Pencarian Maura

Pencarian Maura
Mira Kepo


__ADS_3

''Maura, pulang bersamaku." Emran menghadang langkah gadis yang ingin menuju pintu keluar.


''Maaf, saya tidak bisa. Saya ada urusan mendesak. Permisi, Dokter," jawab Maura tanpa melihat wajah pria di hadapannya, kemudian berjalan cepat untuk menghindari pria itu.


''Bahkan kau memanggilku dengan sangat formal, Maura." Suara lantang pria itu berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar.


Bukannya berhenti, Maura malah mempercepat langkahnya agar segera menjauh dari sana.


Melihat hal itu, Emran hanya bisa mengeram kesal. Entah kesalahan apa yang telah dia perbuat, sehingga Maura menjauhinya seperti ini.


Seminggu sudah, Maura berusaha menghidar dari Emran. Selama itu pula, pria itu mendiamkannya. Dia ingin melihat seberapa jauh usaha gadis itu. Awalnya, Dia memaklumi sikapnya menganggap jika Maura tengah disibukkan dengan berbagai masalah pekerjaan. Namun, semakin hari Maura semakin tak tersentuh, bahkan hubungan mereka semakin merenggang. Dia selalu memberi alasan yang tidak masuk akal setiap kali Emran mendekatinya.


Justru, hubungan wanita itu dengan Rayyan semakin dekat dan intens. Hampir di setiap kesempatan, Emran sering memergoki sepasang anak adam itu tengah menghabiskan waktu berdua baik pada jam kerja maupun di luar. Dan hal itu, berhasil membuat panas hati seorang Emran.


''Tak'kan ku biarkan kau menjauhiku tanpa alasan. Kau hanya boleh menjadi milikku, Maura," geramnya dengan mengepalkan tangan kuat.


Dengan langkah seribu, pria itu segera mengejar gadis pujaannya untuk meminta penjelasan.


''Ikut denganku." Emran menarik paksa tangan Maura, lalu membawanya ke tempat sepi.


''Dokter sadar tidak sih? Sikap Anda ini bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi siapapun yang melihat. Mereka pasti menyangka jika kita memiliki hubungan khusus, padahal kenyataannya tidak seperti itu,'' ucap Maura dengan kesal.


Dia menghempaskan kasar genggaman tangan itu.


''Aku tidak peduli," sahut Emran cepat, "kenapa kau menjauhiku?" tanya pria itu dengan sorot mata mengerikan.


Tapi Maura tak ingin lemah begitu saja. Dengan berani, dia membalas tatapan itu tak kalah tajam.


''Saya hanya ingin menunjukkan sikap bawahan dan pimpinan yang benar, itu saja."


''Katakan! Apa salahku, Maura. Sehingga kau bersikap seperti ini," cecar Emran.


''Anda tidak salah, Dokter Emran."


''Apa ada yang mengusikmu atau mengancammu? Katakan saja, aku akan mendatanginya sekalipun itu ibuku sendiri."

__ADS_1


Maura tercekat mendengarnya, lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab. Apa mungkin pria ini mengetahui hal itu, batinnya bertanya-tanya.


''Ti-tidak ad-ada." Wanita itu berusaha keras menutupi kegugupannya.


''Bohong! Dari sikapmu ini sangat jelas kau tengah berbohong." Emran menatap tajam wanita di depannya.


''Tidak ada. Lagipula, saya tidak memiliki hubungan apapun dengan dokter. Saya wanita bebas, saya berhak menentukan siapapun yang akan dekat dengan saya,'' jawab Maura datar.


''Kalau begitu, mari memulai sebuah hubungan denganku."


Maura mendongak menatap lekat iris hitam itu. Sebenarnya, dia juga memiliki perasaan yang sama pada pria ini, namun dia berusaha membentengi hatinya agar tidak terlena lagi. Dia berusaha keras mengingat tujuannya berada disini. Belum lagi, ancaman Divia waktu itu selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dia tidak ingin ancaman wanita sombong itu terwujud.


''Maaf, Dokter. Untuk saat ini, saya tidak tertarik menjalin hubungan dengan siapapun. Karena masih ada hal yang lebih penting dari sekedar urusan percintaan."


''Saya permisi...."


Maura berlalu begitu saja meninggalkan Emran yang terus menatap kepergiannya yang semakin menjauh.


...----------------...


Di ruangan Maura, dua orang gadis tengah menikmati waktu istirahat berdua.


''Apa, katakan saja," jawab Maura.


''Mbak ada masalah apa dengan Dokter Emran? Aku perhatikan mbak semakin menjauh malah sekarang terlihat lebih dekat dengan Dokter Rayyan."


''Kenapa kamu cemburu?"


''Hih, amit-amit aku sama si Dokter Playboy itu." Mira mengetuk pelipis dengan meja di dekatnya secara bergantian.


"Seandainya, pria di dunia ini tinggal dia seorang. Aku milih melajang seumur hidup, Mbak. Bisa-bisa makan ati tiap hari kalau sama dia," sambungnya berapi-api.


Maura berusaha menahan tawa, segitu bencinya temannya ini pada pria itu.


''Awas lho, terlalu benci nanti jadi jodoh. Kalau kata pepatah jawa, 'ojo gething-gething mengko bakal nyanding'."

__ADS_1


Mira mengernyitkan kening, mendengar bahasa yang sangat asing di telinganya.


''Apa artinya, Mbak?''


Maura hanya mengedikkan bahunya acuh.


''Lah, Mbak aneh, bisa ngucapin tapi gak tau artinya. Dapat dari mana coba?"


''Dari ibu angkatku. Dia keturunan Jawa, aku sering dengar dia bilang begitu sampai hafal."


Mira hanya ber-oh ria, sedetik kemudian dia teringat kembali dengan pertanyaannya yang belum terjawab.


''Mbak belum jawab pertanyaanku. Mbak punya masalah apa sama Dokter Emran?"


Wanita itu menghembuskan nafas kasar, rupanya rasa penasaran gadis di sampingnya belumlah surut.


''Gak ada, Mira. Aku hanya berusaha bersikap selayaknya bawahan dengan pimpinan."


''Jawaban Anda tidak memuaskan. Pasti ada udang di balik rempeyek," kata gadis berkuncir kuda itu dengan memicing tajam.


''Ya tinggal di makan buat lauk," sahut Maura dengan santainya.


Mira menghembuskan nafas kasar. Tidak mudah menggali informasi dari sahabatnya ini.


''Oh, ya besok jadwalku, apa aja, Mir?" Maura segera mengalihkan pembicaraan sebelum rasa penasaran Mira semakin menjadi.


''Sebentar, aku cek dulu." Mira kembali ke mejanya, kemudian membawa tablet ke hadapan atasannya.


''Lumayan senggang hanya sampai jam makan siang, tapi lusa lumayan padat. Mbak ada dua operasi."


''Kalau begitu, besok aku akan mendatangi perusahaan itu," balas Maura.


''Mbak yakin? itu perusahaan besar lho, Mbak. Gak sembarang orang bisa masuk kesana."


''Harus yakin, pasti bisa. Pencarianku tertunda lumayan lama sebab insiden kemarin. Mumpung besok ada senggang, aku manfaatkan saja."

__ADS_1


''Perlu di temani, gak?" Mira menawarkan diri dengan menaik-turunkan alisnya.


''Gak usah mencari alasan buat bolos, Mira. Katanya pengen jadi sultan."


__ADS_2