Pencarian Maura

Pencarian Maura
Hasil yang Mengejutkan


__ADS_3

Rayyan berjalan santai keluar bandara dengan menyeret koper besarnya. Tangannya mulai menekan tombol on pada ponsel yang dua hari kemarin sengaja ia matikan karena tidak mendapat sinyal.


Setelah kejadian malam itu, Rayyan diminta omnya untuk membantu Anton mengawasi proyek pembangunan jalan yang ada di Pulau S. Karena daerahnya lumayan terpencil ponsel Rayyan tidak bisa digunakan sama sekali. Sehingga dia memutuskan untuk menonaktifkan benda pipih itu.


"****!" Rayyan mengumpat kesal ketika mendengar kiriman voice drift dari nomor yang tidak di kenal.


Matanya membelalak sempurna ketika membuka pesan yang dikirim pamannya kemarin yang memberitahukan bahwa hari ini adalah pembacaan hasil tes.


Dia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan melintas di depannya, kemudian langsung menuju rumah sakit tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Dia merutuki kebodohannya karena sempat kecolongan seperti ini.


''Tidak-tidak. Aku tidak bisa menerima jika hasilnya positif. Dia harus menjadi milikku," batin Rayyan resah.


Dia tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


''Pak, lebih cepat. Saya sedang buru-buru," pinta Rayyan dengan wajah gusar.


''Maaf, Pak. Sepertinya di depan ada kecelakaan parah. Sehingga jalan di alihkan kearah lain."


''Apa?! Sial!"


''Beralih jalur itu artinya jarak tempuhnya semakin jauh," pikirnya semakin gelisah.


Karena tak bisa lagi membendung kekesalan, dia sampai menendang kursi yang ada di depannya. Si sopir taksi yang merasa terkejut hanya mengelus dada mendapat penumpang seperti pria ini.


...----------------...


"Maura, apa kau siap?" Emran mendampingi gadis pujaannya memasuki sebuah ruangan.


''Tunggu!" Maura mencegah tangan pria yang ingin membuka pintu ruangan.


''Kenapa?"


''Aku takut," ucapnya dengan lirih.


''Kamu tenang, ada aku yang akan selalu mendampingimu," ucap Emran untuk menenangkan wanita disampingnya.


Dia menggenggam lembut tangan gadis itu, tangan yang terasa sangat dingin karena gugup.


''Bagaimana jika hasilnya tidak sesuai harapan?"


''Aku akan selalu menjagamu darinya."


Ucapan singkat yang mampu menenangkan hati seorang Maura.


''Sudah siap?" tanya Emran sekali lagi.

__ADS_1


Maura mengangguk mantap. Keduanya beriringan memasuki ruangan dengan saling menggenggam satu sama lain.


Di dalam ruangan sudah ada Bram yang didampingi sekretarisnya. Anton, tidak ikut serta karena dia harus mengurus mega proyek yang dimenangkan atasannya beberapa waktu yang lalu.


''Baik, bisa dilihat 'kan jika amplop masih tersegel rapi. Itu artinya belum ada yang berani membukanya," kata dokter pria ber-name tage Revanno dengan menunjukkan sebuah amplop putih pada semua orang yang ada disana.


Semua mengangguk tanda setuju.


''Dan ini saya persilahkan, Tuan Bram atau Dokter Maura membuka dan membaca sendiri hasilnya," ucapnya lagi dengan menyodorkan amplop itu kehadapan mereka.


"Bukalah!" titah Bram.


''Tidak, An-anda saja." Maura menolak dengan halus.


''Tidak apa-apa, Maura. Kau saja," ujar pria baya itu dengan memaksa.


''Ba-baiklah...."


Dengan tangan bergetar, dia membuka perlahan segel pada kertas lipat itu. Dengan jantung berdebar dan perasaan was-was, dia mulai membaca kata per kata dengan sangat hati-hati, hingga pada sebuah kalimat yang tercetak tebal. Berulang-ulang, dia membaca kalimat itu berharap ada kesalahan.


''Tidak mungkin," gumamnya.


''Kenapa, Ra?" tanya Emran dengan kening berkerut.


''Kamu sudah memastikan, 'kan, Em? Kalau sampel dariku kemarin tidak tertukar."


''Iya, bahkan aku sendiri memantau ruangan itu, Ra. Tidak ada hal aneh yang terjadi, semua aman terkendali," jawab Emran yang memang saat itu tidak mengetahui keberadaan perawat pria yang ada bersamanya.


''Memangnya kenapa, Ra? Apa hasilnya?"


