Pencarian Maura

Pencarian Maura
Aku Akan Berusaha....


__ADS_3

''Aku gak nyangka Dokter Emran berkata seperti itu. Keliatannya, dia sayang banget sama Mbak. Asli aku ikut emosi lho ini setelah mendengar cerita Mbak Maura. Coba waktu itu Mbak ngajak aku ketemu si dokter. Pasti sudah kulahap habis itu manusia satu." Mira berucap dengan berapi-api.


Maura sudah kembali ke apartemen, dan dia juga menceritakan semua masalah yang dia alami belakangan ini pada Mira.


''Terus yang nganterin Mbak Maura tadi, itu pria pilihan Tuan Bram."


Maura mengangguk menanggapi tebakan sahabatnya.


''Lumayan, gak kalah tampan dari si dokter dingin.''


Maura mengusap kasar wajah sahabatnya. "Semua pria yang terlihat bening di matamu, kau bilang tampan, bahkan ajudan sekali pun tak luput dari sasaran mata keranjangmu."


Mira mengerucutkan bibir saat mendengar julukan yang disematkan untuk dirinya.


''Aku 'kan ngomong apa adanya." Gadis itu membela diri.


''Kalau Dokter Rayyan, tampan tidak?" Maura menyenggol pelan pundak gadis itu, dengan menaik turunkan alisnya.


''Apa sih, Mbak? Kenapa bawa-bawa dokter playboy segala. Bikin mood anjlok aja," sungut Mira dengan bibir semakin di depan.


''Iya-iya, gak usah ngambek. Nanti, cantiknya ilang. Aku cuma bercanda."


''Oh, ya, Mbak. Undangan sudah terlanjur disebar, tiba-tiba pertunangan dibatalkan begitu saja. Apa gak rugi? Mana jumlahnya ribuan lagi," tanya Mira dengan kekepoan yang hakiki.


Bibirnya gatal untuk menahan pertanyaan itu terlalu lama.


''Tetap berlanjut hanya acaranya di ganti pernikahan," jawab Maura dengan tatapan sendu.


''Terus gak ada acara lamaran dong," celetuk gadis itu.


''Ada, besok acaranya. Hanya sederhana cuma keluarga inti."


Mira melihat jelas raut kesedihan di wajah sahabatnya. ''Mbak Maura yang sabar ya ... Di balik semua ini pasti akan ada hikmahnya."


''It's Okey. Aku mencoba Ikhlas menerima takdir."


...----------------...


Di sebuah rumah megah, dua orang pria berbeda usia tengah bersitegang karena ulah si anak yang mendadak menyampaikan keinginannya. Raut kekesalan tergambar jelas di wajah sang ayah.


''Kenapa mendadak sekali, Andrian? Kita belum ada persiapan. Semestinya, kau bicarakan ini dari kemarin," protes seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah Ayah Andrian.


Andrian hanya menggaruk kepala belakangnya. Dia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia mengatakan lamaran ini atas permintaan atasannya. Bisa-bisa, ayahnya tidak akan menyetujui hal ini. Yang mengetahui permasalahannya hanya kakak angkatnya, dan dia melarang pria itu mengadu pada sang ayah.

__ADS_1


''Acara seperti ini butuh persiapan banyak. Kau kira ini permainan. Yang segera dimainkan, lalu setelah menang akan selesai.'' Ayah Andrian masih mengomeli putranya layaknya ibu-ibu yang kesal terhadap kenakalan anaknya.


''Ya, aku harus bagaimana lagi, Yah? Orang tuanya selalu mendesak untuk melamar anaknya. Karena aku terlalu sering mengajaknya keluar. Orang tuanya takut kami melakukan hal-hal yang di luar batas. Kalau aku tidak segera melamarnya, bisa-bisa aku disuruh menjauh, kemudian dia akan dijodohkan dengan pria lain."


''Aku gak mau sampai ini terjadi, Yah...." Andrian mengakhiri alasannya dengan tampang memelas.


''Turuti saja kemauannya, Yah. Aku yang akan mempersiapkan semuanya." Seorang pria yang baru memasuki rumah menyela pembicaraan mereka.


''Nah, itu kakak setuju. Jadi, besok kita mendatangi rumahnya ya, Yah," pinta Adrian dengan antusias seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.


Sang tampak terdiam seperti memikirkan sesuatu. ''Kau belum pernah memperkenalkan wanita pilihanmu pada ayah. Bagaimana ayah bisa menilai jika dia wanita yang baik atau bukan.''


