
Raichand merasa ada yang aneh saat meraba sisi tempat tidurnya. Dia tidak merasakan keberadaan sang istri di sana. Dia mencoba membuka mata untuk memastikan jika dugaannya memang benar, istrinya tidak berada di tempatnya.
Pria paruh baya itu, segera beranjak mencari keseluruh penjuru kamar, mulai dari kamar mandi hingga balkon tak luput dari jangkauannya.
''Kemana si mama?"
Di berinisiatif mencari sang istri ke dapur, barangkali wanita itu lapar atau menginginkan sesuatu. Namun, nihil tempat itu pun sepi, bahkan lampu ruang utama masih padam. Para pelayan di rumahnya juga belum ada yang memulai aktivitasnya.
''Kamu kemana sih, Mam?"
Raichand kembali menaiki tangga menuju lantai atas, tempat dituju saat ini adalah kamar kedua putranya.
''Emru."
"Emru."
Pria itu berteriak sambil mengetuk pintu. Dia melakukannya berulang-ulang agar segera mendapat sahutan dari si pemilik kamar.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara kunci di putar, kemudian disusul suara pintu terbuka.
''Ada apa, Pap? hoamm," ucapnya dengan menahan kantuk, matanya masih terasa sangat berat, seolah ada beban yang menggantung di kedua kelopak matanya.
Dia merasa baru saja terlelap, dan kini harus terbangun kembali karena mendengar panggilan ayahnya.
''Kau melihat mama, tidak?"
''Tidur di kamarnya," jawab pria itu sekenanya dengan tubuh bersandar pada daun pintu.
Ingin rasanya, dia meminta sang ayah' segera pergi karena dia ingin segera melanjutkan tidurnya.
''Kalau ada di kamar. Papa tidak perlu repot-repot membangunkanmu, Emru." Raichand menendang kesal tulang kering putranya.
__ADS_1
''Aww, sakit, Pap!" pekik Emru dengan lantang.
Sontak, kedua bola matanya terbelalak sempurna karena merasakan sakit yang luar biasa pada area kakinya.
''Kalian apa tidak punya waktu untuk ribut," celetuk Emran dengan raut datarnya.
Tidur lelapnya terganggu saat mendengar pekikan lantang dari saudara kembar.
''Ya, maaf, Kak. Papa nendang kakiku dengan keras," adunya dengan mengerucutkan bibir mirip anak perawan yang sedang merajuk.
''Salahmu sendiri, orang tua bertanya baik-baik, tanggapanmu seperti itu."
''Ada apa papa malam-malam kemari?" tanya Emran.
''Papa sedang mencari mama. Dia menghilang dari kamar. Papa sudah mencari ke seluruh tempat, tetap tidak menemukan keberadaannya," papar pria baya itu.
''Ck, pasti lagi membuat masalah," gumamnya berdecak tak suka.
''Bukan apa-apa."
''Jadi, apa salah satu dari kalian ada yang melihat mama?" Raichand mengulangi pertanyaannya.
''Enggak, Pap," jawab mereka serempak.
...----------------...
Tepat pukul tiga dini hari, Divia tiba di kediamannya. Dia menghembuskan nafas lega saat tempat itu masih sama seperti saat ditinggal tadi, gelap dan sunyi. Belum ada aktifitas apapun di sana
Wanita itu melakukan hal yang sama seperti beberapa jam yang lalu, berjalan mengendap-endap layaknya pencuri yang ingin menggrasak rumah targetnya. Namun, baru beberapa langkah semua lampu yang ada di ruangan itu menyala sempurna, disusul suara bariton yang sangat familiar di telinganya.
''Kau dari mana, Mam?"
__ADS_1
Divia hanya bisa mematung di tempat. Dia menggigit bibir bawahnya berusaha untuk berfikir keras mengenai alasan apa yang akan dia sampaikan. Dia tidak menyangka jika aksinya kali ini akan kepergok oleh suaminya sendiri.
''Kau dari mana, Mam? Malam-malam begini kelayapan tidak jelas.'' Raichand mengulangi pertanyaannya dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
Seketika, wanita itu teringat akan sesuatu yang ada di tentengan tangannya. Dia segera berbalik dengan menunjukkan deretan giginya, serta menunjukkan bungkusan yang dia bawa. Sebuah kantong plastik bergambar Pak Tua yang berisi ayam goreng kesukaan anak-anak dan makanan junk food lainnya.
"Astaga, Mam," keluh Raichand yang tidak habis pikir dengan istrinya.
''Kenapa tidak membangunkan papa. Kan bisa papa antar," sambungnya dengan gemas sebelum memilih pergi meninggalkan sang istri begitu saja
Setelah dari kamar kedua putranya, Raichand bergegas menuju garasi. Pikirannya semakin tidak karuan saat melihat mobil yang biasa dipakai sang istri tidak ada di tempat, bahkan dia sempat menanyakan pada para penjaga mengenai kepergian sang istri. Namun, mereka semua kompak menggeleng tanda tidak tahu.
Raichand mengira istrinya tengah menyembunyikan sesuatu. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menunggu kedatangan wanita itu.
''Lagi pengen banget, Pap."
Ucapan Divia masih terdengar di telinga Raichand, namun dia enggan menanggapi.
Lagi dan lagi, Divia menghembuskan nafas lega saat pria itu memercayai begitu saja dengan apa yang ditunjukkan. Jadi, dia bisa terbebas dari interogasi panjang lebar suaminya
''Untung kepikiran membeli ini sebelum pulang tadi. Malam-malam sudah dibuat sport jantung. Untung, jantungku sehat.''
...----------------...
Nyambung gak nyambung di sambungin aja, enak gak enak dienakkan saja. Mode setengah hati. Tadi sudah nulis panjang, udah di koreksi tinggal up. Hanya karena salah pencet, semua tulisanku amblas gak bisa di kembalikan. 🙏🙏
Dukungannya, Guys ... Biar aku tambah semangat berhalu ria. Kembang sama hati, kuterima dengan ikhlas, apalagi kopi dkk. 😁
Tinggalkan jempol kalian, Best....
Babay....
__ADS_1