
''Maura, coba lihat sini. Ayah ingin menunjukkan sesuatu."
Maura mengurungkan niat untuk menuju kamarnya. Dia beralih menghampiri sang ayah yang tengah sibuk dengan beberapa majalah di tangannya.
"Ada apa, Yah?"
''Ini kamu pilih, mana tempat yang kamu suka untuk acara pertunangan besok. Pilih sesuai seleramu, berapa pun biayanya tak masalah bagi ayah."
Maura hanya diam menatap datar katalog yang disodorkan ke hadapannya. Dia tak berminat sama sekali untuk memilih. Bila perlu acara ini tidak usah diadakan.
Malam itu, Bram mendatangi kamar Maura untuk memberitahukan jika Andrian telah setuju dengan perjodohan ini. Pria baya itu memohon pada putri semata wayangnya agar menerima pilihannya. Karena memang menurutnya, Andrian lah pria yang tepat untuk putrinya. Terlebih, usia Maura bisa dikatakan matang untuk menuju pelaminan. Dia hanya ingin menunaikan tugas terakhirnya sebagai seorang ayah, yaitu menikahkan dan menjadi wali nikah untuk Maura.
''Terserah ayah. Aku menerima semua pilihan ayah."
Kalimat yang sama yang terucap dari bibir Maura sejak malam itu. Untuk menolak pun tidak kuasa, meskipun dia ingin. Maura tidak ingin ayahnya semakin membenci Emran karena menolak perjodohan ini.
''Apa kau tidak bahagia? Kenapa wajahmu murung seperti itu, Sayang?" Bram menatap intens raut muka putrinya.
Maura segera menampilkan senyum terbaiknya. Dia harus berpura-pura bahagia, seolah dia juga ingin acara ini terjadi.
"Aku sangat bahagia. Aku hanya capek, kerjaanku menumpuk gegara kutinggal absen beberapa hari, kemarin," ucapnya dengan memeluk ayahnya dari samping.
''Istirahatlah! Ayah tidak ingin putri cantik ayah tumbang lagi seperti kemarin."
''Baik, Yah. Aku ke kamar dulu," pamit Maura.
Dia menyempatkan mencium pipi pria baya itu sebelum menuju kamarnya.
''Terima kasih, Riyana. Kau telah mendidik putri kita dengan baik," batin Bram dengan memerhatikan punggung itu hingga menghilang di balik tangga.
Sesampainya di kamar, Maura segera menutup pintu, lalu menguncinya. Dia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu itu. Perlahan, tubuhnya meluruh ke lantai, bersamaan dengan air mata yang mengucur deras ke pipi mulusnya. Dia meremat baju bagian depan, berharap sesak yang ia rasakan segera hilang.
''Kenapa rasanya sesakit ini? Mungkin ini yang kau rasakan waktu itu, Em?"
Wanita itu terisak dalam dengan menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut. Ingin rasanya, dia lari dari tempat ini, kemudian pergi ke sebuah tempat di mana tidak ada orang yang mengenalnya.
"Ceroboh! Kenapa kau membiarkan hatimu merasakan cinta, Ra? Bodoh!" teriaknya.
Berbagai umpatan dan makian terucap dari bibir Maura untuk dirinya sendiri. Tangisnya begitu pilu, seandainya ada yang mendengar.
''Bu, seandainya ibu masih ada. Aku ingin menangis di pangkuan ibu seperti saat aku dilanda kesedihan. Aku rindu ibu...," jeritnya dengan tangis yang semakin pilu
__ADS_1
''Kenapa disaat aku bertemu dengan ayahku, disaat keinginan dan impianku terwujud. Aku juga harus kehilangan cintaku," .
...----------------...
[Ayah menyuruhku memilih tempat untuk acaraku, nanti]
[Tempatnya sangat indah. Seandainya, itu bersamamu. Aku pasti akan sangat bahagia]
Emran hanya menatap nanar dua pesan yang dikirimkan gadis pujaannya. Dia hanya membaca tanpa ada niatan membalas.
"Semoga bahagia," gumamnya.
Dia tidak menyangka akan mengalami kisah cinta yang serumit ini. Mereka di tuntut untuk saling berkorban satu sama lain.
