
Emran menunggu dengan harap-harap cemas. Setengah jam lebih berlalu, namun Bram dan Maura belum menunjukkan batang hidungnya. Berulang kali, dia mengecek laptop untuk berjaga-jaga jika ada situasi darurat. Nihil, tidak ada tanda apapun dari alat yang sudah disediakan.
Netranya berganti melirik kearah Rayyan. Pria itu malah asik memejamkan mata di atas kap depan mobilnya.
"Ray, aku akan memeriksa kesana. Kau tunggu disini," kata Emran menghampiri pria yang sedang menutup wajah dengan topi.
"Hmmm...." Hanya gumaman pelan yang keluar dari mulut Rayyan.
"Kau dengar tidak?" tanya Emran dengan kesal.
"Iya-iya, aku dengar," jawab Rayyan tanpa membuka mata.
"Jangan cuma iya-iya, segera kerjakan yang aku perintah," ujarnya sembari berlalu pergi.
Emran bersama anak buahnya menyusuri jalan setapak yang tadi dilalui Bram. Semakin mendekat telinganya seperti mendengar suara orang berkelahi. Dia mengikuti asal suara itu, hingga terdengar semakin jelas.
Pria itu segera mempercepat langkahnya ketika mendengar jeritan dari seseorang yang dia kenal.
''Maura!" teriak Rayyan saat melihat gadis pujaannya tersungkur di belakang pria baya yang masih fokus menangkis serangan lawannya.
Bram yang mendengar teriakan itu pun mengalihkan pandangan sehingga dia tidak fokus pada lawan di depannya. Dia juga terkejut melihat putrinya yang jatuh tak sadarkan diri di dekatnya. Alhasil, kelengahan Bram di manfaatkan pihak musuh untuk membekuk pria itu.
''Arrghhh...."
Teriakan Bram begitu menyayat hati siapa pun yang mendengar. Darah segar tampak merembes di baju pada bagian dada sebelah kiri.
''Tuan Bram!" teriak Emran.
Tanpa diminta, anak buah Emran segera bergerak menghajar para preman itu, sedangkan Emran dibantu anak buahnya yang lain bergerak menghampiri Maura dan Bram yang tak sadarkan diri.
''Bawa Tuan Bram ke mobil, kalian urus mereka semua. Beri mereka pelajaran yang setimpal," titah Rayyan dengan rahang mengeras.
Dia membopong tubuh Maura yang berbalut jasnya.
''Baik, Tuan," jawab Mereka serempak.
...----------------...
''Kenapa mereka, Emran?" tanya Rayyan dengan wajah panik ketika melihat Emran dan anak buahnya membawa sepupu dan omnya yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
''Mereka diserang."
Rayyan mengepalkan tangannya kuat. ''Kurang ajar!"
''Kau bawa segera bawa mereka ke rumah sakit. Biar aku yang mengurus di sini," ucap Rayyan dengan sorot mata mengerikan.
Pria itu mengajak anak buah yang tersisa untuk mengikutinya. Dia merutuki dirinya sendiri yang ketiduran sehingga tidak mendengar sinyal darurat yang dikirimkan Maura.
''Bodoh kau, Ray. Kenapa kau seceroboh itu." Rayyan dengan geram memaki dirinya sendiri.
Emran segera membawa Maura ke dalam mobilnya, sedangkan Bram segera dibawa ke mobil pria itu untuk mendapat pertolongan pertama sebab luka jahitan bekas operasi robek akibat serangan musuh tadi.
''Maafkan aku, Ra," ucap Rayyan dengan lirih dengan mengusap lembut pipi mulus wanita itu. Wajahnya terlihat sangat pucat.
Dia segera menghidupkan mesin mobil untuk membawa Maura ke rumah sakit terdekat.
...----------------...
''Bodoh kalian semua!''
''Apa gunanya membawa kalian jika Om Bram masih terluka parah seperti ini. Apa saja yang kalian kerjakan? Apa telinga kalian sudah tidak berfungsi sampai tidak mendengar perkelahian di dekat kalian, HAH!'' Rayyan berteriak marah di hadapan para pria bertubuh kekar berbaju hitam—anak buah Bram.
''Jika sampai terjadi sesuatu dengan mereka. Kalian harus mempertanggung jawabkan semuanya," ancam Rayyan sebelum meninggalkan ruangan itu.
''Awasi orang-orang itu. Buat mereka mengaku siapa yang menyuruh mereka. Apapun caranya!" titah Rayyan kada salah satu anak buahnya yang ia tugaskan untuk berjaga.
''Siap, Tuan."
...----------------...
''Punggungnya hanya memar akibat hantaman benda keras. Tidak ada luka serius yang perlu dikahwatirkan."
''Kondisinya sangat lemah. Dia kekurangan cairan. Pastikan setelah bangun nanti segera beri dia asupan makan dan minum untuk memulihkan tenaganya."
Emran mengeraskan rahang kala teringat penjelasan dokter beberapa menit yang lalu. Dia menatap nanar wanita yang terbaring tak berdaya di hadapannya dengan menggenggam lembut jari tangannya.
''Maafkan aku, Ra."
Entah sudah kali ke berapa ia mengucap kalimat itu. Rasa bersalah masih menghantui dirinya terlebih melihat kondisi Maura yang seperti ini.
__ADS_1
''Bagaimana keadaannya?" tanya Rayyan yang tiba-tiba berdiri di samping pria itu.
"Dia dehidrasi hanya butuh istirahat total."
''Bagaimana om ku?" tanya Rayyan saat mengingat omnya yang terluka.
''Ada sobekan sedikit pada bekas jahitannya. Beruntung segera tangani. Tuan Bram juga harus istirahat total tidak boleh melakukan aktivitas berat," terang Emran.
Rayyan hanya menghembuskan nafas kasar saat mengingat sifat omnya yang keras kepala.
''Apa pelakunya sudah di temukan?"
''Kita bicara di luar. Biarkan Maura istirahat."
Emran menyetujui perkataan pria itu, lalu mengikutinya keluar ruangan.
''Apa pelakunya sudah di temukan?" Emran mengulang pertanyaannya dengan tatapan dingin.
''Mereka hanya preman bayaran. Mereka tidak mengenal pria menyuruhnya."
''Pria ini sangat cerdik. Aku juga curiga, dia orang yang sama di balik penembakan Om Bram. Dia bermain bersih tanpa jejak. Para anak buahnya orang bayaran semua," lanjut Rayyan.
''Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Awas saja jika nanti pelakunya di temukan."
Terjadi keheningan beberapa saat diantara mereka. Dua pria itu sibuk dengan pikiran masing-masing.
''Apa kau masih menginginkan Maura?"
Rayyan menghela nafas pelan.
''Entahlah, rasanya aku masih belum rela jika dia saudaraku. Sangat sulit bagiku untuk melupakan rasa ini."
Emran mengepalkan tangan kuat mendengar pengakuan pria di sampingnya.
''Tapi, aku juga tidak ingin mengecewakan Om Bram lagi. Aku sangat memahami apa yang dia rasakan. Aku melihat sendiri bagaimana usahanya selama ini. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya."
''Satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak akan membiarkan kau mengambil Maura dariku seperti kemarin." Emran berkata dengan suara beratnya.
Rayyan hanya terkekeh pelan mendengar keposesifan pria itu.
__ADS_1
''Sebenarnya, bukan aku yang menjadi musuhmu, melainkan ibumu sendiri, Dokter Emran." Rayyan menepuk pelan pundak kekar itu sebelum berlalu meninggalkan sendirian.