
''Nona Maura, apa yang Anda lakukan?" tanya seorang wanita yang melihat Maura tengah berjongkok di samping tempat tidur.
''Eh, a-aku se-sedang mencari cincin ya ... Cin-cincinku menggelinding di kolong tempat tidur," jawab Maura terbata-bata.
Dia berusaha bersikap normal agar tidak menimbulkan kecurigaan.
''Apa perlu bantuan, Nona?" Wanita itu menawarkan diri sambil ikut berjongkok di samping Maura.
''Tidak perlu! Biar nanti aku sendiri yang mencarinya," sahutnya cepat dengan menahan kedua lengan wanita itu.
''Ngomong-ngomong, ada apa kau kemari?" Maura bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
''Pengantin pria sudah tiba di tempat, Nona. Mereka semua menunggu Anda.''
''Oh, Ya-ya ... Su-sudah. Ayo, turun."
''Mari, Nona." Wanita itu segera mengamit lengan Maura, lalu membawanya keluar ruangan.
Ketika hampir melewati pintu, Maura melingkarkan jari telunjuk dan ibu jari di belakang punggung untuk memberi kode pada pria yang tengah bersembunyi di kolong tempat tidur. Sebagai tanda jika semua sudah aman.
...----------------...
''Aduh, berhenti sebentar."
''Anda kenapa, Nona?" tanya Fani wanita yang bertugas menjemput Maura.
''Perutku sakit, aku mau ke toilet. Aku sudah tidak tahan," ucap Maura terlihat kesakitan dengan tangan memegang area perutnya.
Fani tampak khawatir. Dia bingung harus melakukan apa karena dia belum pernah merawat orang sakit.
''Tolong, beritahu mereka untuk menungguku beberapa menit lagi. Aku sudah tidak tahan," titah Maura dengan suara tertahan.
''Baiklah, Nona, akan saya sampaikan. Tapi nona tidak apa-apa, 'kan?" tanyanya dengan raut khawatir.
''Tidak apa-apa, kau segera kesana. Jangan buat mereka menunggu tanpa kabar. Nanti, dikira aku mau kabur."
''Baiklah, Nona."
Maura menghela nafas lega setelah kepergian wanita itu. Sebenarnya, dia tadi berniat mengganti baju terlebih dulu. Namun, kedatangan Fani berhasil mengurungkan niatnya, bahkan dia juga memaksa Emran bersembunyi di kolong tempat tidur ketika mendengar suara gagang pintu dibuka.
__ADS_1
''Aku harus cepat waktuku tidak banyak." Maura bergegas kembali ke kamarnya untuk mempersiapkan semua keperluannya dan berganti baju.
...----------------...
Emran keluar dari tempat persembunyiannya setelah kepergian Maura. Dia segera turun untuk menjalankan rencana selanjutnya. Nahas, tepat di bawah balkon kamar Maura, terlihat beberapa anak buah Bram yang berjaga di sana.
''Ck, kenapa mesti ada mereka. Kalau begini caranya bagaimana aku turun," gumamnya gusar.
Dia terpaksa kembali memasuki kamar untuk memikirkan cara keluar dari tempat ini.
Beberapa menit berlalu, namun Emran belum menemukan jalan keluar. Dia semakin gusar karena waktu mereka semakin menipis, ponsel yang berada di saku celananya terus bergetar karena sang adik yang terus menelpon. Emran yang merasa terganggu segera mengangkat panggilan itu dengan kesal.
''Bisa tidak, kau tidak mengganggu terus, Emru," hardiknya.
''Cepatlah, Kak. Setengah jam lagi penerbangannya. Kau mau menggagalkan pelarianmu sendiri."
Perkataan Emru terdengar sangat menyebalkan di telinga pria itu. Pikirannya sedang dilanda kebingungan sang adik bukannya membantu mencari solusi malah membuat kepalanya semakin berdenyut.
