Pencarian Maura

Pencarian Maura
Membandingkan Sikap


__ADS_3

''Wah, gue gak nyangka. Usaha loe berhasil hanya dalam satu tahun, Ra. Gue kira loe bakal butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan misi ini." Alvaro menanggapi dengan antusias cerita sahabatnya, bahkan dia sempat berdecak kagum.


''Ya, begitulah, Al. Semua usaha gue gak sia-sia."


''Terus anak-anak di sini gimana kabarnya? Gue kangen sama mereka." Maura menanyakan tentang kabar teman-teman kerjanya dulu dengan antusias.


''Tetep cuma ada anak coas yang super ngeselin, dan parahnya lagi itu anak bimbingan gue," kata Alvaro berapi-api seperti seorang pimpinan perang yang tengah memberi semangat pada para pejuang.


''cewek apa cowok?"


''Cewek, asli dia itu super ngeselin, banget...."


Alvaro berceloteh panjang lebar menceritakan gadis yang selalu membuat tensi darahnya naik. Sesekali, Maura tampak menanggapi dengan tertawa ketika ada bagian yang menurutnya lucu


Beberapa saat kemudian, Maura terpaksa menghentikan tawanya ketika tanpa sengaja, netranya menangkap pria yang menjadi calon suaminya terlihat sibuk dengan ponsel di tangan. Pria itu sama sekali tidak terusik dengan keributan yang dia buat padahal tawanya bisa dikatakan cukup nyaring hingga memenuhi ruangan itu.


Terbesit rasa bersalah pada pria itu karena sudah mengabaikannya. Dalam hati menerka-nerka, mungkinkah dia cemburu? Hanya saja, tidak ditunjukkan dengan gamblang seperti Emran.


Andrian lebih memilih bersikap tenang untuk menutupi rasa cemburunya. Jika boleh jujur, Maura lebih suka cara Emran yang menunjukkan secara langsung daripada harus menebak-nebak seperti ini. Karena dia sendiri pun bukan termasuk orang yang mudah peka terhadap perasaan orang sekitar.


...----------------...


''Andrian,'' panggil Maura pelan.


Dia menghampiri calon suaminya yang tengah menikmati waktu malam di teras rumah.


Kini, mereka semua berada di tempat tinggal Maura dulu sewaktu bersama sang ibu. Mereka memutuskan menginap di sana atas permintaan Bram. Pria baya itu ingin merasakan kehidupan yang dijalani istrinya dulu. Meskipun, Yunita dan suaminya menawarkan agar menginap di rumahnya. Namun, Bram tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


''Iya, ada apa? Duduk sini, ngapain berdiri di situ." Andrian menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya.

__ADS_1


Maura menurut, lalu mendaratkan bobot tubuhnya di sana.


''Maafkan aku," ujarnya lirih.


''Untuk apa?'' tanya Andrian mengernyit bingung.


''Seharian tadi, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alvaro hingga mengabaikanmu. Maaf jika membuat kamu cemburu." Maura tertunduk dalam karena merasa bersalah.


Andrian terkekeh kecil, kemudian menggeleng pelan.


''Aku memaklumi. Kalian lama tidak bertemu pasti juga butuh waktu untuk bersama. Kamu tenang saja, aku tidak cemburu."


Seketika, wanita itu mendongak menatap lekat wajah calon suaminya.


''Kamu serius?'' tanyanya untuk memastikan.


''Serius. Aku membebaskanmu dekat dengan siapapun asal kamu selalu bisa menjaga kepercayaanku."


Entah apa yang dirasakan Maura setelah mendengar pengakuan calon suaminya. Seharusnya, dia merasa tenang dan bahagia tetapi kenapa malah sebaliknya. Ada perasaan mengganjal yang menjerumus tidak terima akan pengakuan itu.


Ingatannya mengembara ketika Emran tiba-tiba menyerang Andrian beberapa waktu lalu. Kemudian hatinya mulai mempertanyakan kesungguhan pria ini.


''Bukankah kecemburuan adalah tanda cinta?"


Dia mulai membandingkan sikap Emran yang selalu menyorot tajam ke arahnya ketika berdekatan dengan pria lain dengan sikap Andrian yang kelewat santai seperti tidak mempunyai beban.


''Aku tidak apa-apa, tidak usah terlalu dipikirkan," ucap Adrian ketika melihat wanita itu terdiam. Dia mengira calon istrinya masih merasa bersalah


Suara berat Andrian berhasil membuyarkan lamunan Maura.

__ADS_1


''Eh, i-iya, eng-enggak lagi kok.''


...----------------...


Maura merenung sendirian di dalam kamarnya. Tangannya terulur meraih figura kecil potret kebersamaannya bersama sang ibu.


"Seandainya, ibu ada di sini ... Pasti aku tidak akan sekalut ini."


''Aku rindu nasehat-nasehat ibu. Aku rindu tidur di pangkuan ibu...."


''Bu, sebenarnya ... Dia bukan pria yang kucintai. Ada pria lain dalam hatiku. Dia bernama Emran, pria dingin yang mampu meluluhkan hatiku. Aku memilihnya hanya demi ayah."


''Aku harus bagaimana, Bu? Hatiku selalu diselimuti keraguan. Hatiku selalu terpaut pada Emran, meski aku sudah berusaha untuk melupakannya. Tapi...."


Maura tampak menghirup nafas dalam untuk mengurai sesak dalam dada.


''Semakin aku berusaha semakin nyata bayangannya dalam benakku. Aku harus bagaimana, Bu? Aku ingin seperti ibu, yang mempunyai satu pria dalam hidup sampai hembusan nafas terakhir."


''Aku benar-benar tidak bisa memaksakan perasaan ini."


Tanpa disadari, ada seorang pria yang mendengar semua itu. Dia hanya bisa menatap sedih dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia menyandarkan tubuh pada tembok yang berada tak jauh darinya.


''Apa keputusanku ini salah?''


...----------------...


Hayo lhoo, siapa tu? Durian alias Andrian, 'kah? Atau Tuan Bram?


Jawabannya ada di part selanjutnya. Pantengin terus ya...

__ADS_1


Babay


__ADS_2