau tak bisa lepas dari pesonanya, Kak. Tapi sayang, dia sudah punya peng ... Hemmppt." Perkataannya terpotong karena Emran segera menyumpal mulut cerewet adik kembarnya dengan sepotong kue yang ada di dekatnya, lalu pria itu melenggang pergi begitu saja tanpa merasa bersalah.
''Dasar Beruang kutub! Main sumpal mulut orang seenaknya." Emru mengumpat perbuatan kakaknya.
''Tapi enak juga, pintar kau memilih kue." Dia melahap kembali potongan kue yang ada di tangannya.
...----------------...
''Dokter Maura," sapa seorang wanita berhijab.
''Eh, Dokter Resti," sambut Maura tak kalah ramah saat bertemu rekan kerjanya dulu, ketika bekerja di rumah sakit keluarga Emran.
''Apa kabar? Lama tidak bertemu sudah bawa gandengan aja."
"Kabar baik, kamu sendiri?" Maura balik bertanya sambil bercipika-cipiki seperti perempuan pada umumnya yang lama tidak bertemu.
''Oh, iya. Perkenalkan Andrian, kekasihku." Dia berlanjut memperkenalkan pria yang bersamanya.
''Ya ampun ... Tampan sekali," puji wanita berhijab itu, "kukira, dulu kau menjalin hubungan dengan Dokter Emran karena kalian terlihat sering bersama."
Maura tersenyum masam mendengarnya. "Tidak kami hanya berteman."
''Perkenalkan juga, dia Rion suamiku." Resti juga memperkenalkan pria yang bersamanya.
Maura hanya menunjukkan senyum kecil diiringi anggukan pelan untuk menyapa.
"Oh ya, di mana si kecil? Apa tidak ikut?"
Kedua wanita itu masih asik dengan perbincangannya, hingga suara seorang pria baya memutus obrolan mereka.
"Aku dipanggil ayahku, aku ke sana dulu."
Resti mengangguk mempersilahkan kepergian temannya.
Wanita itu menghampiri sang ayah tanpa melepas tautan tangannya pada lengan pria yang bersamanya.
''Ayah akan merestui jika kalian menjalin hubungan serius," celetuk Bram melihat pemandangan itu.
__ADS_1
''Ish, apa sih, Yah? Gak usah mulai," sungutnya.
''Kau lihat, Drian. Dia ini mirip ibunya suka sekali merajuk," ujar Bram diiringi tawanya.
''Tidak usah menggodaku terus, Yah. Ada apa ayah memanggilku?"
''Ayah akan mengenalkanmu pada rekan-rekan ayah." ujar Bram.
''Tapi, Yah...."
''Tidak apa-apa. Ayo....''
Maura berganti mengaitkan tangannya pada lengan sang ayah, lalu berjalan mengikuti langkah pria itu.
''Drian, pinjam kekasihmu dulu ya," ucap Bram dengan melirik ke arah putrinya.
"Silahkan, Tuan."
Pada saat Maura tengah menemani Bram berbincang dengan salah satu rekan bisnisnya beserta istrinya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri dengan ucapan sinisnya.
''Ooo, apa sekarang profesimu beralih menjadi simpanan pria kaya, Nona?" Divia menyeringai.
Dia berencana mempermalukan Maura di depan banyak orang tanpa mengetahui siapa sebenarnya pria baya yang bersama gadis itu.
Bram yang mendengar hal itu pun langsung mengepalkan tangannya kuat. Dia tidak terima putrinya dihina seperti itu. Sungguh, dia ingin menyangkal tapi dia juga ingin melihat seberapa jauh perbuatan Divia.
''Nyonya Divia, apa Anda tidak mengetahui jika dia...." Istri dari rekan bisnis Bram mencoba memberitahu.
''Hemm, sayang sekali," ucap wanita baya itu.
''Baguslah jika kau sadar diri," sahut Divia cepat.
''Anda pasti ingin memberitahukan jika gadis ini adalah simpanan Tuan Bram, 'kan? Iya itu benar dari kedekatan mereka saja sudah sangat terlihat." Divia melirik sinis tautan tangan Maura pada lengan sang ayah.
''Anda salah paham, Nyonya...."
