Pencarian Maura

Pencarian Maura
Masalah itu Dihadapi Bukan Dihindari


__ADS_3

''Mbak, Nyonya Divia meninggal," ujar Mira sambil menunjukkan layar ponselnya.


Maura menghentikan kunyahannya karena memang mereka tengah menikmati waktu makan siang. Dia hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan kembali menyantap makannya tanpa memberi tanggapan apapun.


''Mbak gak pengen kesana? Untuk memberi penghormatan terakhir. Biar bagaimana pun kita pernah bekerja di rumah sakit keluarganya lhoo."


Respon Maura masihlah sama, acuh tak acuh. Dia justru semakin lahap menikmati makanannya.


''Atau jangan-jangan ... Mbak masih sakit hati sama perlakuan wanita itu."


Pada akhirnya Maura meletakkan sendoknya, kemudian menatap lekat sahabatnya. Mira yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa menelan ludah kelat, takut jika sahabatnya kembali marah padanya.


Terdengar helaan nafas berat dari bibir Maura dengan tatapan berubah sendu.


''Aku ingin kesana tapi--" Wanita itu tak bisa melanjutkan ucapannya. "Kau tau sendiri bagaimana masalahku, jika sampai aku bertemu dengannya sama saja seperti tidak punya muka."


Kini, Mira paham dengan yang dirasakan wanita itu. Masalahnya tidak akan selesai jika sahabatnya terus-menerus menghindar seperti ini.


''Tapi mau sampai kapan mbak terus-terusan menghindar. Masalah itu dihadapi bukan dihindari. Nanti yang ada gak akan ketemu titik temunya. Mbak udah gak ada rasa lagi sama Dokter Emran?"


Sontak, Maura menggeleng kuat. Dia menyangkal keras dugaan itu. Bagaimana mungkin setiap saat bayangan wajahnya selalu menghantui jika sudah tidak ada rasa. Yang ada perasaannya semakin hari semakin kuat.


''Ya, makanya itu ... Kita kesana memberi penghormatan terakhir sekaligus meluruskan kesalahpahaman di antara kalian.''


''Kenapa kamu ngotot seperti itu? Aku curiga ada sesuatu di balik sesuatu," kata Maura dengan memicing tajam.

__ADS_1


Seketika rasa gugup menguasai Mira tetapi dia berusaha bersikap se-normal agar sahabatnya tidak curiga.


''Jangan-jangan itu cuma modusmu. Kau ingin ketemu Rayyan, 'kan?"


''Eh, eng-enggak ya ... Ap-apa sih, Mbak."


Bola mata Mira bergerak gelisah berusaha mengalihkan pandang ke arah lain.


''Ngaku saja, aku gak marah kok...," goda Maura dengan memiringkan senyumnya.


Amira berusaha melipat bibirnya dalam-dalam untuk menahan senyum. Akan tetapi semburat kemerahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.


Maura tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa melihat reaksi yang ditunjukkan gadis itu.


''Oke, kita kesana ... Agar kau bisa segera bertemu dengan pangeran impianmu."


...----------------...


Emru memandangi figura besar yang ada di ruang keluarga, semua yang ada di dalam foto itu termasuk Divia tengah menunjukkan senyum bahagia, kemudian dirinya dan sang kakak mengapit di sisi kanan dan kiri. Dia tak menyangka akan kehilangan sang ibu dalam waktu secepat ini. Dan hal yang paling tidak bisa dia terima adalah cara kepergian ibunya.


Seandainya dia yang menemui, seandainya dia yang ada di sana, mungkin ibunya masih bernafas hingga detik ini. Seharusnya, dia tidak percaya begitu saja pada ayahnya padahal dia sangat memahami emosi Raichand masih belum stabil pasca mendengar kehancuran bisnis keluarga.


Seseorang yang sedang diliputi emosi tidak akan bisa berpikir jernih, cenderung ambisius dengan yang ada dipikirannya. Seharusnya dia memahami hal itu.


Sentuhan pada bahu kiri menyadarkan Emru dari lamunannya. Dilihatnya, pria yang serupa dengannya tengah tersenyum lembut, meski di matanya tergambar jelas kesedihan yang sama.

__ADS_1


''Mama mau berangkat, apa kamu tidak ingin mengantarnya?"


Dapat terdengar jelas jika suara berat sang kakak berusaha menahan tangis. Diapun segera menghapus setitik air mata yang menggenang di pelupuk mata, kemudian membalas dengan anggukan lemah. Seutas senyum paksa pun tergaris di bibirnya.


''Ikhlaskan meski berat. Kasihan mama."


''Iya, Kak."


...****************...


Yuhuuu.... aku bawa promo lagi.... Jangan bosan-bosan dapat promo dari saya. Berhubung ini otak Mbak Miss lagi gak bisa diajak kompromi, aku cuma bisa up sedikit-sedikit. Penting rutin tiap hari, iya khaann... (Mode centil saya kumat)


Cuzlah kepoin....


Blurb:


Ini adalah kisah anak-anak dari Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku.


Salsabila Erlangga. Gadis cantik berumur delapan belas tahun yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun.


Laki-laki tersebut merupakan musuh Kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga. Lalu bisakah Kenzo dan Arsya bersatu! Siapa yang akan Salsa pilih kakak tersayang atau suaminya?


Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya dan mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla. Pernikahan seperti apa yang akan mereka jalanin?


Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.🤗

__ADS_1



__ADS_2