Pencarian Maura

Pencarian Maura
Divia Kepo


__ADS_3

''Yah...."


Bram terkesiap ketika merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Dia segera menghapus jejak air mata, kemudian memasang senyum untuk menutupi resah hatinya.


''Ayah kenapa? Aku perhatikan sejak pulang dari kampung, ayah sering menyendiri."


''Ayah tidak apa-apa, Maura. Tidak usah pikirkan ayah. Kamu fokus saja pada acaranya besok."


''Bagaimana aku bisa fokus, sedangkan ayah seperti ini." Maura menatap sendu ke arah Bram.


''Jangan pikirkan ayah. Ayah hanya merindukan ibumu.''


Maura percaya begitu saja dengan alasan ayahnya. Dia belum menyadari jika ucapannya malam itulah yang menyebabkan Bramasta gelisah seperti ini.


Keheningan tercipta diantara pasangan ayah dan anak itu. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


''Maura, kita tidak tahu sampai kapan kita berada di dunia ini. Jika suatu saat terjadi sesuatu dengan ayah, sandingkan ayah di sisi ibumu.''


Maura sangat terkejut mendengar ungkapan itu. Ketakutan seketika menjalar ke relung hatinya.


''Jangan bicara aneh-aneh, Yah. Tidak akan terjadi apa-apa pada ayah."


''Ayah juga minta maaf karena telah memaksamu untuk bersanding dengan pria pilihan ayah. Hanya karena emosi sesaat, ayah tega memisahkanmu dengan pria yang kau cintai. Ayah melupakan bagaimana sakitnya berpisah padahal ayah juga mengalaminya.''


''Percayalah, Maura. Ayah melakukan semua ini hanya untuk kebahagianmu. Tidak ada orang tua yang rela anaknya dihina di depan umum."


Maura terkejut mendengar penuturan panjang lebar yang keluar dari bibir sang ayah. Dia mulai menerka-nerka jika ada yang mendengar ungkapan hatinya malam itu.


''Apa ayah....''


''Iya, ayah mendengar semuanya ... Sejak malam itu ayah selalu dihantui rasa bersalah.''


Hembusan nafas berat terdengar dari bibirnya.


''Ayah merasa bahwa aku adalah ayah yang jahat, egois dan tega pada putrinya sendiri."


''Ayah tidak salah. Aku paham jika ayah menginginkan yang terbaik untukku. Lagipula, aku mulai membiasakan diri dengan keberadaan Andrian di sisiku. Ayah ingat, 'ala bisa karena biasa', itu yang selalu menjadi peganganku. Aku yakin cepat atau lambat, aku pasti bisa mencintai Andrian seperti aku mencintai Emran," ucap Maura diiringi untaian senyum tulus.


Dia berharap ucapannya ini bisa mengurangi rasa bersalah di hati pria baya itu.


Bramasta menatap penuh haru putri semata wayangnya. Dia tidak menyangka jika Maura bisa sebijak ini menyikapi permasalahannya.

__ADS_1


''Kau benar-benar duplikat ibumu."


...----------------...


''Aku harus melakukan sesuatu ... Sungguh! Aku tidak rela melihatnya bersama pria lain. Dia harus bersamaku." Emran bermonolog di ruang kerjanya. Jari-jemarinya gemerutuk mengetuk meja petanda ia tengah berfikir keras.


''Apa aku coba menghubunginya ya?"


"Semua memang salahku, harusnya aku dengarkan dulu penjelasannya waktu itu." Pria itu mengeram kesal merutuki kebodohannya sendiri. Akibat ulahnya kini tercipta jarak antara dirinya dan pujaan hati.


Tangannya segera merogoh ponsel di saku celana, kemudian men-dial nomor Maura. Teleponnya tersambung, tetapi tak kunjung mendapat jawaban. Dia mengulangi beberapa kali namun hanya berakhir dengan suara operator.


''Kamu kemana, sih, Ra?"


Dia mencoba peruntungan sekali lagi, namun nihil semua tetap berakhir sama.


''Mungkin dia sedang sibuk," gumamnya.


Dia berdecak saat mengingat jika esok adalah hari penting bagi Maura, pasti gadis itu sibuk mempersiapkan acaranya. Ada rasa kesal yang tiba-tiba merasuk ke hati Emran ketika mengingat hal itu.


''Hai, Baby," teriak Shita yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.


