
''Kurang ajar!" Rayyan menggebrak meja dengan kuat, mata memerah menunjukkan bahwa emosinya telah sampai ke ubun-ubun.
Bram telah menyampaikan keinginan si Penculik. Hal itu berhasil memancing emosi Rayyan.
''Tenangkan dirimu, Ray! Kita harus memikirkan masalah ini dengan baik. Emosi tidak akan menyelesaikan semuanya."
''Lagi pula, Om juga tidak akan membiarkan dia mendapatkan keinginannya, semudah itu. Om juga curiga jika dia adalah dalang yang sama di balik penembakan Om beberapa waktu yang lalu.''
''Aku setuju dengan apa yang diucapkan Tuan Bram. Kita harus harus bisa lebih cerdik dari mereka." Emran menimpali.
''Mari, kita susun rencana. Kita ikuti keinginan mereka. Besok Tuan Bram ke sana sendirian, kita akan menyusul bersama anak buah masing-masing. Kita bagi tugas...."
Emran mulai mengutarakan idenya, Rayan dan Bram mendengarkan dengan seksama. Sesekali, mereka tampak manggut-manggut tanda memahami rencana pria itu.
''Bagaimana? Apa kalian setuju dengan rencanaku?" tanya Emran setelah mengutarakan semuanya.
''Aku setuju, itu ide yang bagus,'' sahut Rayan.
dia memang menganggap Emran sebagai lawanya, tetapi untuk kali ini dia akan menjadi kawan demi menyelamatkan Maura.
''Sebaiknya, kita tidak bergerak mulai malam ini. karena titik lokasinya lumayan, jauh berada di tengah hutan.'' Bram memberi usul.
''Aku sih tidak masalah tapi bagaimana dengan om? Om baru sembuh, aku khawatir.''
Bram hanya tersenyum tipis mendengar perhatian keponakannya. Sebenarnya, pria itu sangatlah baik, namun sayang terkadang obsesinya yang terlalu tinggi membuat dia lupa diri.
''Om tidak apa-apa lebih lebih cepat lebih baik karena keselamatan Maura tengah terancam.''
Emran mengepalkan tangan kuat mendengar itu semua, rahangnya mengeras. Ingin rasanya, dia menghajar si pelaku saat ini juga. sungguh, dia tidak rela melihat gadis pujaannya tersakiti.
''Benar apa yang dikatakan Tuan Bram. Lebih cepat lebih baik," ucapnya dengan dingin.
''Baiklah kita persiapkan semuanya malam ini juga. Kita berangkat tapi dengan satu syarat..." Rayan menatap serius ke arah omnya.
''Sonia dan Anton harus ikut beserta suster yang sengaja aku sewa. Aku tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan Om Bram."
''Baiklah, demi Maura Om akan menuruti keinginanmu." Bram berucap pasrah.
Ketiga pria itu segera memerintahkan anak buah masing-masing untuk bersiap-siap menjalankan misi.
...----------------...
Di sebuah ruangan temaram....
__ADS_1
Dua orang pria berbeda usia tengah terlibat dengan percakapan serius.
''Aku peringatkan sekali lagi kepadamu, El. Jangan pernah kau mencari masalah dengan singa seperti Bram," ucap pria baya dengan nada serius.
''Dia memang terlihat tenang tapi kau jangan tertipu dengan ketenangannya. Ibarat air tenang menghanyutkan jika ada yang berani mengusiknya maka orang itu tidak akan pernah lepas dari Bram sampai kapanpun juga.'' Pria yang pernah menjadi asisten almarhum ayahnya berusaha memberi peringatan kepada Angelo.
''Apa kau meragukanku, Paman?'' tanya elo dengan mengangkat sebelah alisnya.
Dia terlihat kurang suka dengan ucapan pria yang telah merawatnya.
''Bukan maksudku meragukanmu, El. Hanya saja, aku khawatir akan keselamatanmu. Aku sangat tahu siapa Bram sebenarnya. ingat! aku lebih mengenal tabiat pria itu dibanding dirimu.''
''Kau tenanglah! Tidak akan terjadi apa-apa kepadaku. Karena aku sudah memikirkan ini matang-matang, kubuat sehalus mungkin tanpa meninggalkan jejak.'' Seringai seram terbit dari bibir hitam itu.
''Lantas, apa kau akan membebaskan gadis itu, setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan, El?'' Pria itu mencoba mengorek informasi darinya.
''Tidak semudah itu, Paman. Kau akan melihat sendiri apa yang akan kulakukan pada gadis itu, setelah aku dapatkan semuanya. Aku ingin Bram merasakan rasa sakit yang kurasakan dulu." Elo berucap dengan tatapan menajam ke depan, rahangnya mengeras setiap kali mengingat kematian orang tuanya.
''Jangan bilang kau akan mencelakai gadis itu?'' tanya pria itu dengan tatapan menelisik.
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Angelo. Yang ada hanya tawa keras menggema memenuhi ruangan sempit itu.
