
Maura menyandarkan tubuh pada sandaran tempat tidur. Matanya ikut terpejam demi mengurai rasa lelah yang mendera. Mata yang baru saja terpejam harus terbuka kembali saat tangan kekar tiba-tiba menelusup ke area perutnya. Dilihatnya, sang suami tengah menenggelamkan wajah di sana.
''Kau mengejutkanku," ucapnya disertai tepukan pelan.
"Boleh, aku memintanya?" tanya Emran penuh permohonan.
Maura sangat memahami permintaan suaminya. Bukan tidak ingin menuruti tetapi tubuhnya benar-benar letih saat ini.
''Aku lelah."
Seketika, Emran beranjak dari posisinya. Dia menatap lekat istrinya.
''Apa kau menolakku lagi, Ra? Aku sudah menuruti keinginanmu. Aku menagih janjimu."
''Tapi, Em ... Aku benar-benar lelah, besok saja ya," pintanya dengan wajah memelas.
Emran memalingkan muka enggan memberi tanggapan apapun.
''Em, jangan marah, dong." Maura berusaha membalikkan tubuh kekar itu. Namun, Emran tetap bersikukuh pada posisinya.
''Emran, jangan seperti ini. Kenapa akhir-akhir ini kamu sering merajuk mirip perawan lagi PMS, sih. Sangat berbeda dengan Emran yang kukenal," protes Maura yang berusaha keras menahan emosi. Percayalah, dia benar-benar lelah ingin segera memejamkan mata.
''Apa alasanmu selalu menolakku? Katakanlah dengan jujur!"
''Atau jangan-jangan, kau sudah melakukannya lebih dulu dengan orang lain."
Maura membelalakkan mata sempurna. Dia tidak menyangka jika pria yang dia cinta bisa mengatakan hal sekejam itu atas dirinya.
''Hanya karena aku tidak menuruti hasratmu, kau tega merendahkanku seperti itu," geram Maura.
Dia segera beranjak dari tempatnya, kemudian berdiri di hadapan pria itu disertai tatapan tajamnya. Meluap sudah amarah yang berusaha ditahan sejak tadi.
''Kau pikir aku wanita rendahan, kenapa pikiranmu serendah itu?" Maura menatap penuh ketidakpercayaan ke arah suaminya. Ini malam pertama mereka kenapa dia justru memantik api dalam bensin.
Emran menghela nafas kasar berusaha untuk tidak ikut terpancing emosi. Dia segera menarik tangan wanita itu hingga terduduk ke pangkuannya, lalu mendekapnya erat.
''Maafkan aku...."
Maura memilih memalingkan muka. Dia masih sangat kesal dengan suaminya.
''Maura ... Aku di sini. Apa kau tidak ingin melihat wajah tampanku, hemm?''
''Maura ... Sayang. Ini malam pertama kita, jangan bertengkar! Aku mengalah demi kamu. Please, do not be angry anymore," pintanya dengan wajah memelas.
__ADS_1
(Tolong, jangan marah lagi.)
Maura mendengus kesal mendengarnya. ''Sudah tau ini malam hemmpphh...."
Emran benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Begitu sang istri menoleh, dia langsung menyerang bibir mirip bebek itu dengan bibirnya.
Berulang kali, Maura memberontak berusaha berusaha melepaskan diri. Namun gagal, tenaganya kalah dengan tenaganya pria itu. Lama-kelamaan, wanita itu mulai terhanyut dengan permainan sang suami. Perlahan namun pasti, dia mulai membalasnya.
Permainan mereka berlangsung hingga beberapa menit. Ketika pasokan udara yang memenuhi rongga paru-paru mereka terasa berkurang, Emran melepas tautan mereka, lalu menyatukan keningnya dengan kening sang istri.
''Maafkan aku, tidak seharusnya aku berkata seperti itu." Emran berucap lirih.
Tatapan matanya tertuju pada benda berwarna merah natural yang sedikit membengkak karena ulahnya.
Maura mengangguk pelan dengan nafas masih terengah-engah.
''Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku marah-marah padamu."