Tak dapat di pungkiri pria itupun juga penasaran akan hasilnya.


''Hasilnya negatif." Maura terduduk lemas di bangku yang berada di dekatnya.


Dalam hati mulai ragu jika Tuan Bram yang ada di hadapannya adalah ayah kandungnya. Bisa jadi nama mereka sama. Tapi jika bukan? Bagaimana mungkin pria itu mengenali ibunya, mengenali foto yang dia tunjukkan waktu itu, mengenali kotak perhiasan itu. Jika iya, hasil tes itu menunjukkan hasil sebaliknya. Padahal jelas-jelas tidak ada yang menukar sampel terakhir darinya. Banyak pertanyaan yang berkelebat dalam benak gadis itu, kepalanya terasa pening hanya untuk memikirkan masalah ini.


''Aku bukan anak, Tuan Bram."


''Itu artinya kau harus menerima kekalahanmu, Ra."


Rayyan masuk dengan nafas tersengal-sengal, bahkan dia masih berusaha mengatur nafasnya ketika mengatakan itu.


"Rayyan," gumam Maura.


''Sesuai tantangan yang kau katakan waktu itu. Jika terbukti kau bukan putri omku, kau bersedia menerima apapun yang ku lakukan padamu."

__ADS_1


''Kau akan menjadi milikku, Maura." Rayyan menyeringai senang.


''Tidak semudah itu," sergah Emran dengan tatapan dinginnya.


''Tuan Bram, mengapa Anda diam saja melihat putri Anda diperlakukan seperti ini?'' Emran mengajukan protes pada pria yang masih tenang duduk di kursi rodanya.


''Lalu, aku harus berbuat apa? Meskipun aku yakin dia putri kandungku, tapi aku tidak punya bukti untuk meyakinkan keponakanku."


''Apa keponakan lebih berharga dari putri kandung Anda, bahkan ada darah Anda yang mengalir dalam diri Maura," kata Emran dengan berapi-api.


Pria itu sudah tidak bisa menahan rasa geramnya. Jika saja, yang ada dihadapannya ini bukan orang yang lebih tua darinya, jika saja dia melupakan akan kesopanan yang selalu ditekankan sejak dini oleh kedua orang tuanya. Mungkin Emran sudah menghajar habis pria baya itu.


''Ternyata ini wujud asli Bramasta Haidar, seseorang yang mendapat julukan raja bisnis sepanjangan masa. Yang terkenal akan kebaikan dan kesopanannya. Rela membiarkan putri kandungannya sendiri dimiliki oleh keponakan kandungnya. Anda sangat menjijikkan, Tuan." Emran menatap rendah pria di hadapannya.


''Jaga mulutmu!" Sonia menimpali dengan mata memerah karena amarah. Dia hendak maju namun sang atasan segera mencegah wanita itu.


''Emran, cukup! Kau tidak pantas berbicara seperti itu padanya." Maura menyela cepat.


''Kenapa kau masih membelanya, Maura? Jelas-jelas, dia tidak peduli denganmu," protes Emran yang tidak habis pikir dengan gadis itu.


"Wajar jika dia tidak peduli. Karena aku bukan siapa-siapa, aku bukan putrinya. Mungkin hanya namanya saja yang sama," balas Maura dengan wajah datar.


Ada sayatan tak kasat mata di hati Bram mendengar perkataan itu. Dibalik sikap tenangnya ada kesedihan mendalam yang tersirat di matanya.


''Sudahlah, Dokter Emran. Terima saja kekalahanmu. Pada akhirnya, aku yang mendapatkan Maura," ucap Rayyan bangga.


''Bagaimana, Maura? Kau masih ingat, 'kan dengan kesepakatan kita waktu itu. Aku bebas memperlakukanmu sesuka hatiku. Dan kau tidak boleh menolak."


''Tidak ada pilihan lain." Maura menanggapi dengan datar.


''Maura, kau masih bisa menolak," pinta Emran dengan wajah frustasi melihat gadis itu pasrah begitu saja.


''Maafkan aku, Em. Aku terikat janji dengannya."


Maura hanya menurut ketika Rayyan menarik tangannya keluar dari ruangan itu.


''Tuan Bram, kenapa Anda tidak mencegahnya?"


''Diamlah, Anak Muda! Aku punya cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahku."


''Aarrghh, terserah! Yang jelas aku akan merebut Mauraku kembali." Emran pergi begitu saja dengan sejuta amarah yang bersarang dalam dada.


''Sonia, katakan pada mereka, aku ingin hasilnya hari ini juga."


''Baik, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2