Dia mendekat, lalu dengan berani duduk di pangkuan Emran. Dia sengaja mengalungkan tangannya ke leher pria itu, membuat posisi keduanya terlihat begitu intim.


"Ada apa, ceritakan ke aku. Barangkali, aku bisa membantu," desaknya lagi.


'' Tidak ada, aku hanya kesal dengan kinerja bawahanku. Kami mendapat banyak komplain dari keluarga pasien hari ini," jawabnya beralibi, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.


Shita hanya mengangguk menanggapi, meski tidak tidak bisa membantu apa-apa. Dia tidak terlalu mengerti masalah rumah sakit.


''Kau sedang suntuk, 'kan, Baby? Bagaimana kalau kita cari angin keluar. Hitung-hitung, untuk menyegarkan pikiran." Shita memulai bujuk rayunya.


Emran terdiam sejenak, sebenarnya dia sangat malas jalan wanita ini. Beberapa kali keluar bersama membuatnya perlahan-lahan memahami tabiat wanita ini. Awalnya saja, dia hanya mengajak keluar dengan alasan menyegarkan pikiran, suntuk dengan pekerjaan, dan masih banyak lagi. Pada akhirnya, selalu meminta ini itu hingga membuat tagihan kartu kreditnya membengkak.


''Ayolah, Em, mau ya," rengeknya manja


Tangan wanita itu dengan lancang menyentuh dari bidang Emran, meskipun tak mendapat respon apapun dari empunya, sedangkan Emran masih konsisten menunjukkan raut datarnya.


''Turunlah!" titahnya tegas.


''Loh, kok...."

__ADS_1


''Kalau kamu tidak turun, kapan kita berangkat?" ujarnya datar.


''Eh, iya-iya...." Shita segera turun dari pangkuan Emran, berganti bergelayut manja pada lengan pria itu.


''Yuk, Baby...."


Shita menarik paksa lenganya. Dengan setengah hati Emran menuruti keinginan wanita itu.


Ashita tersenyum penuh kemenangan, karena merasa berhasil membuat Emran tunduk kepadanya.


...----------------...


 Di sebuah gedung tua, tampak beberapa orang berkumpul untuk mengatur siasat menjalankan misi mereka. Angelo tampak mengatur tugas masing-masing anak buahnya disertai pengarahan.


Di sana juga tampak Divia mendengarkan dengan saksama. Dia pun ingin misi ini berhasil sesuai rencana tanpa tercium oleh para anak buah musuh.


''Ingat, tante harus memakai pakaian yang aku sediakan. Biar bagaimanapun aku juga bertanggung-jawab atas keselamatan tante."


Divia menyeringai senang. Dia semakin mantap bekerjasama dengan pria ini. Hatinya sangat yakin, jika suatu saat terjadi sesuatu padanya. Angelo pasti akan membantunya.


''Kau tenang saja, El. Aku akan menjalankan tugasku dengan baik," sahut Divia dengan senyum terkembang.


''Dan untuk kalian...." Ello menatap tajam para bawahannya, "aku tidak ingin kegagalan. Misi ini harus berhasil. Salah satu dari mereka harus lenyap. Siapa pun dia, baik itu ayah maupun anaknya. Paham!" Suara lantangnya memenuhi seluruh gedung tua itu.


Beruntung lokasinya berada di pinggiran hutan yang sepi.


''Siap, Tuan!" jawab mereka serempak.


''Bagus. Kalian boleh bubar." Dia menggerakkan tangan meminta para bawahannya meninggalkan dirinya.


Kini hanya tersisa dia dan Divia di ruangan itu. Divia menatap penuh tanya pria di depan. Sampai saat ini, dia masih belum mengetahui alasan Angelo sangat terobsesi menginginkan kehancuran Bramasta Haydar.


''Kenapa tante menatapku seperti itu?"


''Aku hanya penasaran, kenapa kau begitu terobsesi akan kehancuran mereka? Apa alasanmu di balik semua ini?'' tanya Divia yang tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya.


Angelo masih bungkam seribu bahasa. Emosinya selalu berkobar setiap mengingat masa lalunya.


''Tidak mungkin kau melakukan semua ini tanpa alasan, 'kan?"


Divia bisa melihat tangan kekar pria itu terkepal kuat hingga menunjukkan otot-ototnya. Dia yakin ada amarah terpendam dalam dirinya.

__ADS_1


''Bukan urusan tante."


__ADS_2