Pencarian Maura

Pencarian Maura
Seandainya, Kau Masih Disini


__ADS_3

''Apa ada yang menggangu pikiranmu, An?" Maura berinisiatif mendekati calon suaminya.


''Tidak ada, aku hanya ngantuk. semalaman tidak bisa tidur. Kebiasaanku berada di tempat baru selalu seperti ini."


Meski tidak puas dengan jawaban pria itu. Namun, Maura tidak berniat untuk mencari tahu lebih dalam lagi.


''Nanti, kau bisa tidur di mobil."


Tidak ada tanggapan apapun dari pria itu, meski sekedar kata 'iya' maupun anggukan.


Akan tetapi, Maura tidak ingin ambil pusing. Dia memilih bergabung bersama yang lainnya.


''Akhirnya ayah datang juga," ucap Maura ketika melihat sang ayah berjalan kearahnya.


''Maaf, sudah membuat kalian menunggu. Hari semakin siang, sebaiknya kita segera pulang."


Semua tampak bersiap-siap, tak lupa mereka berpamitan pada Mahesa dan istrinya. Yunita kembali menitikkan air mata ketika harus melepas kepergian putri angkatnya. Tak dapat dipungkiri, setelah kepergian Maura. Wanita baya itu sering merasa kesepian, walaupun mereka masih berkirim kabar melalui sambungan telepon.


''Bunda, jangan nangis! Nanti, aku ikut nangis." Maura mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi ibu angkatnya. Matanya ikut berkaca-kaca ketika melihat kesedihan wanita itu.


''Iya, tidak lagi." Yunita segera menghapus sisa air mata di pipinya, "Pulanglah! Kalau ada waktu kunjungi bundamu ini."


''Iya."


''Bye, Bunda...," pamitnya dengan melambaikan tangan.

__ADS_1


Yunita membalas lambaian tangan itu dengan air mata yang mengalir deras di pipi. Mahesa segera mendekap erat tubuh sang istri dari samping untuk menenangkan.


''Maura!" teriakan seorang pria menghentikan niat Maura yang hendak memasuki mobil.


Alvaro menghampirinya sahabatnya dengan nafas tersengal-sengal.


''Untung, masih sempat. Aku ada sesuatu untukmu. Anggap saja ini kado pernikahan dariku." Pria itu mengulurkan sebuah kotak kepada sahabatmya.


Setelah dirasa dapat menguasai diri, dia melanjutkan kembali ucapannya.


''Maaf, aku tidak bisa menghadiri acaramu."


Maura menatap sahabat lamanya penuh haru. Tanpa aba-aba, dia segera memeluk erat tubuh pria itu.


''Udah, Ra. Jangan lama-lama! Nanti calonmu cemburu," bisik Alvaro.


Mendengar hal itu, Maura segera melepas dekapannya. Bagaimanapun juga, dia harus bisa menjaga perasaan Andrian. Dia melirik pria yang berada tepat di belakangnya. Namun, pria itu tak memberikan respon apapun, justru wajahnya terkesan datar.


''Aku pulang dulu.''


''Hati-hati.''


...----------------...


''Ayah tadi kemana?" Suara Maura memecah keheningan perjalanan mereka.

__ADS_1


Di dalam mobil hanya sopir yang masih terjaga, sedangkan yang lain tampak memejamkan mata entah itu tertidur atau hanya terpejam.


''Hanya menenangkan diri," jawab Bram singkat.


Maura mengerutkan kening mendengar jawaban itu. "Apa ada yang menggangu pikiran ayah?"


Bram hanya terdiam memilih mengalihkan pandang ke arah luar seperti menghindari pertanyaannya.


''Tidurlah! Perjalanan masih jauh. Ayah tidak ingin kamu kelelahan."


Wanita itu merasa aneh dengan perubahan sikap sang ayah. Dia ingin mempertanyakan hal itu, tapi urung. Karena merasa bukan waktu yang tepat, mungkin nanti ketika mereka sampai di rumah.


Dia berganti melirik Andrian yang berada tepat di sampingnya. Pria itu tampak tertidur pulas dengan earphone menempel di telinga.


''Ada apa dengan dua pria ini, kenapa sikap mereka mendadak aneh? Perasaan kemarin baik-baik saja," batin Maura.


Tak ingin ambil pusing, dia memilih memejamkan mata berharap bisa terlelap seperti yang lainnya.


Bram melirik ke arah putrinya yang telah terlelap. Berulang kali, helaan nafas berat keluar dari mulutnya. Pikirannya masih tertuju dengan apa yang dia dengar semalam.


Semalam suntuk matanya tak bisa terpejam, memikirkan ulang keputusan yang dia ambil secara spontan hanya karena emosi sesaat. Ingin membatalkan tapi acara hanya tinggal menghitung hari. Dan jika dia memaksa, pasti akan menyakiti banyak pihak termasuk putrinya sendiri. Pastilah, Maura akan mengira dia mempermainkan hidupnya.


Karena resah tak berkesudahan, pagi-pagi sekali Bram memutuskan mendatangi makam istrinya. Hal yang sama yang dia lakukan ketika masih bersama Riyana dulu. Setiap kali, dia menghadapi masalah sang istri selalu bisa menenangkan pikirannya dengan perlakuan-perlakuan manis yang diiringi senyum tulus.


''Seandainya, kau masih ada, Ri. Aku tak'kan segundah ini. Aku tak'kan segegabah ini untuk hidup putri kita," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2