Pencarian Maura

Pencarian Maura
Titik Temu Pelaku


__ADS_3

Satu minggu kemudian....


Rayyan meminta semua anak buah untuk berkumpul. Dia berniat membicarakan masalah serius tentang insiden yang terjadi di rumah omnya, juga ingin mengetahui dalang dibalik peristiwa itu.


''Aku ingin laporan pekerjaan kalian. Aku tidak ingin ada kata gagal," ucap Rayyan dengan suara berat.


''Kami sudah menangkap pelakunya, bahkan kami sempat merekam pengakuan mereka," jawab seorang pria bertubuh tambun dengan otot-otot kekarnya, menyodorkan sebuah alat.


''Mereka? Itu artinya pelaku lebih dari satu orang."


''Lebih tepatnya dua orang," jawabnya lagi.


''Apa kau berhasil mengungkap siapa yang menyuruh mereka?" tanya Rayyan penuh rasa penasaran.


''Sayang sekali, mereka enggan mengaku. Sepertinya, dua orang itu sudah dibayar mahal oleh pelaku."


Rayyan termenung di tempat. Ini adalah insiden ketiga mengenai penyerangan terhadap Bram. Di mana dua insiden sebelumnya juga seperti ini. Para pelaku adalah orang-orang bayaran, dan mereka semua sepakat menyembunyikan rapat-rapat identitas bos mereka. Itu artinya dalang dibalik semua ini adalah orang yang sama.


''Apa motifnya?"


''Atau mereka salah satu musuh Om Bram?"


Pria itu terus menerka-nerka dalam hatinya. Dia berpikir keras bagaimana caranya mengungkap indentitas pelaku utama.

__ADS_1


''Maaf, Tuan. Saya bertemu seorang wanita mencurigakan sewaktu peristiwa kebakaran kemarin. Dia mengikuti dua orang pria yang tengah membawa wanita berkebaya yang tidak sadarkan diri."


''Saya sempat menegurnya, tapi ternyata dia bilang itu adalah adiknya yang tidak sadarkan diri akibat terlalu lama terjebak di dalam," tutur salah seorang lagi melaporkan penemuannya kemarin.


''Lalu kau percaya begitu saja?'' Rayyan bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


''Iya, Tuan," jawabnya dengan kepala tertunduk dalam.


''Bodoh! Itu hanya siasat mereka. Lantas, kau membiarkannya pergi begitu saja?" Suara Rayyan menggema di seluruh ruangan.


Para bodyguard yang berjumlah sepuluh orang lebih hanya bisa menunduk melihat kemarahan bos mereka.


''I-iya, Tu-tuan."


''Mereka keluar melalui gerbang samping gudang bahan makanan, Tuan."


Jari-jari Rayyan gemerutuk di atas meja sebagai tanda jika dia tengah berfikir keras. ''Bukankah di sana juga ada kamera pengawas?"


''Benar, Tuan."


''Hubungi operator pengawas! berikan langsung kepadaku setelah tersambung," titah Rayyan.


Salah satu dari mereka segera melaksanakan perintah. Tak menunggu lama panggilan mereka tersambung.

__ADS_1


''Kirimkan salinan rekaman yang ada di gerbang paling belakang, saat peristiwa kebakaran terjadi. Di sana ada seorang wanita misterius melintas bersama dua orang pria yang membopong wanita yang tidak sadarkan diri."


''Cari tahu, apa wanita itu termasuk tamu undangan atau orang asing yang sengaja menyusup. Aku ingin hasil secepatnya.''


''Siap Tuan. Segera laksanakan."


Rayyan menuggu dengan harap-harap cemas. Dia berharap setelah ini akan mengetahui pelaku utama dari serentetan peristiwa ini.


Beberapa menit kemudian, notifikasi beruntun masuk ke ponsel yang di dekat Rayyan. Tanpa menunggu lama, dia segera membuka pesan tersebut.


''Sudah kuduga," gumamnya.


Namun, sedetik kemudian matanya terbelalak ketika melihat rekaman seorang wanita yang sangat dia kenal memasuki sebuah ruangan, kemudian keluar dengan pakaian misterius.


''Rupanya ... Ibu dan anak bekerja sama," gumamnya diiringi seringai sinis.


''Antarkan aku ke kantor polisi! bukti kita cukup kuat untuk menjebloskan mereka ke dalam jeruji besi." Rayyan segera beranjak dari tempatnya.


''Dua orang ikut aku, terutama kau.'' Dia menunjuk salah seorang pemberi informasi tadi. ''Tunjuk salah satu temanmu. Sisanya berjaga di sini."


''Baik, Tuan."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2