
"Shita, ini kesempatan emas untuk mendekati Emran. Mereka sedang salah paham tapi tenang tante sudah mengompori putra tante. Tante jamin, sekarang ini dia sangat membenci wanita itu."
''Tentu, Tan. Aku akan memanfaatkan kesempatan emas ini," jawab Shita dengan memiringkan senyumnya.
Keduanya sepakat bertemu di sebuah restoran mewah, lebih tepatnya Divia yang meminta bertemu. Untuk memberitahukan agar Shita bisa bergerak cepat sebelum putranya berubah pikiran.
''Bagus. Buat Emran bertekuk lutut padamu. Entah kenapa? Aku sangat membenci wanita itu, meskipun ternyata dia anak orang kaya."
"Gara-gara dia, Emran sering menentangku. Apa istimewanya? Sampai Emran rela mati-matian membelanya," sambung Divia.
''Tenanglah, Tan. Aku tidak akan mengecewakan tante. Aku pasti berhasil menikahi putra tante."
''Bagus."
''Menjauhkan Emran dari Maura, sudah. Langkah selanjutnya, aku menghubungi pria itu," batin Divia.
''Kau tenang saja Tante Divia, aku pasti berhasil menjadi menantumu karena memang itu tujuanku. Jika Emran tidak bisa aku manfaatkan, maka kaulah target selanjutnya," bisik Shita dalam hati dengan melirik sinis wanita tua di depannya.
...----------------...
''Bagus, Tante Divia. Rencana selanjutnya, kita jalankan pada saat pernikahan mereka. Aku yang akan terjun langsung,'' sahut seorang pria di balik telepon.
''Oke, berarti aku bisa istirahat terlebih dulu."
''Tentu saja, Tante. Tapi tetap awasi mereka. Jangan sampai kecolongan," kata pria itu dengan nada penuh peringatan.
''Tenang saja, kau tidak akan kecewa padaku." Divia berucap mantap.
Panggilan keduanya berakhir setelah beberapa menit berbincang. Kali ini, Divia benar-benar puas dengan apa yang dia dapat.
''Habis telepon dengan siapa, Mam?"
Wanita itu terjengkit saat mendengar suara suaminya. Dia segera berbalik, kemudian menunjukkan senyum semanis mungkin agar suaminya tidak curiga.
__ADS_1
''Teman arisan, Pap. Papa kenapa sih? Kayak enggak pernah lihat mama teleponan." Divia bertanya dengan nada was-was.
Suaminya ini sangat sulit mempercayai orang bila dia sedang curiga.
Raichand memicing tajam menatap istrinya. Pasalnya, dia sempat mendengar jika istrinya tengah merencanakan sesuatu. Dia takut rencana itu akan berimbas lagi pada bisnisnya.
''Papa kenapa kok lihatin mama seperti itu?"
"Awas mama macam-macam," ancamnya penuh peringatan sebelum berlalu dari hadapan sang istri.
Divia menghirup nafas lega melihat kepergian suaminya. Sepertinya, setelah ini dia harus ekstra hati-hati menjalankan tugasnya.
...----------------...
Emran berdiam diri di balkon kamarnya dengan tangan memegang botol kaca berisi air berwarna coklat keemasan. Sesekali, dia terlihat menenggak minumannya, bahkan sempat mengernyit ketika cairan laknat itu berhasil menerobos tenggorokannya. Dia melampiaskan amarahnya dengan meminum minuman keras dengan kadar alkohol tinggi. Tak membutuhkan waktu lama, pria itu berhasil tak sadarkan diri dengan rancauan tidak jelas.
''Berkali-kali, mama bilang. Dia Itu bukan perempuan baik-baik, Emran. Kau saja yang keras kepala."
''Sekarang rasakan sendiri kau dikecewakan wanita murah*n itu."
Emran yang waktu itu sedang tidak bisa berpikir jernih pun menerima semua asumsi ibunya mentah-mentah tanpa dicerna terlebih dahulu.
