Pencarian Maura

Pencarian Maura
Dilema Andrian


__ADS_3

"Baiklah, langsung saja. Aku berniat menjodohkan putriku denganmu...."


''Apa kau setuju?" Bram melanjutkan pertanyaannya.


Andrian masih terdiam memikirkan jawaban yang tepat sekira tidak menyakiti hati atasan.


''Sebelumnya saya minta maaf, Tuan. Tapi Nona Maura mempunyai orang lain dalam hatinya."


"Kau tidak usah memikirkan itu. Dia akan menjadi urusanku."


"Sekali lagi, apa kau setuju?" Pria baya itu mengulang pertanyaannya.


Andrian menghela nafas berat, mencoba berfikir ulang. Mungkinkah, dia menerima tawaran itu, sedangkan dia sendiri juga mempunyai masalah sendiri dengan hidupnya.


"Baiklah, Tuan. Saya setuju."


"Tidak ada salahnya mencoba menghilangkannya," bisiknya dalam hati.


"Tapi apa Nona Maura akan setuju?" Keraguan tergambar jelas di wajahnya


"Kau tidak usah memikirkan itu. Aku akan mengaturnya."


___________


"Dokter Rayyan, tunggu!" teriak Mira ketika melihat bayangan seorang pria yang jauh di depannya.


Namun, pria itu sepertinya tidak mendengar karena dia masih santai dengan langkahnya sembari memperhatikan ponsel di tangan.


"Dokter!''


''Ishhh, sengaja apa memang budek sih ini orang." Gadis itu menggerutu kesal seraya berlari mengejar pria itu.


Pada saat, dia sampai di dekatnya. Mira segera menepuk kesal punggung kekar Rayyan, yang membuat pria itu terkejut hingga dia hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.


"****, Mira!"


''Apa?" tanya Mira pongah, seolah menantang pria itu.


"Kau hampir menjatuhkan ponselku, Mira," teriaknya dengan kesal.

__ADS_1


"Salah sendiri dari tadi dipanggil-panggil gak nyahut," sanggah Mira dengan cuek tak mau disalahkan.


"Ada apa?" tanya Rayyan dengan nada sewot.


''Aku mau tanya keadaan Mbak Maura, gimana?"


"Dia baik."


Dua orang itu tampak berjalan beriringan menyusuri lorong yang cukup ramai itu.


''Kapan Mbak Maura kembali ke apartemen? Aku kesepian," ucap wanita itu dengan tatapan sendu.


"Tanya aja sendiri ke orangnya," balas Rayyan penuh kesewotan, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan gadis itu.


Mira menganganga tak percaya ketika melihat respon dari Rayyan padahal dia bertanya baik-baik, kenapa seperti responnya.


"Apa dia lagi PMS? Dasar Buaya Kampret." Gadis itu berlalu dengan kekesalannya.


...----------------...


Hari ini, Maura kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter setelah sekian hari absen karena sakit. Dia disibukkan dengan para pasiennya dan tugasnya sebagai pimpinan rumah sakit.


''Ya ampun ... Baru ditinggal beberapa hari, udah numpuk aja ini kerjaan," keluhnya.


''Perasaan dulu waktu cuma jadi dokter gak sebanyak ini pekerjaaanku."


''Untukmu."


Sosok tangan kekar berbalut jas putih menyodorkan secangkir kopi kearahnya. Dia mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan itu.


Seorang pria berkaca mata tersenyum manis kepadanya. Tanpa diminta, pria mendaratkan bobot tubuh pada kursi yang ada di depan Maura.


"Biasanya, aku membuat itu untuk menetralisir rasa pusing akibat perkerjaan," ucapnya disertai senyum manisnya.


"Terima kasih," jawab Maura singkat tak ingin beramah tamah.


Dia kembali menyibukkan diri dengan setumpuk berkas di hadapannya.


''Kau boleh pergi, jangan lupa tutup pintu," perintahnya tanpa melirik pria itu.

__ADS_1


''Oke...."


Pandangan Andrian masih tertuju pada wanita yang sibuk di meja kerjanya. Di menghela nafas kasar melihat sikap cueknya. Semenjak perihal perjodohan itu, Maura seperti menjaga jarak padanya. Padahal sebelumnya, wanita itu selalu mendekatinya meski hanya sekedar mengajak makan bersama, sedangkan kini jangankan mendekat, menyapa pun seperti enggan.


Laki-laki itu menutup pintu secara perlahan agar tidak mengganggu pekerjaan gadis itu.


...----------------...


"Apa keputusanku ini salah?"


"Apa salah aku jika aku ingin menghilangkan traumaku?"


Lagi dan lagi terdengar hembusan nafas berat berasal dari bibir pria itu.


Andrian mempunyai masa lalu kelam mengenai pernikahan, lebih tepatnya pernikahan kedua orang tuanya. Dulu sewaktu dia berusia tujuh tahun, dengan mata kepalanya sendiri. Dia melihat pertengkaran hebat kedua orang tuanya. Ibunya memilih pergi meninggalkan sang ayah, lebih memilih mantan kekasihnya. Hanya karena alasan bosan. Padahal sebelumnya keluarganya hidup bahagia dan harmonis.


Banyak barang beterbangan hingga banyak pecahan kaca berceceran di lantai. Ayahnya berusaha mempertahankan ibunya, bahkan memohon agar ibunya tidak pergi. Demi putra semata wayang mereka Andrian. Namun, sang ibu tetap bersikeras dengan pendiriannya. Di depan mata kepalanya sendiri, dia melihat ibunya menggandeng pria lain tanpa memedulikan perasaan ayahnya yang hancur melihat itu semua.


''Yang menikah karena cinta saja bisa terpisah apalagi aku yang ...." Andrian menggantung ucapannya.


"Tapi untuk melepas Maura, kenapa seperti tidak rela, meski ada pria lain di hatinya."


"Aku harus bagaimana?"


''Turuti kata hatimu." Suara bariton mengalihkan perhatian pria itu.


"Kak, kau ...."


''Ya, aku mendengar semuanya," jawab pria itu datar.


"Turuti kata hatimu. Perjalanan rumah tangga setiap orang berbeda. Mungkin, memang perjalanan rumah tangga orang tuamu berakhir tragis. Bisa jadi, kelak rumah tanggamu akan bahagia."


''Tapi, ada pria lain di hatinya." Andrian mengeluarkan semua keluh kesahnya pada pria yang ia anggap kakak.


''Itu tugasmu, kau harus bisa mengganti nama pria itu dengan namamu. Jika kau memang menyukai atau mungkin mencintainya ... Maka, perjuangkan!" Pria itu menepuk keras pundak adik angkatnya.


Segaris senyum terlukis di bibir pria tampan itu. Kakak angkatnya ini selalu bisa membuatnya tenang ketika dia merasa gelisah.


''Kau pantas disebut Masters of Love. Segeralah cari pasangan! Aku yakin wanita yang menjadi istrimu akan bahagia," kelakar Andrian.

__ADS_1


''Urus saja urusanmu tidak usah pedulikan hidupku. Karena masih ada yang harus aku urus," ucapnya sebelum pergi meninggalkan Andrian.


"Kau selalu misterius, Kak. Entah apa yang kau urus hingga membuatmu rela melajang di usiamu yang sudah kepala empat."


__ADS_2