Pencarian Maura

Pencarian Maura
Rencana Kembali


__ADS_3

Emran melangkah gontai memasuki rumahnya, tatapan matanya kosong ke depan. Dia sedih bukan soal tuduhan yang mereka timpakan padanya, melainkan ucapan terakhir Maura. Dunianya seakan luluh lantak setelah mendengar kalimat jika hubungan mereka hanya sebuah kesalahan.


''Kenapa kau tidak mau mendengar penjelasanku dulu, Ra," batinnya nelangsa.


Dia tidak menyangka jika wanita pujaannya bisa berkata setega itu, hanya karena sebuah tuduhan tanpa bukti.


''Bagus! Setelah membuat kekacauan, baru ingat rumah," sindir Divia ketika putra sulungnya melintas di hadapannya.


''Sudah puas, kamu mempermalukan keluarga. Hanya demi wanita itu, kau rela melakukan hal konyol, Kak." Wanita itu masih meluapkan kekesalannya, bibirnya menyunggingkan senyum sinis.


''Terserah apa katamu, Mam. Yang jelas bukan aku pelaku pembakaran itu. Dan aku berjanji ... Aku akan mencari pelakunya sampai dapat agar Maura percaya jika aku tidak bersalah," ucap Emran penuh tekad.


Divia menegang di tempat mendengar hal itu. Ketakutan tiba-tiba menghantui dirinya. Seketika, mulut sombongnya terkunci rapat. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu saat aksinya kemarin diketahui keluarganya.


''Aku ingin istirahat. Jangan ganggu aku sampai aku keluar dengan sendirinya."


Setelah memberi peringatan pada ibunya, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar pribadinya.


''Mama kenapa?" Suara berat sang suami mengejutkan perempuan baya itu.


''Eh, Pap.... Ti-tidak apa-apa. Mama hanya terkejut melihat Emran kembali," ujarnya beralibi.


''Emran, dimana dia?''


''Dia di kamarnya tapi tidak ingin diganggu."


''Biarkan dia tenang dulu. Setelah tenang papa akan membicarakan masalah yang menimpanya. Aku tidak terima putraku dituduh sedemikian di depan umum, terlebih tanpa bukti. Aku pastikan akan menyeret pelakunya ke hadapan pemuda sombong itu," ucap Raichand dengan sorot penuh dendam.


Keresahan Divia semakin menjadi setelah mendengar ucapan suaminya. Kini, dirinya benar-benar dilanda ketakutan hebat hingga keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.


''Ma-mama ke ka-kamar dulu, Pap," pamitnya dengan gugup.


Tanpa menunggu respon suaminya, Divia berlalu begitu saja sebelum Raichand menyadari gelagatnya.


''Aku harus menghubungi Angelo."


 


...----------------...


''Setelah ini mbak mau kemana?" tanya Mira dengan tatapan sendu.


''Yang jelas aku kembali ke tempat asalku menjadi diriku sendiri," jawab Maura diiringi senyum lembutnya.


''Misal aku ikut ... boleh?"

__ADS_1


''Bukan aku tidak mengizinkan tapi bagaimana dengan pekerjaanmu di sini?" Maura balik bertanya.


''Aku sudah mengundurkan diri," cicitnya pelan.


Maura sangat terkejut mendengar pengakuan sahabatnya. Pasalnya, Mira tidak pernah bercerita apapun tentang masalahnya.


''Kenapa?"


''Ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan. Yang jelas aku ingin pergi jauh dari kota ini. Boleh ya, aku ikut Mbak Maura,'' pinta Mira menggoyang pelan lengan sang sahabat dengan sorot penuh pengharapan.


Maura menghela nafas panjang. ''Baiklah, kau boleh ikut. Tapi sebelumnya temani aku ke rumah sakit untuk mengambil semua barangku juga menyerahkan surat pengunduran diri."


''Siap, Bos."


Keduanya bergegas mencari taksi untuk menuju tempat kerja Maura terlebih dulu, sebelum ke terminal.


Tak menunggu waktu lama, mereka sampai di depan lobby rumah sakit. Tanpa memedulikan tatapan aneh para pegawai di sana, Maura bergegas menuju ruangannya. Dia tidak ingin ambil pusing dengan asumsi orang-orang terhadapnya.


Sesampainya di ruangan, Maura segera mengemas barang-barang pribadi miliknya. Yang tentu saja dengan meninggalkan barang pemberian Bram. Dia sudah mengemasnya dengan rapi. Sebagai langkah terakhir, dia bergegas menyerahkan surat pengunduran diri pada Andrian.


Dia menghembus nafas pelan ketika mengingat nama itu. Jika boleh jujur, ada rasa malu untuk bertemu dengannya. Namun, Maura harus menemui pria itu sekalian meminta maaf.


