Pencarian Maura

Pencarian Maura
Masih di Curigai


__ADS_3

Maura mengikuti langkah pria itu. Dia di bawa ke sebuah Cafe yang masih satu atap dengan gedung perkantoran.


''Silahkan duduk.''


Maura menuruti perintahnya dengan mata awas memperhatikan sekitar yang terlihat lumayan sepi karena waktu istirahat telah berakhir.


''Di mana ayah saya?"


''Mohon maaf sebelumnya, apa Anda benar-benar anak yang di cari tuan selama ini?" Pria itu masih menaruh curiga pada wanita muda di depannya.


''Apa Anda masih mencurigai saya?" Maura balik bertanya dengan mata memicing. Dari nada bicaranya terselip ketidaksukaan mendengar pertanyaan itu.


Si pria mengangguk. "Setelah peristiwa penculikan puluhan tahun lalu, saya sedikit waspada pada setiap orang baru. Pasalnya, ini bukan pertama kalinya. Banyak yang mengaku-ngaku seperti ini."


''Bukti apa yang Anda inginkan?" tanya Maura dengan nada dingin.


"Bila Anda memang anak tuan saya. Lantas, di mana ibu Anda, Nona?"


''Ibu saya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Saya berada di kota ini juga atas permintaan terkahir darinya." Maura berucap dengan tatapan sendu.


Pria itu hanya terkekeh sinis. Dia mengira wanita yang ada di hadapannya tengah membual.


''Ku ikuti permainanmu, Nona."


"Apa yang Anda ingin ketahui tentang saya dan ibu saya. Saya akan menunjukkan semuanya," ucap Maura pongah.


"Tunjukkan semua yang kau miliki."


Tanpa banyak bicara, Maura segera mengeluarkan sebuah kotak yang di gunakan untuk menyimpan barang-barang peninggalan ibunya. Semua isi di dalamnya, ia keluarkan termasuk dua buah surat yang di tujukan ibunya untuk dirinya dan untuk ayahnya.


''Ini yang sudah di buka, adalah surat yang ditujukan untuk saya. Anda bisa melihat sendiri isinya. Dan untuk yang masih tersegel ini untuk ayah dan saya tidak berani membukanya. Karena merupakan sebuah amanat."


Pria itu tampak mengangguk-angguk setelah membaca isi surat itu.


''Bagaimana? Apa masih kurang bukti-bukti yang saya tunjukkan?"


''Baiklah, saya percaya. Tulisan ini merupakan tulisan tangan Nyonya Riyana. Surat ini menjadi bukti mutlak kalau nona memang putri Tuan Asta dengan Nyonya Riyana. Maafkan saya karena telah mencurigai Anda terlalu berlebihan," ucapnya merasa bersalah.


''Tidak apa-apa. Saya memahami dengan apa yang Anda lakukan, Tuan. Semua itu semata-mata untuk keselamatan atasan Anda."


"Sekarang, apa bisa saya bertemu dengan ayah?" tanya Maura dengan sorot mata penuh harap.


''Maaf, Nona. Bos sedang tidak berada di tempat. Dia ada perjalanan bisnis selama beberapa hari di luar kota."


Senyum manis yang sempat terkembang dari bibir mungil itu, perlahan memudar. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.


...----------------...


Maura melangkah gontai memasuki unitnya. dia merebahkan kasar tubuhnya, lalu memejamkan mata. Rasa lelah semakin terasa bersamaan dengan beban pikiran yang ia rasakan saat ini. Dia merasa usahanya sia-sia belaka. Harapan hanya tinggal harapan.

__ADS_1


''Kapan datang, Mbak?" Mira menghampiri dengan kepala terbungkus handuk.


Sepertinya, gadis itu baru selesai membersihkan diri.


''Barusan," jawab Maura dengan lesu.


Helaan nafas berat terdengar jelas dari mulutnya.


''Bagaimana, Mbak?''


Maura menggeleng pelan. "Orangnya lagi ada urusan di luar kota selama beberapa hari."


''Padahal aku sudah sangat dekat dengannya, Mir. Kenapa begitu sulit? Apa kesabaran ku selama ini masih kurang, hingga aku dipersulit hanya untuk bertemu ayahku." Ucapan wanita itu terdengar sangat frustasi.


Mira hanya bisa mengusap pelan punggung yang terkulai lunglai itu agar sahabatnya bisa tenang.