Ditambah lagi, kejadian di Bioskop beberapa hari yang lalu selalu melintas dalam pikirannya. Dengan mudahnya, Maura menggandeng lengan pria yang bersamanya, berdekatan dengan jarak yang sangat intim, bergelayut manja, bahkan setelah itupun tidak ada inisiatif dari Maura untuk meminta maaf atau sekedar menjelaskan. Berkali-kali, wanita itu menolak panggilan darinya dan pesan darinya juga tak pernah dibalas.
Berhari-hari diabaikan membuat kekesalan Emran semakin bertambah setiap harinya. Dan pada puncaknya ketika tanpa sengaja, dia mendengar percakapan Maura dengan pria itu dari sambungan telepon.
"Kau memang wanita sial*n, hehehe....''
''Aku mencintaimu ... Kenapa kau mengecewakanku, hiks-hiks...."
"Pergilah bersamanya! Aku bisa tanpamu...."
Sejurus kemudian, pria itu melempar botol yang ada di tangannya, hingga pecahan kaca dan isinya berceceran ke lantai.
__ADS_1
Emru yang mendengar keributan yang berasal dari kamar sang kakak pun segera menghampiri. Pria itu hanya menggelengkan kepala melihat kondisi kacau saudara kembarnya.
''Kak ... Kak, hanya karena wanita kau mabuk seperti ini. Kau ini seorang dokter tapi kau sendiri abai dengan kesehatanmu."
Dia memapah Emran menuju ke tempat tidurnya agar pria itu bisa beristirahat dengan nyaman. Sesekali, dia harus menahan pengang karena Erman berteriak tepat di telinganya, bahkan dia harus menahan mual saat mencium bau menyengat dari mulut kakaknya.
''Istirahatlah dengan nyaman, Kak. Setelah ini, aku harap kau akan lebih baik," ucap Emru sambil melepas sepatu yang masih melekat di kaki Emran tanpa lupa membuka dua kancing kemejanya.
''Kenapa dengan kakak?" tanya Divia penuh kekhawatiran.
Dia menghadang langkah putra bungsunya ketika baru keluar dari kamar Emran. Bukan hanya Emru yang mendengar keributan itu, melainkan kedua orang tuanya juga. Divia dan suaminya segera menghampiri asal suara.
''Mabuk berat karena galau, aku mau panggil bibi buat bersihin pecahan kaca di dalam."
Emru berlalu begitu saja setelah menjawab pertanyaan dari ibunya, sedangkan Divia dan Raichand segera memasuki kamar putra sulungnya untuk melihat keadaannya.
''Lihatlah, Pap! Perempuan itu telah merubah putra kita. sebelumnya, Emran tidak minum-minuman seperti ini, apalagi sampai mabuk berat." Divia memanfaatkan kesempatan ini untuk menghasut sang suami, berharap pria baya itu mau berada di pihaknya.
Raichand hanya diam tidak menjawab sepatah katapun ocehan yang keluar dari mulut sang istri. Dia menatap lurus kearah putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang jelas, dia tidak ingin mempercayai semuanya begitu saja.
''Perempuan itu benar-benar membawa pengaruh buruk untuk Emran. Aku harap dia tidak kembali lagi ke dalam hidup putra kita," kata Divia dengan nada bicara dibuat seolah dia sedang geram menahan marah.
Matanya, melirik ke arah sang suami yang masih setia bungkam. Wanita itu sangat yakin jika Raichand sudah terpengaruh dengan hasutannya.
''Apa sebaiknya, pernikahan mereka dipercepat ya, Pap? Mama gak mau Emran melakukan ini setiap malam."
''Terserah!" Pria baya itu memilih keluar dari tempat itu.
Dia sudah muak mendengar segala celotehan yang keluar dari mulut istrinya. Dia tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut manis itu.
''Papa, kok malah pergi. Jangan tinggalkan mama...." Divia segera menyusul kepergian Raichand.
''Papa lelah papa ingin tidur. Sebaiknya, mama urus si Emran dulu, baru tidur," ujar Raichand sebelum menutup pintu.
__ADS_1
Alhasil, wanita tua itu hanya bisa meremat udara dengan kesal. Dia hanya bisa menahan geram karena suaminya masih saja belum terpengaruh dengan hasutannya.
''Kapan sih, Pap? Kamu ada di pihak mama."