"Dokter Andrian ada, Sus?" tanya Maura pada suster yang menjadi asisten pria itu.


"Ada, Dok," jawab suster ber-name tage Maria dengan ketus.


"Tapi beliau tidak ingin diganggu oleh siapa pun termasuk calon istrinya," lanjutnya masih dengan masa yang sama.


Namun sedetik kemudian, wanita itu tampak membungkam mulutnya. "Eh, bukan lagi calon istri. 'Kan dokter kabur bersama pria lain, tidak taunya pria itu yang membunuh ayah sendiri."


Maura sekuat tenaga menahan amarah yang bergejolak. Berulang kali, mengatur nafas agar emosinya tidak terpancing.


"Saya hanya ingin menyerahkan ini," ucapnya dengan menyodorkan sebuah amplop putih, "tolong, sampaikan juga permintaan maaf saya. Permisi...."


...----------------...


Suster tadi songong amat sih, Mbak." Mira berkomentar ketika mereka berada dalam perjalanan menuju terminal.


Maura mengernyit mendengar hal itu. "Kamu dengar semuanya?"


Mira mengangguk pasti. "Bukan cuma denger tapi aku juga lihat semuanya. Kesewotannya itu, huh ... Rasanya pengen ngeremet itu muka sampai jadi adonan."


Maura hanya terkekeh kecil mendengar celotehan gadis itu. Dia memang selalu seperti itu ketika melihat sesuatu yang teramat mengesalkan baginya.


"Aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Dia memang tidak menyukaiku sejak aku dekat dengan Andrian."

__ADS_1


"Jangan-jangan ... Suster songong itu suka sama Dokter Andrian,'' tebaknya dengan memicing tajam.


Maura mengedikkan bahu acuh seakan dia tidak peduli dengan hal itu. "Sudahlah, tidak usah bahas dia. Gak baik. Dengan membicarakan dia terus menerus, sama saja kita makan dagingnya."


"Iya, Bu Ustadzah ... Amit-amit aku makan daging manusia seperti itu. Enakan daging ayam."


''Kita sudah sampai, Nona-nona." Suara sopir taksi menghentikan pembicaraan kedua wanita itu.


Mereka segera turun, tak lupa Maura membayar ongkos sesuai yang tertera.


''Terima kasih, Pak," ucapnya ramah sebelum pergi.


''Sama-sama, Nona."


Ketika mereka hendak memasuki area terminal, tiba-tiba langkah keduanya dihadang oleh beberapa pria berbaju hitam. Tentu Maura sangat mengenal siapa mereka. Mereka adalah anak buah almarhum sang ayah, bahkan salah satu dari mereka merupakan mantan ajudan pribadinya.


''Mau apa kalian?" tanya Maura dengan sorot tak bersahabat.


Wanita itu menatap tajam para pria itu tanpa rasa takut sedikit pun.


''Anda harus ikut dengan kami. Tolong menurut, Nona. Sebelum kami melakukan pemaksaan. Tuan Rayyan ingin bertemu."


Maura menyunggingkan senyum sinis saat mendengar nama sepupunya disebut.


''Mau apa dia ingin menemuiku. Bukankah aku sudah menuruti semua keinginannya? Bahkan aku sudah melakukan semua yang dia minta."


''Kami kurang tau, Nona. Kami mohon ikutlah dengan kami. Jangan sampai kami melakukan sesuatu yang akan menyakiti Anda," ucap salah satu dari mereka penuh peringatan.


''Mbak, turuti saja. Mereka sangat menakutkan," bisik Mira dengan merapatkan tubuhnya pada sang sahabat.


''Aku tidak mau. Katakan pada tuan kalian. Aku tidak ada urusan lagi dengannya."


Setelah mengutarakan penolakannya, Maura melenggang begitu saja dengan menarik tangan sahabatnya. Dia berniat mencari bus yang akan membawa mereka menuju kampung halamannya.


Para bodyguard itu saling memandang satu sama lain. Mereka saling memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.


"Maafkan kami, Nona. Kami harus melakukan ini," ujar mantan ajudannya dengan menarik paksa tangan Maura.


Kedua tangan Maura ditarik paksa oleh dua orang pria berbadan kekar, begitupun dengan Mira. Kedua wanita itu berusaha memberontak agar tangan mereka bisa terlepas.


"Apa yang kalian lakukan? Lepas! Aku tidak ada urusan lagi dengannya," teriak Maura.


''Iya, biarkan kami pergi," seru Mira dengan nada yang lebih keras dari sahabatnya, bahkan gadis itu berteriak meminta tolong pada orang-orang sekitar.


''Pak, tolong kami ... Mereka membawa kami dengan paksa."

__ADS_1


Namun, semua orang yang melihat kejadian itu tak bisa berbuat apa-apa karena takut dengan para pria yang membawa kedua wanita tersebut.


__ADS_2