Sejenak terjadi keheningan di antara mereka. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya kembali tertaut untuk mereguk madu dalam diri masing-masing, bahkan tangan kekar itupun tak ingin tinggal diam. Dia menjelajah sesuka hati mencari tempat tempat ternyamannya. Maura yang sudah sepenuhnya hanyut dalam kenikmatan yang bernama surga dunia hanya bisa mengeluarkan suara-suara yang terdengar indah di telinga suaminya. Tanpa mereka sadari, keadaan keduanya mirip bayi yang baru dilahirkan di dunia sebagai tanda bersiap menikmati malam panjangnya.
(Sensor *#&@% ... Takut kena tilang)
...----------------...
Dia masih tidak percaya jika pria dingin ini adalah suami sahnya, bahkan telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk pria ini.
''Ini masih seperti mimpi," gumam Maura dengan menyusuri rahang tegas itu.
''Tidurlah! Jangan sampai aku menghabisimu seperti semalam."
Maura sedikit terjengkit ketika mendengar suara serak pria itu.
''Kau sudah bangun? Sejak kapan?"
''Sejak kau bergerak tadi."
''Kenapa tidak membuka mata?"
''Aku masih ngantuk, kau malah meraba-raba wajahku. Asal kau tau, kau telah membangunkan yang lain, Maura."
Maura menatap dengan kening berkerut sebagai tanda belum memahami maksud pria itu.
Paham akan kebingungan sang istri, Emran menuntun tangan Maura yang berada di balik selimut menuju pusaka miliknya.
__ADS_1
''Aakh, apa ini?" Maura berteriak panik merasakan benda keras menyentuh permukaan kulitnya.
''Tongkat sakti yang akan membuatmu tak berdaya." Emran menatap sang istri dengan tatapan berbeda.
''Tidak-tidak, aku masih lelah. Aku juga kebelet pipis Lepaskan tanganmu, Em," titah Maura dengan mata bergerak gelisah.
Dia benar-benar takut jika pria itu kembali menyerangnya seperti malam tadi.
Mendengar hal itu, Emran bukan menuruti justru mengeratkan dekapannya.
''Give me a kiss, then you may go," ujar Emran dengan menyodorkan salah satu pipinya.
(Beri aku ciuman, baru kau boleh pergi.)
''Emran, aku beneran kebelet. Kau mau aku ngompol," teriak Maura dengan kesal.
''Baiklah, aku lepaskan tapi aku tidak yakin jika kau bisa berjalan sampai kamar mandi."
Maura memutar bola matanya malas mengira jika ucapan itu hanya taktik Emran agar tetap berada di tempat tidur. Akan tetapi baru saja menampakkan kaki pada lantai, Maura mendesis menahan perih di area inti tubuhnya, bahkan sampai berpegang erat pada nakas samping tempat tidurnya.
''Kenapa perih sekali, ssshhh?"
Dengan penuh kehati-hatian, Maura melangkah menuju kamar mandi dengan mendekap erat selimut putih yang membalut tubuhnya. Dia merutuki ucapan teman-temannya dulu yang mengatakan jika malam pertama, malam penuh kenikmatan hingga membuat ketagihan.
''Ketagihan apanya, dampaknya sakit begini. Huh, mereka bohong!" Wanita itu menggerutu di sepanjang jalan menuju pintu kamar mandi yang tertutup.
''Aku kapok, pokok aku gak mau lagi."
''Akh, Emran turunkan aku!" teriaknya terkejut ketika tiba-tiba tubuhnya melayang.
''Diamlah, Ra. Aku tidak tega melihat jalanmu yang mirip pinguin yang sedang membawa telurnya."
''Semua juga karenamu, pokoknya aku gak mau lagi. Mau kamu marah, merajuk, ngomong aneh-aneh tentang aku. Aku gak peduli, sakit banget ini. Aku kapok!"
Emran hanya terkekeh kecil mendengarnya. Dia mendudukkan tubuh sang istri di atas closed, lalu mulai mengisi bathub.
''Mandilah! Aku akan memesan makanan untuk sarapan kita."
Maura hanya mengangguk meski dengan bibir mengerucut.
...----------------...
__ADS_1