''Masalahnya aku terjebak di sini. Kalau mau keluar harus melewati pintu kamar. Jika nekad sama saja dengan bunuh diri," kata Emran dengan raut frustasi
''Aha! Aku punya cara...."
''Otakmu memang brilian, Emru."
''Cepat, Kak! Jangan buang waktumu."
''Kau juga lakukan tugasmu untuk mengecoh para cecunguk itu," titah Emran.
''Siap."
...----------------...
''Permisi, Tuan. Nona Maura mendadak sakit perut. Dia meminta tambahan waktu beberapa menit lagi untuk menyelesaikan urusannya."
''Baiklah. Kita tunggu sampai dua puluh menit ke depan. Kau tunggulah putriku di depan toilet. Barangkali, putriku membutuhkan bantuan," ujar Bram.
Pria baya itu juga meminta asistennya untuk mengumumkan perpanjangan waktu.
''Siap, Tuan."
__ADS_1
''Baik, Tuan."
Pembicaraan mereka tak sengaja terdengar sampai ke telinga Angelo yang berada tak jauh dari tempat mereka. Tentu saja, kesempatan ini tidak akan disia-siakan oleh pria itu. Dia segera mengirim pesan pada anak buahnya untuk segera menjalankan rencana mereka. Kemudian, dia beralih mengirim pesan kepada Divia untuk bersiap-siap.
Divia yang tengah duduk tenang di tempatnya segera beranjak setelah mendapat pesan dari partnernya.
''Mau kemana, Mam?" tanya Raichand.
''Mau ke toilet sekalian ambil minum. Mama gerah karena acara tidak segera dimulai," jawabnya dengan ketus.
Raichand membiarkan saja istrinya pergi tanpa rasa curiga sedikitpun. Karena memang sedari tadi Divia terus mengeluhkan hal yang sama, bahkan wanita itu mengomentari pihak panitia penyelenggara yang terlalu lelet dan masih banyak lagi nyinyiran yang keluar dari mulutnya.
Sesampainya di tempat yang ditentukan, Divia segera mengeluarkan baju yang sudah dipersiapkan, kemudian segera mengganti bajunya tak lupa memakai serta masker dan topinya dengan menggelung keseluruhan rambutnya di dalam topi tersebut. Setelah penampilannya dirasa sempurna, dia keluar seolah tidak terjadi apa-apa.
''Bagaimana beres?" tanya Divia berbisik pada pria yang sedari tadi menjaganya.
''Beres, Nyonya. Lihatlah!" Pria itu menunjuk asap yang mengepul dari arah dapur.
Divia menyeringai senang karena rencana mereka satu per satu berjalan lancar. ''Kerja bagus. Sebentar lagi giliranku."
''Semangat, Nyonya."
''Ya...."
----------------
Para tamu yang berada di ruang utama mulai terbatuk-batuk karena asap yang mulai masuk ke tempat itu. Semakin lama kepulan asap itu semakin tebal dan pekat, sehingga membuat jarak pandang terganggu. Mereka yang berada di sana berlari untuk menyelamatkan diri ketika melihat kobaran api yang merembet melalui dekorasi pesta. Suasana yang semula tenang menjadi tidak kondusif akibat hal itu.
''Kenapa bisa seperti ini, Anton?" tanya Bram yang melihat kekacauan itu.
''Kurang tau, Tuan. Anak buah kita masih menyelidikinya. Sebaiknya, kita segera menyelamatkan diri sebelum api semakin membesar." Anton berusaha menarik tangan tuannya menuju tempat yang lebih aman.
''Tidak. Aku harus menyelamatkan putriku." Bram menolak keras ajakan asistennya. Tanpa memedulikan bahaya yang menghadang di depan sana, Bram nekad naik ke lantai atas, bahkan dia menghiraukan peringatan keras dari Anton.
''Jangan, Tuan! Bahaya!"
''Apinya semakin membesar, Tuan."
''Tuan Bram!"
__ADS_1