Adrian berdecak sebal, sejak kapan ayahnya menjadi seorang yang pemilih seperti ini, pikirnya.


''Ayah tenang saja, yang jelas dia wanita baik-baik. Bukan seperti wanita itu," sahut Adrian menahan kesal.


Pria baya itu menghela nafas panjang. Bukan maksudnya untuk membuka luka lama putranya. Dia hanya ingin wanita terbaik untuk mendampingi putranya, tidak seperti ibunya dulu.


''Baiklah, besok kita akan mendatangi rumahnya,'' putus pria baya itu pada akhirnya.


''Di mana rumah wanita itu?" tanya sang kakak.


''Kakak pasti sangat mengenalnya. Dia putri tunggal Bramasta Haidar, rekan bisnis kakak."


''Aku ingin kakak juga ikut ke acaraku besok."


''Tidak bisa, aku besok ada perjalanan ke luar kota," selanya cepat, "aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum hari pernikahanmu tiba. Karena aku ingin memberi kejutan."


''Hmmm, baiklah."


''Setelah menikah kau menepati janjimu untuk membantuku di perusahaan. Aku mulai kewalahan mengurus semuanya sendirian. Ayah sudah tidak bisa membantu lagi." Pria itu berucap tegas disertai nada dinginnya.


''Iya-iya...."


...----------------...


Maura merenung sendirian menghadap kaca besar yang mengarah langsung pada pemandangan diluar sana. Hanya langit gelap yang luas tanpa ada bintang-bintang yang menghiasi. Pemandangan yang sangat hampa seperti hatinya saat ini.


Biasanya, jika perempuan akan mendapat pinangan dari seorang pria, akan menunjukkan wajah berseri-seri, kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Namun,berbeda dengan Maura. Raut wajahnya diselimuti awan mendung, sangat menandakan jika gadis itu tengah gelisah tak berkesudahan.


''Entah ini kesialan atau keberuntungan. Nyatanya, aku harus mengalami semua ini. Disaat aku dipertemukan dengan ayah kandungku, saat itu pula aku harus kehilangan cintaku."


''Nyatanya, kehidupan hanya tentang datang dan pergi. Kita dipaksa untuk mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita sayangi. Dulu ibuku, sekarang cintaku. Entah besok aku akan kehilangan apalagi dalam hidupku."

__ADS_1


''Yang jelas, live must go on. Aku harus siap mengahadapi apapun yang terjadi dalam hidupku esok."


''Hati, hapuslah nama Emran dari tempatmu gantikan dengan pria yang akan menjadi pendampingku. Aku tidak ingin menyimpan nama pria lain ketika aku sudah menjadi seorang istri. Aku ingin seperti ibu, hanya setia pada satu pria hingga di akhir waktunya."


Lamunannya terhenti saat mendengar bunyi nyaring dari benda pipih yang ada di tangannya. Ternyata, panggilan video dari calon suaminya.


''Hai, Ra," sapa Andrian diiringi senyum manisnya.


''Hai," balas Maura berusaha menunjukkan keceriaannya.


''Kamu belum tidur?''


''Belum, baru selesai memeriksa berkas pasien."


''Sudah malam, tidurlah! Aku tidak ingin kau jatuh sakit."


Maura membalas dengan senyum manisnya.


Sejenak, terjadi keheningan diantara keduanya, hingga suara Andrian memecah kebisuan itu.


''Ra...,'' panggilnya pelan.


''Ya...."


''Jika kau tak siap dengan pernikahan ini, kau boleh membatalkan. Aku tidak apa-apa, sungguh! Aku hanya ingin kau merasa nyaman bersamaku. Aku tidak ingin memaksamu."


''Andrian, aku sudah berjanji akan belajar menerimamu. Aku yakin kau akan menjadi yang terbaik untuk hidupku. Jangan berpikiran macam-macam tentangku. Biarkan aku belajar mencintaimu."


Andrian tak dapat menahan untuk tidak tersenyum. Dia sangat bahagia mendengar jawaban dari wanita itu. Kebahagiaan terpancar jelas dari sorot matanya.


''Aku janji, aku akan berusaha membahagiakanmu, Ra. Tidak akan kubiarkan kesedihan ataupun air mata menghampiri hidupmu."


...----------------...


Kalian pilih mana? Kubu Maura-Andrian atau kubu Maura-Emran. Yang jelas cerita ini Puanjaaaang syekali.... Masih banyak konflik bertebaran dimana-mana....


Pokok tinggalkan jejak kalian, oke....


Hadiah sama Vote seikhlas kalian....


See you next part


babay....

__ADS_1


__ADS_2