''Kau memang keras kepala, El. Tanggung sendiri akibatnya! Jika kau masih tidak ingin mendengarkanku.'' Pria baya itu berlalu begitu saja dari ruangan.
...----------------...
Tepat tengah malam rombongan pasukan Bram tiba di area hutan tempat Maura disekap. Mereka menyebar ke seluruh arah untuk mengepung tempat itu.
''Kalian ke sana, kelompok B ke arah utara dan sisanya ikut denganku.'' Rayyan memberi arahan kepada anak buahnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang.
Para pria berbaju hitam itu mengangguk tanda mengerti perintah tuannya.
''Bagus lakukan sekarang! Untuk kelompok B intai tempat target. Bila ada kesempatan segera menyelinap masuk, lakukan yang kuperintahkan sebelumnya, Paham!" ucap Rayyan penuh penekanan.
''Paham, Tuan,'' jawab mereka serempak.
''Lakukan sekarang! Tetap berhati-hati."
Mereka semua menyebar sesuai tugas masing-masing, sedangkan Rayyan bersama anak buah yang tersisa menunggu di dalam mobil. Pria itu tampak mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi Emran.
''Bagaimana dengan tugasmu, Emran?'' tanya pria itu setelah panggilannya tersambung.
''Semua beres. Kami semua akan berangkat ke titik lokasi, sekarang,'' kata emran di seberang sana.
__ADS_1
''Baiklah!''
''Usahakan mereka menyamar sebagai orang biasa. Jangan sampai ketahuan!"
''Tanpa kau perintahkan pun aku sudah melakukannya. Aku tidak sebodoh yang kau kira, Rayyan,'' jawab Emran dengan kesal.
setelah itu dia memutus sambungan secara sepihak.
''Dasar Beruang Kutub.'' Rayyan memaki ponsel yang telah menggelap.
...----------------...
Maura terkesiap ketika melihat sosok bertubuh besar memasuki tempat itu melalui jendela yang tak jauh darinya . Dia takut anak buah pria kejam itu kembali menyiksa dirinya. Tubuhnya bergetar ketakutan, dia bergerakk gelisah sebagai tanda tak ingin di dekati.
Angelo sempat membuka perekat pada mulutnya setelah menelpon Bram tadi. Dia meminta anak buahnya untuk memberi makan gadis itu. Maura yang terlanjur takut dengan ancaman pria itu menolak keras makanan yang diberikan. Pikiran buruk merasuki pikirannya jika makanan itu sudah diberi racun oleh mereka.
Angelo yang kesal dengan penolakan Maura segera membuang makanan itu ke wajah Maura disusul dengan guyuran satu gelas air.
''Rupanya kau memang tidak pantas untuk dikasihani, Nona Manis."
''Untuk apa kau mengasihaniku, jika akhirnya kau akan membunuhku. Lebih baik kau bunuh aku sekarang daripada kau habiskan jerih payah ayahku," teriak Maura tanpa ada rasa takut sedikitpun.
''Kau tenang saja, aku akan menuruti keinginanmu. Karena itu termasuk rencanaku. Aku ingin Bram merasakan apa yang kurasakan dulu."
Suara pria itu kembali terngiang jelas dalam telinganya. Pergerakannya semakin gelisah saat sosok itu semakin dekat. Apalagi dia terlihat membawa benda tajam.
Maura hanya berteriak tertahan dibalik perekat mulutnya.
''Diamlah, Nona! Aku akan menyelamatkanmu," bisik pria bertubuh besar itu.
''Hemmm...."
''Hemmm....''
Maura mendongakkan wajah berusaha menunjukkan perekat yang ada pada mulutnya. Paham akan keinginan gadis itu, pria itu segera melepas benda hitam itu.
''Siapa kau?" tanya Maura dengan suara lemah.
''Aku anak buah Tuan Rayyan. Anda tenang saja, Nona. Tuan Bram beserta anak buahnya sudah berada di sekitar sini. Mereka semua sudah mengepung tempat ini," jawab pria itu sembari melonggarkan semua tali yang mengikat kuat tubuh mungilnya.
''Saya hanya bertugas melonggarkan ikatannya. Ini hampir pagi, Tuan Bram akan segera menuju tempat ini. Nona hanya perlu pura-pura terikat seperti sebelumnya. Jangan banyak bergerak karena ikatan ini akan mudah terlepas. Mohon kerja samanya, Nona." Pria itu memberi intruksi panjang-lebar yang di balas anggukan oleh gadis itu.
''Pegang dua benda ini. Gunakan ketika darurat. Tekan tombol itu jika keadaan benar-benar mendesak. Benda itu sudah terhubung langsung ke ponsel Tuan Rayyan dan Tuan Emran." Pria itu menyelipkan sebuah benda tajam dan sebuah benda hitam kecil mirip remot kontrol pada tangan gadis itu.
__ADS_1
''Sekali lagi saya mohon kerjasamanya. Tetap bersikap tenang," ucapnya sebelum kembali keluar dari tempat itu.