
"Terima kasih atas kesediaannya menjadi donatur di yayasan kami, Tuan. Dan maaf saya membuat Anda menunggu tadi," ucap Maura dengan senyum tulusnya seraya menjabat tangan klien.
''Tidak apa-apa, Nona. Saya paham dengan kesibukan Anda. Bukan hal mudah mengurus perusahaan sebesar milik Tuan Bramasta beserta yayasannya. Lagipula, saya juga memiliki banyak waktu senggang," jawab seorang pria berusia empat puluh tahunan.
Maura tak pernah memudarkan senyum manisnya, senyum yang membuat siapapun akan terpesona melihatnya.
''Apa Anda punya waktu senggang, Nona?"
''I-iya," jawab Maura dengan kening berkerut karena merasa aneh dengan pertanyaan kliennya.
''Apa Anda bersedia makan siang bersama saya?"
Wanita itu terlihat meragu untuk menjawab, memilih mengalihkan pandangan ke arah asistennya. Anton yang paham akan hal itupun mengangguk pelan.
''Ba-baiklah, hanya sekedar makan siang, 'kan?"
''Iya, Nona," jawab pria itu diiringi sebuah anggukan.
''Baiklah, saya bersedia."
Pria yang menjadi kliennya pun mengembangkan senyum melihat ajakannya diterima.
''Kalau begitu saya permisi dulu, ada pekerjaan lain yang harus saya selesai," pamit Anton.
''Apa Pak Anton tidak ikut makan siang dulu dengan kami?" Maura mencoba mencegah kepergian asistennya.
Akan tetapi, Anton yang tidak memahami isyarat wanita itu tetap bersikeras untuk pamit karena kebiasaan bersama Bram dulu seperti itu. Dia akan pamit ketika klien meminta makan siang bersama atasannya. Alasannya, tidak ingin mengganggu waktu santai mereka.
''Maaf, Nona. Saya benar-benar ada pekerjaan penting, lain kali saja."
Maura menghela nafas pelan karena tidak bisa memaksa pria paruh baya itu ikut bersamanya.
...----------------...
__ADS_1
Maura terlihat nyaman bersama kliennya kali ini. Suasana yang dia kira akan kaku ternyata tidaklah terjadi. Pria ini lumayan ramah dan rendah hati, ada saja topik dalam pembicaraan mereka. Pria itu mampu mencairkan suasana di antara mereka.
''Oh, ya, Nona. Boleh saya bertanya sesuatu kepada Anda? Tapi ini sedikit menjurus ke privasi." Pria itu tampak ragu-ragu untuk menanyakannya.
''Silahkan, Tuan. Tanyakan saja! Saya akan menjawab."
''Apa Anda sudah memiliki pendamping, Nona?"
Maura tersenyum kecut mendengar pertanyaan itu, bukan hanya seorang dua orang yang menanyakan hal yang sama. Diusianya yang hampir kepala tiga, dia belum juga menikah, sedangkan teman-teman sebayanya sudah banyak yang memiliki anak. Akan tetapi, dia berusaha sebijak mungkin menghadapinya.
Dia hanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
''Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung hal itu. Pasti Anda merasa tidak nyaman dengan pertanyaan saya karena saya kira sudah menikah," ucap pria itu merasa tidak enak hati.
''Tidak apa, Tuan. Saya sudah biasa mendapat pertanyaan seperti itu."
Getir yang dirasakan Maura setelah mengatakan itu. Pasalnya dia bukan lagi wanita lajang tanpa kekasih, usianya dan Emran bisa dikatakan cukup matang untuk membina rumah tangga. Tetapi entah apa yang membuat Emran tak kunjung mengutarakan niatnya.
Maura terkesiap mendapati kekasihnya sudah siap untuk memberi bogem mentah pada kliennya.
''Apa yang kau lakukan, Emran?" tanya Maura penuh keterkejutan.
Dia segera mencegah tindakan sang kekasih sebelum kembali membuat keributan di tempat umum seperti beberapa bulan yang lalu.
''Lepaskan dia, Em! Kami hanya makan siang tidak lebih," teriak Maura sembari melepas paksa genggaman tangan Emran pada kerah baju kliennya.
''Bohong!" sentak Emran.
Maura dibuat frustasi menghadapi tingkah pria, kenapa jika sudah cemburu tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
''Nona Maura benar, Tuan. Kami hanya makan siang tidak melakukan apapun. Lagian saya sudah punya istri, bahkan dia sedang hamil besar." Pria itu pun ikut bersuara untuk meluruskan kesalahpahaman mereka.
Perlahan namun pasti, Emran melepas genggaman tangannya tetapi tatapan tajamnya seolah ingin menguliti mangsanya hidup-hidup. Tanpa mengucapkan apapun dia menarik paksa tangan sang kekasih untuk menjauh dari kliennya.
__ADS_1
...----------------...
''Lepas, Em! Kamu apaan sih? Selalu seperti itu. Main hajar orang di tempat umum." Maura menghentak kasar tangan yang berada di genggaman Emran. Kekesalan yang belum sempat surut kian bertambah akibat ulah pria itu
''Aku gak suka kamu dekat sama pria lain selain aku, Ra. Hatiku panas, aku cemburu," balas Emran menahan geram berusaha untuk tidak meluapkan kekesalannya.
Maura sebisa mungkin untuk menahan senyumnya. Tak disangka kejadian ini secara tidak sengaja telah mewujudkan niatnya tadi pagi.
''Tapi cemburumu terlalu buta, Em. Aku tidak suka," protesnya.
Wanita itu memilih memalingkan tubuh membelakangi kekasihnya. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Puas rasanya telah membuat pria ini cemburu.
"Lagipula, buat apa kau cemburu. Aku hanya kekasih bukan istrimu," lanjut Maura lagi dengan ketus.
Dia masih melanjutkan aksi pura-pura merajuk. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Emran akan kode darinya.
''Ooo, apa aku harus jadi suamimu dulu, Ra? Agar aku bisa leluasa mencemburuimu, hem...."
Maura menekan mulutnya rapat-rapat umpannya sudah ditangkap mangsa. Kini tinggal menambah bumbu supaya semakin sedap.
''Ya 'kan aku wanita bebas, tidak ada ikatan yang mengikatku. Jadi, aku bebas dong dekat dengan siapapun," kilahnya.
Emran mengeraskan rahang mendengar ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya.
''Ini tidak bisa dibiarkan, wanita ini jika dibiarkan akan semakin menjadi," batinnya menahan geram.
''Oke, kalau begitu. Besok kita ke Kantor Urusan Agama untuk menjadikanmu milikku seutuhnya."
''YESS!"
...----------------...
__ADS_1