Pencarian Maura

Pencarian Maura
Jabatan Baru


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Maura sudah bersiap dengan seragam jas putihnya. Hari ini, dia akan memulai pekerjaannya di tempat baru yang tidak lain adalah salah satu yayasan kesehatan milik ayahnya.


"Mari, Nona. Tuan sudah menunggu." Suara ajudannya menginterupsi.


"Iya, aku juga sudah siap." Maura berjalan terlebih dulu diikuti kedua ajudannya di belakang.


Sesampainya di depan lobby apartemen. Salah satu pria berjas rapi membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.


"Silahkan, Nona."


"Terima kasih," balas Maura dengan senyum ramah.


"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Bram ketika putrinya duduk di sampingnya.


"Siap, Yah. Tapi, apa harus memberitahukan identitasku pada mereka, Yah?"


"Harus. Mereka harus tau jika kau putriku," jawab Bram dengan tegas.


Maura hanya menghembuskan nafas pelan.


"Kau tenang saja. Tidak semua orang hanya orang-orang tertentu saja yang akan mengetahui identitasmu, Ra."


"Iya. Aku mengerti."


Tiga puluh menit waktu yang mereka tempuh untuk mencapai tempat tujuan. Sesampainya di sana, banyak orang yang berjajar rapi untuk menyambut kedatangan orang penting di rumah sakit itu. Mereka menunduk hormat ketika Bram dan Maura melintas di hadapan mereka. Tak jauh dari pasangan anak dan ayah itu, seorang pria berusia tiga puluh tahunan menyambut kedatangan mereka dengan penuh hormat.


"Selamat pagi, Tuan Bram. Selama datang, Nona."


Bram hanya mengangguk sekilas, sedangkan Maura membalas dengan senyum ramah.


"Ini putriku, Maura. Yang aku ceritakan kemarin sekaligus keluarga yang selama ini aku cari."


"Perkenalkan saya Andrian yang akan menjadi wakil Anda di rumah sakit ini." Pria bertubuh tegap itu memperkenalkan diri


"Wakil?" tanya Maura yang masih belum memahami semuanya.

__ADS_1


"Kamu akan menjadi pimpinan di ruang sakit ini, Sayang. Untuk menggantikan pimpinan lama yang sudah pensiun."


Maura sangat terkejut mendengar penuturan ayahnya. Dia kira, ia akan menjadi dokter biasa sesuai bidangnya. Tetapi ternyata, ayahnya memberi jabatan setinggi ini di tempat barunya.


"Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak, Maura. Yayasan ini milik keluarga ayah, sebagai putri tunggalku. Kau yang harus meneruskan kepemimpinan disini."


"Tapi, aku tidak punya pengalaman sama sekali mengenai hal ini, Yah." Maura mencoba menolak halus jabatan itu.


"Saya akan senantiasa membantu Anda, Nona," sahut Andrian.


"Tapi, Yah...."


"Tidak tapi-tapian, Maura. Ini sudah menjadi tugasmu," ucap Bram tanpa bisa dibantah.


Maura menghela nafas pasrah. Biarlah untuk sementara, dia menerima jabatan ini. Nanti, dia berencana membicarakan masalah ini dengan Rayyan. Barangkali, pria itu mau menggantikan posisinya.


"Baiklah."


"Temui aku saat jam makan siang di Kafe Jalan Mawar. Aku ingin membicarakan hal penting padamu."


Maura mengirimkan sebuah pesan pada sepupunya sebelum memasuki ruangan itu.


________


Tepat jam makan siang, Maura sudah menunggu di Kafe yang diberitahukan. Tak menunggu lama pula, orang yang di tunggu sudah tiba, lalu mendudukkan tubuh di hadapan gadis itu.


"Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku, Ra?"


"Aku ingin kau menggantikan posisiku di rumah sakit keluarga." Tanpa berbelit-belit, Maura langsung mengutarakan topik utama.


"Memangnya, kenapa? Bukankah bagus kau mendapatkan posisi itu?"


''Aku ingin menjadi pegawai biasa saja, Rayyan. Aku tidak ingin posisi ini," ucap Maura dengan wajah memelas. "Tolong aku...."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bicara langsung pada Om Bram. Dia pemegang kekuasaan penuh di rumah sakit itu." Rayyan memberi saran.


"Sudah, tapi ayah langsung menolak dengan tegas," kata Maura dengan nada rendah.


"Kalau begitu, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keputusan Om Bram bersifat final. Seandainya, aku bisa. Aku juga tidak mau menggantikan posisimu karena aku sendiri punya tanggung jawab besar di perusahaan peninggalan orang tuaku."


"Jalani saja, Ra. Awalnya, aku juga merasa terbebani sepertimu, tapi seiring berjalannya waktu kau akan menikmati posisimu saat ini. Berjalan sambil belajar," lanjut pria itu.


"Seharusnya, kau bersyukur mendapat jabatan ini. Kau bisa menunjukkan pada wanita tua itu jika kau bukan wanita lemah seperti yang dia kira. Kau juga bisa berada di posisi terhormat."


Maura mendongak saat mendengar ucapan terakhir dari sepupunya. Dia menatap penuh tanya pada pria itu.


"Kau pasti paham dengan orang yang kumaksud."


''Ibunya Emran," tebaknya hati-hati.


''Otak cerdas, Maura," sahut Rayyan dengan antusias.


''Aku tidak ingin memamerkan posisiku saat ini. Biarlah, dia tahu dengan sendirinya," ujar Maura dengan nada rendah.


''Kalau aku jadi kamu, mungkin aku sudah membalas perbuatannya sejak dulu. Terlebih, ayahmu sendiri mempunyai kekuasaan seperti Raichand Khan."


''Kau ingin aku kualat karena melawan orang tua, heh."


Terkadang memang sepupunya ini memberi saran atau usulan seenak jidat.


''Tapi, orang tua seperti wanita sombong itu memang pantas diberi pelajaran supaya dia jera."


"Aku bukan kamu yang ada apa-apa mesti dibalas," sewot Maura.


...----------------...


cek cek....


Aku mau tanya pada kalian, gimana masih amankah alurnya? jawab di komen ya....

__ADS_1


__ADS_2