
Maura terjingkat saat sepercik air menerpa wajahnya. Dia mulai mengerjap beberapa kali, matanya memindai sekeliling tempatnya berada. Dia juga merasa tubuhnya sulit di gerakkan, lehernya terasa pegal karena semalaman tidur dengan posisi tertunduk.
"Bagaimana tidurmu, Nona Manis? Nyenyak bukan?" Suara bariton mengalihkan perhatiannya.
Maura ingin bersuara namun tidak bisa karena perekat hitam yang direkatkan pada mulutnya. Alhasil, hanya gumaman keras yang keluar dari mulut gadis itu. Dia terus menggerakkan tubuhnya, hingga kursi yang dia tempati bergerak tak beraturan. Berharap ikatan yang membelit tubuh dan kakinya akan terlepas namun usahanya sia-sia, ikatan itu terlalu kuat.
''Tenanglah, Nona Manis. Kau akan aman asal mau menuruti perintahku," bisik Elo dengan sangat lembut, yang terdengar sangat mengerikan di telinga Maura.
''Hemmm!"
"Hemmm!"
Dia menggeleng kuat sembari terus berteriak di balik perekatnya, berharap pria itu mau melepaskan benda ini. Matanya memerah menahan tangis, penampilannya jauh dari kata rapi. Akan tetapi, dia patut bersyukur karena pakaiannya masih utuh meskipun ada beberapa bagian sedikit terbuka.
"Ada apa? Kau ingin bicara."
"Hemmmm..."
"Hemmm....''
Lagi-lagi hanya gumaman tidak jelas yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya menampakkan permohonan agar permintaannya dikabulkan.
''Baiklah! Setelah ini kau bisa berbicara sesukamu. Aku juga ingin mendengar suaramu. Apakah seindah wajahmu?"
Angelo segera menarik kasar benda itu, hingga membuat Maura memekik kesakitan.
''Siapa kau?" tanya Maura begitu penghalang pada mulutnya di buka.
__ADS_1
''Apa maumu? Tidak ada gunanya kau mau menculikku. Aku tidak punya apa-apa, aku hanya gadis miskin."
''Aku tidak akan membawamu ke tempat ini jika kau tidak beguna bagiku, Nona. Kau adalah pionku untuk mendapat kekayaannya," sahut Angelo dengan tatapan tajam setajam belati yang siap menghunus mangsanya.
''Kekayaan siapa?"
''Siapa lagi jika bukan Bramasta Haidar."
''kau salah orang, Tuan. Aku bukan siapa-siapanya. Jadi, tolong lepaskan aku!"
Tawa keras menggema di ruangan itu. "Tidak mungkin, aku salah orang. Karena yang memanipulasi hasil tes itu adalah anak buahku. Dia yang menukar sampel yang dibawa suster bodoh itu. Jadi, kau bisa simpulkan sendiri, Nona Manis."
Maura terbelalak mendengar pengakuan pria yang tidak ia ketahui namanya.
''Kenapa kau kejam sekali!" teriak Maura.
Angelo langsung berbalik, lalu mencengkeram kuat pipi gadis itu dengan satu tangannya. Terdengar desisan pelan dari mulut Maura karena menahan sakit pada area pipi.
''Kau menyebutku kejam. Lebih kejam mana dengan ayahmu. Dia yang telah menyebabkan orang tuaku meninggal disaat aku masih membutuhkan kasih sayang mereka, Hah! Pikirkan itu." Dia menghempaskan kasar pipi mulus itu, lalu beranjak pergi dari tempat pengap itu.
''Tutup kembali mulutnya, jangan pernah sekali-kali membukanya tanpa seizinku, meskipun dia memaksa, paham!" titah Angelo pada anak buahnya sebelum menghilang di balik pintu.
''Baik, Tuan."
...----------------...
Maura menggerakkan intens tubuhnya hingga menimbulkan decitan pada kursi yang dia tempati. Berusaha melonggarkan ikatan yang terasa sangat menyiksa. Bagaimana tidak, setengah tubuhnya diikat sangat kuat pada sandaran kursi, belum lagi kakinya. Mengabaikan rasa lemas yang mendera karena seharian penuh belum terisi apapun, Maura tetap berusaha melepaskan jeratan tali itu.
__ADS_1
''Hemmm...." Maura hanya bisa mengeram kesal ketika usahanya yang kesekian kali tak membuahkan hasil.
''Bagaimana aku bisa kabur? Untuk lepas dari tali ini saja sangat susah. Mana perutku terasa perih," batinnya dengan mata berkaca-kaca.
''Tuhan, tolong bantu aku...."
''Apa ada yang tau aku diculik? Siapapun tolong aku."
Netranya melirik celah jendela, terlihat diluar sana sudah nampak gelap. Ruangan yang sudah gelap dan pengap semakin menggelap seiring datangnya petang. Tanpa terasa, air mata sempat mengering kembali menetes ke pipinya. Maura hanya tertunduk lesu meratapi nasibnya.
Suara deritan pintu mengalihkan perhatian gadis itu. Tampak sosok pria bertubuh jangkung lengkap dengan setelan jas formalnya memasuki ruangan.
"Bagaimana kabarmu, Nona Manis?"
Mata memerah gadis itu menatap tajam wajah pria kejam yang telah menghalanginya untuk bersatu dengan sang ayah.
''Kau menangis, Cantik?" tanya Angelo ketika meraba pipi basah sanderanya.
Maura segera menjauhkan wajahnya, tubuhnya meronta-ronta pertanda ia meminta dilepaskan.
''Kau ingin lepas, Nona Manis?"
Maura menanggapi dengan anggukan.
''Tunggu tebusanmu dulu."
''Kau tenang saja, aku akan menghubungi si Tua Bangka. Sepertinya, tontonan ini akan menjadi sangat menarik jika dipublikasikan. Benar bukan?" Angelo segera mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu melakukan panggilan video pada seseorang yang akan menjadi target selanjutnya.
__ADS_1