Sama halnya dengan Maura, dia juga baru merasakan cinta. Dia hanya pernah dekat beberapa wanita tapi semuanya hanya sekedar ingin tanpa melibatkan hati. Maka dari itu, setiap kali ibunya menolak para wanita itu. Emran akan suka rela melepasnya. Tetapi, berbeda dengan kali ini. Sesungguhnya, dia tidak sanggup. Namun, keadaan memaksa mereka untuk berpisah.
"Kau sedang apa, Kak?" tanya Emru tiba-tiba duduk di sampingnya.
Emran segera memencet satu tombol yang membuat layar ponselnya gelap. Dia segera menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celana.
"Tidak ada hanya cari angin," jawabnya datar.
''Cari angin tapi muka mellow begitu," cibir pria tampan itu.
"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Emran untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sejauh ini stabil. Investor baru itu membawa pengaruh positif untuk perusahaan kita. Ya ... Meskipun kita tidak bisa seperti saat Tuan Bram berinvestasi. Tapi, lumayan daripada terpuruk seperti kemarin," papar Emru panjang lebar.
''Syukurlah!"
''Bagaimana hubunganmu dengan Maura, Kak?"
''Tidak ada."
''Maksudnya?" Kening Emru berkerut dalam menandakan dia belum memahami maksud kakaknya.
''Dia dijodohkan dengan pria lain."
"Ckckck, kisah yang tragis." Pria itu berkomentar.
"Lebih baik kau diam, sebelum mulutmu kusumpal dengan sandal."
__ADS_1
Emru mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Meskipun, Emran terlihat tenang tapi dari nada bicaranya sangat menyiratkan ketidaksukaan.
''Kau harus ikhlas, Kak. Lagian, kau sendiri sudah punya Shita. Ingat, kita ini sudah bertunangan."
Waktu itu, sebelum keributan terjadi. Kedua pria itu sudah melakukan acara utama, yakni pertukaran cincin. Maura sengaja datang terlambat untuk menghindari acara itu. Karena dia tahu, dia tidak akan sanggup melihat Emran bertukar cincin dengan wanita lain.
''Diamlah!" hardik Emran.
Suasana hatinya selalu memburuk setiap kali membahas masalah ini. Pasalnya, dia sendiri tidak mengakui jika dirinya sudah mempunyai calon istri. Dia selalu menyangakal kenyataan itu. Dia menganggap dirinya masih lajang. Terlebih, calon istrinya sangatlah tidak sesuai dengan kriterianya, gadis manja, banyak maunya dan menuntut Emran ini itu agar sesuai keinginannya, sangat berbanding terbalik dengan Maura.
''Kau pergilah! Ada kau di sini semakin memperburuk suasana hatiku." Emran mengusir adiknya.
Emru hanya mendengus kesal. "Padahal kau bisa curhat kepadaku, Kak," gerutunya sembari berlalu dari hadapan pria itu sebelum semburan naga api mengarah kepadanya.
Emran tak memedulikan hal itu. Yang jelas, dia hanya ingin sendiri tanpa ada yang mengganggu.
...----------------...
''Emru, si kakak kenapa?" Divia menghadang jalan putranya yang ingin memasuki rumah.
Sesekali, matanya melirik putra bungsunya yang tenang termenung sendirian di taman belakang rumahnya di malam larut ini.
"Galau," jawabnya singkat seraya melenggang pergi dari hadapan ibunya.
''Galau kenapa?" Divia mengikuti langkah panjang putranya hingga di ujung tangga.
Emru menghela nafas, kemudian berbalik menatap ibunya.
"Gadis pujaannya dijodohkan sama pria lain. Sampai sini paham, Mamaku Sayang," jelas Emru dengan merapatkan giginya menahan gemas.
''Maksudnya Maura?"
"Iya...," jawabnya dengan menaiki tangga, hingga suara pria itu menggema di penjuru rumah.
Segaris senyum terkembang di bibir wanita baya itu. Artinya, hubungan Maura dan dan Emran benar-benar renggang. Keduanya semakin menjauh.
"Sepertinya, aku harus memberitahukan kabar bahagia ini?"
Divia bergegas menuju kamar untuk mengambil ponsel, lalu menghubungi seseorang.
''Hallo...."
__ADS_1
"Aku ada berita bagus untukmu...."