
Hubungan Maura dan Emran semakin dekat, tidak ada satu hari pun mereka lewatkan tanpa bertemu. Bukan hanya dengan Emran, wanita itu juga sudah dekat keluarga kekasihnya. Wanita itu turut membantu merawat Raichand, bahkan memberi semangat serta motivasi bahwa kepergian bukanlah sepenuhnya salahnya, melakukan karena takdir. Dia hanya sebagai perantara.
Perlu waktu sekitar dua bulanan untuk menyadarkan Raichand dari rasa bersalahnya. Selama itu pula, dengan sabar Maura turut mendampingi. Rasa cinta di hati Emran pun tumbuh semakin besar untuk wanita itu. Dia pun sudah memantapkan hati untuk menjatuhkan pilihannya. Selain itu, ayah dan adiknya pun terus mendesak untuk meresmikan hubungan mereka.
''Bagaimana hubunganmu dengan putraku?" tanya Raichand ketika menikmati waktu paginya dengan kekasih putranya.
''Baik, Om. Tidak ada masalah apapun," jawab Maura yang masih sibuk dengan alat tensi darahnya.
''Tekanan darah om normal. Usahakan jaga emosi, jangan sampai tensinya naik lagi. Ingat, Om. Jika ingin melihat para cucu kelak, Om harus menjaga kesehatan."
Raichand tergelak mendengarnya. Bukan sekali dua kali, Maura mengatakan itu, bahkan hampir setiap hari.
''Aku serius, Om," protes Maura dengan mengerucutkan bibirnya karena pria baya itu selalu menganggap ucapannya sebagai candaan belaka.
''Iya-ya, I know that. Tapi masalahnya siapa yang akan memberikanku cucu? Kedua putraku masih lajang," ujar Raichand disisa tawanya.
''Aku sudah tidak lajang, Pap," sahut Emran yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan mereka, "aku sudah menjadi hak paten seseorang. Papa harus ingat itu."
Pria duduk tepat tanpa jarak di samping wanita pujaannya, bahkan tangannya pun tanpa permisi merangkul erat pundak Maura dari arah samping.
''Ish, belum muhrim. Gak usah pegang-pegang." Maura melepas paksa belitan tangan kekar itu. Tidak ketinggalan lirik sinis ia tujukan pada pria di sampingnya.
Pasalnya, Maura cukup kesal dengan pria itu. Dua bulan lebih mereka sepakat menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, tidak ada itikad baik dari Emran untuk mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.
Kekesalannya semakin memuncak kala Emran tak memedulikan kemarahannya. Pria itu justru dengan santai menyesap kopi yang sengaja dibawa.
''Udah tau orang ngambek, bukannya dibujuk malah ngopi. Dasar Beruang Kutub, Balok Es, gitu aja gak peka," batin Maura menahan kesal.
''Kenapa ngeliatnya kok sampai seperti itu? Tidak usah lirik-lirik, kau sudah berhasil memikat hatiku, Ra," goda Emran yang semakin menambah kadar kekesalan di hati kekasihnya.
__ADS_1
''Taulah, percuma ngasih kode ke balok es. Kalau gak dipanasin gak akan cair."
Setelah mengungkapkan kekesalannya, Maura berlalu begitu saja dari hadapan mereka.
''Emran, bujuk dia. Jangan biarkan dia marah berlarut-larut. Nanti, kau kelimpungan sendiri." Raichand berusaha menasehati putranya.
''Dia memang aneh, Pap. Belakangan ini Maura sering ngambek tidak jelas. Aku pun kadang bingung penyebabnya apa."
''Kalau perempuan marah, artinya sedang ada maunya. Coba tanyakan baik-baik. Wanita memang begitu selalu ingin dimengerti. Kita para lelaki harus lebih peka lagi."
Emran termenung mendengarnya, dalam hati menerka-nerka apa yang tengah diinginkan kekasihnya.
...----------------...
Maura berusaha menghentikan air mata yang sejak beberapa menit yang lalu mengalir di pipinya. Kekesalan yang mendalam membuat ia tidak mampu lagi untuk menahannya hingga air mata lah yang menjadi titik puncaknya.
''Kamu bodoh, Ra. Mau-maunya percaya dengan semua mulut manisnya. Mungkin dia cuma ingin bersenang-senang tidak ada niatan untuk serius,'' ungkapnya disela isak tangisnya.
Dia pun ikut mengusap sisa air mata yang ada di pipi sang kekasih.
''Pikir aja sendiri. Punya otak, 'kan?" balas Maura ketus. Kedatangan Emran bukan malah meredam emosi justru semakin membuat panas hatinya.
Emran menghela nafas berat. Dia sudah mengikuti saran ayahnya, bukan jawaban yang didapat tetapi malah omelan. Untuk sesaat terjadi keheningan diantara mereka, baik Maura maupun Emran tak ada niatan untuk membuka suara. Sehingga sebuah deringan keras dari ponsel Maura memecah kebisuan mereka.
''Hallo," jawab Maura dengan suara sengaunya.
''Ra, kamu nangis? Ada apa lagi?" Terdengar suara Rayyan dari seberang.
''Biasa, ada apa nelpon aku?"
__ADS_1
''Masalah itu lagi...." Rayyan tak habis pikir dengan sepupunya ini. "Aku kan udah bilang,. tinggal ngomong langsung, Ra. Pasti semua beres. Kalau begini terus, mau habis air mata seember gak akan ada titik temunya. Kau gak mau ngomong, dia juga gak peka."
''Udah deh, Ray. Gak usah ikut campur. Urus aja itu hubunganmu sama Mira yang gak ada kejelasan. Situ sendiri bingung, akal-akal sok nasehatin orang," balas Maura dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
''Kalau tujuanmu telpon cuma buat ceramah mending aku matiin."
''Eh, jangan, Ra. Aku cuma mau mengingatkan jam sepuluh nanti ada pertemuan dengan klien di restoran Jalan Mawar. Pak Anton dari tadi krim pesan ke kamu tapi gak ada tanggapan. Dia ganti nerror aku," sahut Rayyan panjang lebar, terselip sebuah kekesalan dalam nada bicaranya.
Maura menepuk keningnya sendiri, bagaimana dia bisa lupa dengan pertemuan penting ini padahal sudah dijadwalkan dari satu minggu yang lalu.
Setelah panggilan berakhir, wanita itu segera beranjak dari tempatnya karena waktu yang semakin mepet.
''Maura, mau kemana?'' tanya Emran dengan berteriak.
''Pulang," jawab Maura tanpa membalikkan tubuhnya.
Lagi dan lagi, Emran hanya bisa menghembuskan nafas kuat menghadapi kemarahan kekasihnya.
...----------------...
Aku bawa rekomendasi novel lagi guys, yang penasaran bisa mampir yakk...
Setelah malam naas penjebakan yang dilakukan oleh Adik tirinya, Kinanti dinyatakan hamil. Namun dirinya tak mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Kinanti di usir dari rumah, karena dianggap sebagai aib untuk keluarganya. Susah payah dia berusaha untuk mempertahankan anak tersebut. Hingga akhirnya anak itu lahir, tanpa seorang ayah.
Kinanti melahirkan anak kembar, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kehadiran anak tersebut mampu mengubah hidupnya. Kedua anaknya tumbuh menjadi anak yang genius, melebihi kecerdasan anak usianya.
Mampukah takdir mempertemukan dirinya dengan laki-laki yang menghamilinya? Akankah kedua anak geniusnya mampu menyatukan kedua orang tuanya? Ikuti kisahnya dalam karya "Anak Genius : Benih Yang Kau Tinggalkan."
__ADS_1