Pencarian Maura

Pencarian Maura
Bertemu Keluarga yang Lain....


__ADS_3

''Ayah, Bunda!"


Pasangan paruh baya yang tengah menikmati waktu paginya mengalihkan pandangan ketika mendengar suara yang sangat familiar.


Yunita menghentikan kegiatan merawat tanaman hiasnya, matanya berkaca-kaca saat melihat gadis yang sangat dia rindukan ada di depan mata.


''Ya ampun, Muara. Bunda rindu," ucapnya dengan memeluk erat putri angkatnya, bahkan wanita baya itu menciumi seluruh wajah putrinya berkali-kali.


''Aku juga rindu sama bunda," balasnya diiringi senyum manis.


''Ehem!"


"Apa kau tidak rindu pada ayah?" Suara berat Mahesa mengalihkan perhatian wanita itu.


''Pasti, dong...." Wanita itu segera berhambur ke pelukan ayah angkatnya.


''Oh, iya, Yah, Bun. Aku mau mengenalkan seseorang pada kalian sekaligus memberi kabar."


Yunita menatap penuh tanya pada putrinya.


''Sebentar ya...."


Bukannya langsung memjawab, wanita itu meninggalkan kedua orang tua angkatnya dengan rasa penasaran. Tak berapa lama, dia kembali bersama seorang pria paruh baya serta yang lainnya.


''Ayah, Bunda ... Perkenalkan ini ayah kandung Maura dan ini...."


''Akhirnya, Sayang. Usahamu berbuah manis. Bunda turut bahagia mendengarnya." Yunita menyela cepat ucapan putrinya, "lalu, siapa pria tampan ini?'' Dia beralih menatap seorang pria yang berada tepat di sisi putri angkatnya.


''Maura baru akan mengenalkannya tapi bunda keburu menyela. Kebiasaan!" gerutu Mahesa


''Maaf ya, Tuan-tuan. Istri saya memang selalu begitu," ucapnya karena merasa tidak enak dengan para tamunya.


''Tidak apa-apa. Saya Bramasta Haydar, bapak bisa memanggil saya cukup dengan Bram tidak perlu embel-embel tuan.''


''Mari, masuk ... Maaf dianggurin di luar." Yunita mengajak semua tamunya masuk ke dalam rumah.


''Maura, kau datang," teriak seorang pria yang tidak sengaja melintas.


Maura yang baru menapakkan kaki di teras pun terpaksa berhenti, kemudian menoleh ke arah si pemanggil. Senyumnya terkembang sempurna saat melihat sahabat lamanya.


''Alvaro! Ya ampun ... Gue kangen," pekiknya dengan antusias.


Dia segera berlari, lalu menghambur memeluk erat pria itu.

__ADS_1


''Loe makin gendut aja, bukan tambah kekar malah tambah melar."


''Sembarangan! Ini gue rajin fitness. Nih, lihat otot-otot gue." Alvaro menunjukkan otot-otot lengannya yang mulai terbentuk.


Acara temu kangen sepasang sahabat itu, dihentikan oleh teriakan Yunita yang meminta keduanya segera masuk.


''Maura, ajak Alvaro sekalian. Ayo, masuk.''


''Iya, Bun," balas Maura tak kalah berteriak.


''Ayo, Al. Aku perkenalkan sama keluargaku," lanjut gadis itu dengan menyeret lengan sahabatnya.


''Keluarga?" Alvaro membeo, beberapa saat kemudian matanya terbelalak saat menyadari sesuatu.


''Misimu berhasil, Ra?"


Maura mengangguk mantap.


''Selamat, Ra. Akhirnya, kau bertemu ayah kandung yang kau pertanyakan selama ini. Bagaimana ceritanya?"


''Diamlah! Ceritanya panjang. Nanti, jika ada waktu akan kuceritakan."


''Kenapa tidak sekarang saja?"


Sahabatnya ini seorang pria namun mulutnya melebihi wanita.


''Yah, ini Alvaro sahabat lamaku," kata Maura saat berada di hadapan keluarganya.


''Hai, Om," sapa pria itu canggung.


''Hai, saya Bram ayahnya Maura," balas Bram penuh keramahan.


''Sudah-sudah, ngobrolnya dilanjutkan di dalam saja. Mari, masuk...."


...----------------...


''Bunda tidak menyangka jika kepulanganmu ini membawa banyak kebahagiaan untuk kami, Maura," ungkap Yunita setelah mendengar kabar yang disampaikan putri angkatnya.


Wanita baya itu tampak menyusut setitik air mata yang mengenang di pelupuk matanya


Ketiga orang itu berada di ruang makan, sedangkan yang lain tengah berbincang dengan Mahesa di ruang tamu.


''Kapan pernikahan kalian?" tanya Yunita pada pasangan di hadapannya.

__ADS_1


''Tiga hari lagi, Bun," jawab Maura.


''Tiga hari lagi?" Yunita bertanya penuh keterkejutan. "Kenapa kalian masih bertemu?"


Andrian dan Maura saling menatap dengan kening berkerut.


''Memangnya kenapa, Bu?" tanya Andrian merasa penasaran.


''Seharusnya kalian sudah dipingit sejak seminggu yang lalu dan kalian sebagai calon pengantin dilarang keluar rumah apalagi bepergian jauh seperti ini. Kalau kata orang jawa 'ora ilok' alias pamali," tutur Bunda panjang lebar.


''Apa itu dipingit?" tanya Andrian lagi karena baru mendengar istilah asing itu.


''Pasangan yang hendak menikah dilarang bertemu dan bepergian sampai waktu yang ditentukan. Tujuannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."


''Oh, iya. Sebenarnya, tujuan Maura ke sini sekalian untuk mengundang ayah dan bunda untuk menghadiri acara kami. Apa kalian bersedia ikut?" Wanita itu segera mengalihkan pembicaraan untuk mengurai kekhawatiran ibu angkatnya.


''Bunda sangat ingin, Ra. Tapi ... Kesehatan ayah tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Dia sedang masa pemulihan, dua hari lalu ayah baru pulang dari rumah sakit. Gula darahnya tinggi."


Maura hanya mendesah kecewa, tapi dia berusaha menunjukkan senyumnya seolah tidak terjadi apa-apa. Jika menyangkut kesehatan Mahesa, wanita itu tak bisa berbuat banyak.


''Bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, terutama untuk gadis manisnya bunda." Yunita mencubit lembut dagu putrinya.


''Bunda sama ayah jaga kesehatan. Aku gak mau dengar kalian sakit lagi, titik!"


''Iya-iya, sudah gak usah manyun begitu bibirnya."


''Enggak, aku senyum. Nih...."


Maura menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


''Kamu itu bisa aja...."


Diam-diam, Andrian menarik kedua bibirnya melihat interkasi Maura dan ibu angkatnya. Meskipun, wanita itu terpisah dari arah kandungnya sejak kecil tetapi dia mendapat limpahan kasih sayang dari keluarganya yang lain.


''Beruntung hidupmu, Ra....''


''Maura, ikut gue ... Gue tagih hutang penjelasan dari loe." Alvaro tiba-tiba datang, lalu menarik paksa tangan sahabatnya tanpa memedulikan keberadaan Andrian sebagai calon suaminya.


''Eh, tapi, Al...."


''Sudah, ayo ... Gue pinjam Maura dulu, Bung."


''Oke''

__ADS_1


__ADS_2