Pencarian Maura

Pencarian Maura
Masih Berharap


__ADS_3

Divia hanya melirik sinis pria yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Dia memilih memalingkan muka enggan menanggapi ucapannya.


''Semoga kejadian hari ini bisa membuka mata hatimu, Mam." Raichand berucap lagi penuh penekanan.


''Sebaiknya, papa pergi dari hadapan mama. Aku malas ribut," balas Divia dengan ketus.


''Entah terbuat dari apa hatimu itu. Kau harusnya sadar jika Maura sangat berarti untuk Emran. Jadilah orang tua yang bijak, Mam," kata Raichand dengan frustasi.


Jujur, dia sudah jengah dengan keributan yang dibuat putranya beberapa hari belakangan. Bukan hanya diri putranya saja yang tidak terurus, melainkan tanggung jawab dan pekerjaannya pun ikut terabaikan.


Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menasehati istrinya. Hatinya sudah tertutupi dengan kebencian tanpa alasan.


''Ooo, jadi sekarang papa memihak Emran," sahut Divia penuh kesinisan.


''Aku tidak memihak siapa pun. Yang aku inginkan hanya kebahagiaan anak-anak."


''Terserah! Mama malas meladeni papa."


...----------------...


''Lebih mepet lagi. Mbak Maura jangan kaku begitu, buat pose yang mesra." Mira memberi pengarahan layaknya fotografer profesional dengan kamera ponsel di tangannya.


''Aku gak terbiasa, Mira," cicit Maura.


''Makanya dibiasakan, biar gak canggung pas malam per ... Emmpphh." Ucapan gadis itu terputus karena seseorang menyumpal mulutnya dengan satu buah donat yang ukurannya lumayan besar.


Mira mendelik sebal ke arah orang itu. Siapa lagi orang yang berani usil padanya, selain Rayyan, sedangkan pria yang dilirik masih santai menikmati makanan ringan yang ada di pangkuannya.

__ADS_1


''Begitu lebih baik. Telingaku panas mendengar suara cemprengmu yang dari tadi tidak berhenti, Mira," ujar pria itu dengan entengnya.


Mira ******* kasar makanan yang ada di mulutnya, membayangkan jika makanan itu adalah tubuh pria yang ada di depannya. Dia juga menggigit kesal sisanya dengan mata masih melayangkan tatapan permusuhan pada Rayyan.


''Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Mira memilih memalingkan muka dengan kesal, enggan menjawab pria itu.


''Udah, Mbak. Aku gak mau lagi motoin Mbak. Minta aja tuh sama sepupu mbak itu."


''Yah, gitu aja ngambek," ejek Rayyan dengan senyum meremehkan.


''Bodo." Gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan mereka.


''Ray...."


''Ogah," sahut pria itu.


''Rayyan!" geram Maura pelan penuh penekanan.


Dia juga memberi tatapan nyalang pada sepupunya.


''Iya, oke. Aku kejar, bilang saja kau ingin berduaan dengannya,'' ujar Rayyan menahan kesal, kemudian berlalu dari hadapan pasangan itu.


''Apa mereka selalu seperti itu, setiap bertemu?" tanya Andrian setelah bayangan Rayyan menghilang dari pandangan mereka.


''Ya, begitulah. Yang satu super usil satunya lagi mudah ngambek."

__ADS_1


''Apa kamu tidak berniat menjodohkan mereka?"


''Awalnya sih iya, tapi pas melihat mereka selalu seperti itu setiap bertemu. Aku menjadi ragu, setiap ketemu saja selalu bertengkar bagaimana jika mereka disatukan. Apa tidak ribut terus tuh setiap hari."


''Justru dengan begitu, sebaiknya mereka dipersatukan. Ingat, pertengkaran salah satu kunci eratnya sebuah hubungan."


''Masa sih?"


Seketika, Maura teringat masalahnya dengan Emran. Mungkinkah kesalahpahaman ini bisa semakin mengeratkan hubungan mereka. Tatapannya berubah sendu saat mengingat semua hinaan yang disematkan pria itu untuk dirinya. Rasanya tidak mungkin seperti itu. Jika dalam sebuah hubungan sudah ada pertengkaran itu artinya hubungan itu sudah tidak sehat dan harus segera diakhiri. Itu menurut pendapat Maura.


''Ya, meskipun kadang pertengkaran itu yang memicu retaknya sebuah hubungan, tergantung dari pribadi pasangan itu sendiri. Jika salah satu dari mereka mau merendah diri meminta maaf pada pasangannya, aku yakin setelah bertengkar hubungan mereka akan semakin erat," tutur Andrian melanjutkan ucapannya.


Maura hanya mampu tersenyum miris, bahkan sampai saat ini tidak ada itikad baik dari Emran untuk meminta maaf kepadanya. Seandainya, pria itu mau melakukannya. Maura pasti dengan senang hati memaafkan. Karena biar bagaimanapun rasa cintanya lebih besar daripada rasa bencinya.


"Ayo, Ra, kita foto lagi, tunjukkan cincinnya!"


''Hei, Ra." Andrian menyenggol pelan tubuh wanita yang ada di sampingnya yang membuat Maura langsung tersadar dari lamunannya.


''Eh, iya. Ada qapa?"


''Malah bengong, kamu mikirin apa sih? Ayo, kita foto dengan menunjukkan cincin.''


''Eh, eng-enggak. Ya sudah ayo...."


Keduanya foto bersama dengan berbagai pose yang sangat mesra, bahkan ada pose dimana Andrina mencium pipi Maura, sedangkan gadis itu memejamkan mata dengan menyunggingkan sebuah senyuman. Pose terakhir tampak keduanya saling memandang satu sama lain, tatapan mereka saling mengunci.


''Apa yang kau pikirkan, Maura? Bukankah kau sudah berjanji akan berusaha mencintai pria di hadapanmu? Tapi kenapa kau masih berharap pada pria yang menyakitimu?"

__ADS_1


CEKREK!


__ADS_2