Lagi dan lagi, istri dari salah seorang rekan bisnis Bram mencoba memberitahu tapi peringatan dari suaminya yang mengatakan 'tidak usah ikut campur' mengurungkan niatnya.
''Salah paham bagaimana? Kenyataan ada di depan mata masih mau menyangkal." Divia terkekeh sinis.
''Jangan-jangan, kau masuk rumah sakit itu karena menjual tubuhmu padanya," ucap Divia dengan tanpa perasaan.
''Beruntung, putraku sudah aku jauhkan dari wanita murahan sepertimu." Wanita baya itu masih melanjutkan ucapannya tanpa ia tahu jika amarah Bram sudah berkobar hingga sampai ke ubun-ubun.
''Dan aku sangat berterima kasih padamu Nyonya Divia yang terhormat. Karena telah menjauhkannya dari putramu dan keluargamu. Aku akan menggantikan dengan keluarga yang lebih baik," sahut Bram dengan sarkas.
''Ooo, apa kau akan menikahinya, Tuan? Silahkan ambil saja wanita murahan itu. Tapi, aku sarankan, jangan kau pelihara dia! Bila perlu buang saja."
''Anton!"
Bram berteriak memanggil asistennya tanpa menghiraukan hasutan Divia.
__ADS_1
''Saya, Tuan."
''Putuskan semua hubungan kerja samaku dengan perusahaan keluarga ini, tanpa terkecuali. Tarik juga semua semua sahamku yang ada pada mereka, aku tidak peduli dengan akibat yang harus mereka tanggung." Setelah mengatakan itu, Bram menarik tangan putrinya untuk meninggalkan tempat itu.
''Siap, Tuan."
Divia yang mendengar hal itu pun dibuat tidak percaya.
''Saya tidak menyangka, Tuan Bram. Hanya karena wanita rendahan kau melakukan itu semua pada keluargaku."
''Diamlah, Nyonya!" Suara Anton menggelar memenuhi ruangan itu, hingga banyak pasang mata menyorot ke arah mereka.
''Saya sarankan, hentikan hinaan Anda pada putri Tuan Bram. Sebelum beliau bertindak yang lebih kejam dari ini," ucapnya dengan nada penuh peringatan.
''Apa?!"
''Wanita yang kau anggap rendahan, yang tidak lain Maura Putri Riyana adalah putri kandung Tuan Bram."
...----------------...
Bram menyeret paksa tangan putrinya, hingga Maura harus terseok-seok mengimbangi langkah sang ayah. Andrian yang melihat itupun segera menyusul untuk memastikan apa yang terjadi karena sedari tadi sibuk menikmati kemeriahan acara itu tanpa tau keributan yang terjadi.
''Aku peringatkan padamu, Maura. Jangan pernah sekalipun kau dekati keluarga ini lagi," ucap Bram penuh penekanan.
''Tapi, Yah...."
''Tidak ada penolakan, Maura!"
Maura mengatupkan mulutnya rapat-rapat melihat kemarahan yang tergambar jelas dari sorot mata ayahnya.
Langkah mereka terhenti saat seorang pria menghadang dengan wajah sendunya.
''Mau apa kau di sini?" tanya Bram dengan nada dinginnya.
Dari raut wajahnya, pria baya itu tak ingin beramah tamah dengan pria itu.
''Izinkan saya meminang putri Anda, Tuan," ucapnya dengan sorot menghiba.
Bram hanya terkekeh sinis. "Apa kau tidak punya muka? Atau kau belum sadar atas apa yang telah dilakukan keluargamu terhadap putriku."
''Mulai saat ini, jangan pernah temui putriku lagi."
''Tidak bisa begitu, Ayah. Aku mencintainya, dia melakukan ini atas permintaanku. Bukan sepenuhnya salahnya." Maura berusaha membela Emran.
''Tidak usah membela pria ini, Maura! Baik pria ini maupun keluarganya tidak pantas untukmu."
Air mata Maura luruh begitu saja tanpa bisa ditahan. Dia tidak menyangka jika kisah cintanya akan berakhir seperti ini.
''Aku peringatkan sekali lagi, Jauhi putriku! Karena aku akan menjodohkannya dengan seseorang."
Maura terkesiap mendengar keputusan sepihak sang ayah.
__ADS_1
''Siapa, Yah?"