''Sabar, Mbak. Pasti ada jalan lain untuk bertemu."


''Tapi mbak sudah meninggalkan kontak, 'kan?"


''Sudah," jawabnya lemah.


''Ya sudah tunggu saja sampai ada yang menghubungi, Mbak."


Maura hanya mengangguk, kemudian beranjak menuju kamarnya untuk mengistirahatkan diri.


...----------------...


''Wah, kemampuan Tuan Bram memang tidak diragukan lagi. The true king of business."


''Anda bisa saja, saya hanya melakukan sesuai kemampuan saya,'' ungkapnya merendah.


Diantara mereka ada seseorang yang mengepalkan tangan kuat dengan tatapan tajam, memandang pria paruh baya yang tengah tersenyum bersama para koleganya.


Pembicaraan para pengusaha itu, terhenti saat terdengar bunyi ponsel dari saku celana Bram.


"Permisi, saya angkat telpon dulu," pamitnya.


''Silahkan, Tuan Bram," jawab salah satu dari mereka.


Bram terkenal akan kesopanannya, maka tidak heran banyak rekan yang segan terhadapnya. Selain sopan, dia juga terkenal ringan tangan untuk membantu usaha-usaha kecil yang membutuhkan suntikan dana, baik dari segi hutang-piutang maupun berinvestasi pada usaha yang menjanjikan.


''Hallo," sapa Bram begitu mengangkat telponnya.


Pria paruh baya itu tidak menyadari jika ada seseorang yang diam-diam mengikutinya dari belakang.


Bram tampak mendengar dengan seksama penjelasan dari orang yang berada di seberang.


''Apa kau yakin?"

__ADS_1


''Sangat yakin, Tuan. Saya sempat memotret bukti ter-akurat, bahkan dia menyebut Anda dengan sebutan Tuan Asta."


"Kirimkan sekarang," perintah Bram sebelum mengakhir teleponnya.


Tak lama setelahnya, ponsel mahal itu kembali berbunyi tanda ada pesan masuk. Dengan segera, Bram membuka pesan itu. Matanya terbelalak melihat foto sebuah tulisan tangan yang sangat dia kenal.


''Putriku, Maura," ucapnya dengan nada bergetar.


''Putriku mencariku. Aku harus segera pulang."


Seorang wanita yang menjadi sekretaris pribadi pria itu segera menghampiri ketika melihat gelagat tak biasa dari atasannya.


''Anda kenapa, Tuan?"


''Kita pulang sekarang. Putriku mencariku."


''Tapi, Tuan—"


''Tidak ada tapi-tapian, kita pulang sekarang!" hardiknya, ''Sekian lama aku mencari mereka dan sekarang mereka mencariku. Aku tak'kan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kita pulang!"


Bram berjalan tergesa menuju dimana mobilnya berada.


Si sekretaris yang hanya seorang bawahan hanya bisa mengikuti sang atasan dari belakang.


Pria yang sedari tadi mengikuti pun segera memberi perintah pada anak buahnya yang berjaga tak jauh dari tempatnya berada.


''Lakukan sekarang! Dia menuju titik lokasi," titahnya dengan nada dingin.


''Aku pastikan kau akan habis kali ini, Bram." Angelo menyeringai seram setelah mematikan teleponnya.


Seorang pria berjaket hoodie hitam lengkap dengan topi dan masker berwarna senada yang berada di atap gedung tinggi, siap mengacungkan senjata laras panjangnya pada pria yang baru keluar dari sebuah hotel bintang lima. Setelah memastikan posisinya tepat sasaran, dia segera menarik pelatuknya dan....


DORR!


Suara tembakan itu berhasil memicu keributan di area sekitar. Banyak orang berlari menyelamatkan diri untuk menghindari adanya tembakan susulan. Diantara mereka ada seorang pria paruh baya tergeletak dengan area dada bersimbah darah.


''TUAN!" teriak sekretaris yang berada di belakang Bram.


Dia segera berlari menghampiri tuannya, lalu meminta bantuan agar sang atasan segera mendapat pertolongan.


...----------------...


Nulis part ini lumayan menguras pikiran juga ya....


Hayuk, sumbangannya gak banyak-banyak, hati sama bunga doang elah....


Jangan lupa, like, favorit dan komentarnya. Karena komentar kalian sangat berarti buatku yang remahan ini.....


See you next part....

__ADS_1


Babay....


__ADS_2