
''Kamu ingin mengatakan hal penting apa, Emran?'' tanya Maura ketika sudah berhadapan dengan pria itu.
"Aku akan bertunangan dua hari ke depan."
Maura menegang di tempat ketika mendengar kabar itu. Beberapa saat kemudian, dia berusaha menunjukkan senyum terbaiknya, seakan-akan dia juga ikut bahagia mendengarnya.
"Wah, selamat ya, Em," sambutnya riang.
Gadis itu mengulurkan tangan bermaksud memberi selamat. Namun sayang, uluran tangannya hanya menggantung di udara karena tak mendapat balasan dari pria di depannya.
''Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri, Ra?" Emran bertanya dengan menatap lekat wajah wanita itu.
Tak ada tanggapan apapun dari Maura. Perlahan, dia menarik tangannya kembali. Seulas senyum yang sempat terkembang ikut memudar.
''Kenapa kau diam? Tebakanku benar, 'kan?" Emran kembali bersuara dengan sorot semakin dingin.
''Seandainya itu benar. Tidak ada apapun yang bisa dilakukan."
''Kita kawin lari."
Maura mendongak seketika. Tentu saja, dia akan menolak mentah-mentah hal itu.
"Jangan butakan mata hatimu hanya karena cinta, Em. Ingat! Obsesi dan cinta hanya beda tipis setipis kulit ari. Jika memang perasaanmu murni cinta untukku. Kau tidak akan pernah melakukannya."
''Kau meragukan perasaanku, Maura," sahut Emran tidak terima.
''Bukan begitu....''
''Bilang saja, kau tidak ingin memperjuangkannya karena sudah ada pria lain di hatimu." Emran memotong cepat ucapan wanita di depannya dengan emosi meledak-ledak.
"Terserah! Apapun yang kau katakan. Yang jelas aku menolak tegas permintaanmu itu,'' seru Maura.
''Jika tidak ada yang dibicarakan lagi sebaiknya aku pulang. Permisi!" Maura memilih mengakhiri pertemuan itu. Menurutnya percuma menasehati orang yang tengah dilanda emosi, hanya akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
__ADS_1
''Ra, aku belum selesai bicara." Emran berteriak pada wanita yang sudah menjauh.
"Maura!"
Nahas, suaranya hanya menggema terbawa angin malam. Maura terus melangkah maju tanpa menoleh lagi ke belakang.
Dia memang mencintai Emran tapi dia juga tidak ingin menyakiti banyak pihak dengan melakukan hal itu.
"Akhhh!" Emran mengeram kesal.
Mau tidak mau, dia harus menuruti permintaan ibunya, meski hatinya menolak keras.
...----------------...
Maura hanya menatap nanar undangan yang ada di tangannya. Kini, tidak ada harapan untuk bersama apalagi merajut kasih bersama pria itu. Dia harus bisa merelakan cintanya, dan menerima kenyataan jika cintanya harus kandas di tengah jalan.
"Yang sabar ya, Mbak," ucap Mira menenangkan.
"Aku tidak apa-apa. Lagian, aku yang meminta Emran untuk menerima perjodohan ini."
''Maura, kamu di mana?''
''Maura!"
Terdengar lengkingan suara Rayyan dari luar tempat mereka berada. Mira yang mendengar itu hanya mendengus kesal.
"Bisa gak, sih? Itu orang gak usah teriak-teriak," dumelnya dengan menghampiri asal suara.
Maura menggeleng pelan mendengar gerutuan sahabatnya, lalu bergegas mengikuti langkah Mira.
"Heh, Pak Dokter! Ini bukan hutan gak usah teriak-teriak," ucap Mira dengan menyedekapkan tangan di dada.
''Aku tidak mencarimu tapi mencari Maura," sewot pria itu.
__ADS_1
''Aku disni, ada apa mencariku," sahut Maura yang muncul di belakang sahabatnya.
''Kau sudah tau ini," kata Emran dengan menunjukkan sebuah undangan di tangannya.
''Sudah," jawabnya dengan datar.
Tadi, saat tiba di parkiran rumah sakit ketika dia hendak pulang. Divia menghadang langkahnya, kemudian memberikan kertas itu secara langsung diiringi senyum penuh ejekan kepadanya, bahkan wanita sombong itu juga mengatakan jika dia tidak ada kesempatan lagi untuk bersama putranya.
Rayyan tampak menghela nafas lega melihat tanggapan dari sepupunya.
"Lalu, bagaimana denganmu?"
"Aku? Seperti yang kau lihat." Maura merentangkan kedua tangannya sedikit lebar, seolah menunjukkan jika dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kau jangan membohongiku, Ra."
"Tidak, buat apa aku berbohong. I'm fine."
"Okey, aku percaya."
"Aku tidak habis pikir dengan pria dingin itu. Katanya dia mencintaimu tapi pada akhirnya, dia malah bertunangan dengan wanita lain," lanjut pria itu setelah terjadi keheningan beberapa saat.
"Aku yang memintanya," sahut Maura.
Kini, Rayyan berganti menatap tidak percaya pada sepupunya.
"Gak usah menatap aku seperti itu. Aku punya alasan sendiri untuk meminta Emran melakukannya. Bukan berarti aku tak cinta," sungut wanita itu dengan kesal.
"Jangan bilang karena ibunya," tebak Rayyan tepat sasaran.
Maura hanya diam seribu bahasa, dan keterdiamannya dianggap 'Ya' oleh Rayyan.
"Maura-Maura, rumit sekali kisah hidupmu."
__ADS_1