
''Aduh, Maura. Dasar Pikun. Kok bisa lupa sih." Maura menepuk keningnya sendiri merutuki kecerobohannya.
''Pasti Emran dengar semua pembicaraan tadi," ucapnya sambil menggigit bibir bagian bawah.
Dia masih terpaku layar yang bertuliskan
'Panggilan berakhir 02:39:05.'
''Aku harus menjelaskan ke dia, biar gak salah paham."
Wanita itu berinisiatif menghubungi nomor yang sama. Namun, nihil hanya berakhir dengan suara operator yang memberitahukan jika pemilik nomor tidak dapat dihubungi.
''Ck, kenapa lagi sih malah gak aktif."
Pikiran wanita itu benar-benar semrawut. Dia tidak bisa berfikir jernih, yang ada hanya gelisah tak berkesudahan.
''Ya, aku harus menemuinya. Aku harus sampai di sana sebelum waktu pulang."
Maura segera mengambil tasnya, lalu keluar ruangan begitu saja dengan tergesa-gesa, bahkan dia sampai melupakan tugasnya.
...----------------...
''Ada mantan pegawai sedang berkunjung," sindir seorang wanita ketika Maura sampai di lobby tempat tujuannya.
Dia tak menghiraukan sindiran itu, memilih bergegas ke tempat yang dituju. Yang ada dalam pikirannya hanya ingin segera bertemu Emran.
''Mau apa kau kemari?"
Divia mencekal lengan Maura ketika wanita itu melintas di hadapannya.
''Saya tidak mempunyai urusan dengan Anda, Nyonya Divia yang terhormat," balas Maura penuh penekanan.
Mungkin, jika dulu dia akan takut tapi tidak untuk sekarang. Dia akan melawan selama dia mampu agar wanita sombong ini tidak meremehkannya.
''Ini rumah sakit saya. Saya berhak melarang dan mengizinkan siapapun yang memasuki tempat ini." Wanita baya itu menatap sinis wanita muda di depannya.
''Dan aku melarangmu untuk masuk ke rumah sakit ini tanpa alasan yang jelas," lanjutnya lagi.
''Tujuan saya sangat jelas, Nyonya. Saya ingin bertemu sepupu saya Dokter Rayyan yang bertugas di Poly Kandungan. Apa kurang jelas, Nyonya?"
Perlahan, Divia melepas cekalan tangannya, lalu membiarkan Maura pergi begitu saja dari hadapannya. Wanita itu memakai kembali kaca mata hitamnya, lalu berjalan penuh keangkuhan menuju mobil yang sudah siap menanti kedatangannya.
__ADS_1
''Huft, untung aku segera menemukan alasan yang tepat," gumamnya dengan menghirup nafas lega.
Sesampainya di persimpangan lorong, dia melirik ke arah belakang untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Setelah dirasa aman, dia segera berbelok ke arah yang berlawanan dengan tempat yang dia sebut tadi.
''Em ... Ran."
Wanita itu mematung ketika memasuki ruangan pria pujaannya. Ponsel yang hancur akibat menghantam dinding seakan menyambut kedatangannya. Ternyata dugaannya benar, pria ini sudah mendengar semuanya. Dan kini dia salah paham.
''Em, aku--''
"Berhenti di situ." Suara dingin Emran menghentikan langkahnya.
''Em, semua tidak seperti yang kau kira. Kau--''
''Keluarlah! Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulutmu."
''Tidak! Sebelum aku menjelaskan semuanya." Wanita itu masih bersikeras.
''Untuk apa kau repot-repot mendatangiku hanya untuk menjelaskan semuanya. Kita tidak ada hubungan apa-apa. Semestinya, kau biarkan saja."
Maura menatap tak percaya pria di hadapannya. Kenapa sikap pria ini menjadi seperti ini kepadanya. Apa karena sebuah kesalahpahaman telah mengubah semuanya.
''Tapi, Em--''
''Pergi kau Wanita Murahan!" bentaknya lantang penuh kemarahan.
Luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahan Maura. Dia tidak menyangka, Emran akan berkata sekasar itu padanya. Hatinya terasa sakit mendengar hinaan yang pernah disematkan Divia padanya. Dan kini, dia juga mendengar langsung dari mulut pria itu.
Maura segera menghapus kasar sisa kristal bening yang membanjiri pipinya. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi pria ini.
''Oke, aku turuti keinginanmu. Setelah ini, jangan pernah kau mencari wanita murahan ini lagi.''
Maura terkekeh sinis ketika berada diambang pintu. "Kukira kau berbeda dengan ibumu. Ternyata, ibu dan anak sama saja. Aku menyesal telah menaruh harapan padamu."
''Permisi, Tuan Emran Khan yang terhormat," ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.
''Kau tenang saja, Maura. Aku akan datang bersama tunanganku sesuai keinginanmu."
...----------------...
''Bodoh, Maura, bodoh! Kenapa kau terus menangisi pria itu. Dia tidak pantas untukmu." Maura memaki dirinya yang sedari tadi tak bisa menghentikan air matanya.
__ADS_1
Dia sudah mengucek matanya dengan kasar hingga mata indahnya memerah. Berharap air matanya mau berhenti. Akan tetapi tetap saja, justru semakin deras.
''Hentikan, Ra! Matamu bisa berdarah." Sebuah tangan kekar menghentikan tangan Maura yang ingin mengulang perbuatannya.
''Andrian."
''Bagaimana kau tau aku disini?" tanya wanita itu yang tidak dapat menutupi rasa terkejutnya.
''Hapus pakai ini." Andrian menyodorkan sapu tangan miliknya.
''Terima kasih," ucap Maura dengan menerima sapu tangan berwarna hitam itu.
''Kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kau bisa ada di sini?"
''Aku mengikutimu. Maaf....''
''Tanpa sengaja aku melihatmu keluar ruangan dengan tergesa-gesa. Aku khawatir takut terjadi apa-apa denganmu," sambung pria itu.
''Its okey, I'am fine. Kau tidak usah khawatir. Terbukti 'kan aku masih utuh." Maura berkelakar dengan suara sengaunya.
''Ra...."
Maura terkesiap ketika Andrian dengan berani menggenggam lembut jemari tangannya.
''Terima aku sepenuh hatimu. Aku janji, aku tidak akan membuatmu bersedih seperti ini. Keluargaku tidak seperti keluarga pria itu. Aku akan memberimu banyak kebahagiaan hingga kau lupa dengan sakit yang pernah kau terima."
"Aku mencintaimu Maura Putri."
Maura menatap lekat pria yang bersimpuh di depannya. Tatapan matanya begitu tulus. Haruskah, dia menerima pria ini meski dalam hatinya masih terukir nama pria lain.
''Beri aku waktu. Aku akan berusaha membalas perasaanmu.''
''Kapan pun itu, aku akan menunggu, Ra."
''Terima kasih."
''Hari semakin sore, sebentar lagi gelap. Yuk, kuantar pulang."
Andrian mengulurkan tangannya, lalu disambut hangat oleh tangan wanita itu. Mereka bergandengan mesra layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
''Mama benar, kau memang wanita murahan," gumam seorang pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.
__ADS_1