
''Ya ampun, Mbak. Ini apartemen apa istana. Tempatnya lebih luas dari tempat tinggalku sebelumnya, berkali-kali lipat malah luasnya." Mira berdecak kagum ketika memasuki tempat tinggal barunya.
Matanya memperhatikan sekeliling, semua perabot yang ada di sana terlihat mewah. Dan dia bisa menempati tempat ini secara gratis tanpa memikirkan sewa bulanan lagi.
''Misalkan aku disuruh menyewa. Mungkin, uang sewanya per bulan setara dengan gajiku selama tiga bulan."
''Hanya apartemen saja berlantai dua, apalagi rumah utama. Pasti berlantai-lantai dengan halaman seluas lapangan terbang."
Maura menggelengkan kepala mendengar celotehan gadis itu.
''Sampai kapan kamu akan mengagumi tempat ini, Mir?"
''Sampai aku puas, Mbak," jawab Mira masih dengan kegiatannya.
''Mbak, aku mau lihat-lihat ruangan yang ada di lantai dua."
''Iya...."
''Barang-Barang Anda mau ditaruh di mana, Nona?" tanya seorang pemuda yang membawakan barang bawaan Maura.
''Letakkan di situ saja. Aku yang akan menatanya sendiri."
''Ya ampun tampannya," celetuk Mira dengan mata berbinar.
Dia menatap penuh damba salah satu ajudan yang ditugaskan Bram untuk menjaga Maura.
''Mira, kau naiklah! Jangan membuat malu," titah Maura penuh ketegasan pada gadis itu.
''Aku hanya mengangumi ciptaan terindah dari Tuhan Yang Maha Kuasa."
Karena merasa sia-sia melarang sahabatnya, Maura berganti memerintah ajudannya. ''Kau boleh keluar, tugasmu sudah selesai. Nanti, jika aku butuh sesuatu, aku akan menghubungimu."
''Baik, Nona." Pemuda itu menunduk hormat sebelum undur diri.
''Yah, Mbak ... Kok disuruh pergi, padahal aku mau kenalan." Mira mendesah kecewa.
''Sudah gak usah ganjen. Sekarang, mendingan kamu tata barang-barangmu ke kamarmu."
''Iya...."
Maura dibuat heran dengan tingkah sahabatnya yang terkadang masih seperti anak kecil. Dia memilih membawa barang-barangnya ke sebuah ruangan yang berada di lantai bawah sebagai kamar pribadinya.
Deringan keras dari ponsel mengalihkan sejenak perhatian gadis itu. Dia mengangkat panggilan itu setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
''Hallo."
__ADS_1
''Aku mendatangi tempat tinggalmu tapi kata para tetanggamu kau sudah pindah. Kamu pindah kemana, Ra? Kenapa tidak memberitahuku?"
''Kenapa juga kau tidak membatalkan pengunduran dirimu waktu itu? Apa maksud tindakanmu, Ra? Kau ingin menjauhiku?"
Pertanyaan beruntun dari Emran membuat Maura bingung untuk menjawab.
''Emran, aku bisa jelaskan semuanya, tapi tidak melalui telepon. Aku kirimkan alamat baruku."
''Iya, cepat. Aku tidak bisa menunggu lama," desak Emran, kemudian mematikan sambungan secara sepihak.
Maura segera melakukan apa yang diminta pria itu, sebelum dia kembali mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaannya.
...----------------...
Emran segera mendekap erat tubuh Maura ketika gadis itu membuka pintu. Dia sudah berpikiran yang tidak-tidak saat tidak menemukan Maura di tempat tinggalnya. Berbagai macam pikiran buruk menghantui dirinya.
''Syukurlah, aku menemukanmu di sini."
''Kamu kenapa?" tanya Maura bingung dengan posisi tubuh menempel erat pada tubuh pria itu.
''Aku takut kau pergi jauh dariku," ucapnya lirih.
''Aku tidak kemana-mana. Tidak mungkin aku pergi jauh dari sini. Keluargaku ada disini.'' Maura melerai pelukannya, "jadi buang jauh-jauh pikiran burukmu."
''Yuk, masuk. Gak enak dilihat orang bermesraan di depan pintu."
''Gak usah aneh-aneh."
Emran terkekeh kecil saat melihat wajah kesal gadis pujaannya.
''Maaf, aku lupa memberitahumu mengenai kepindahanku."
''Kenapa kau tidak membatalkan pengunduran dirimu?" Emran menyela cepat ucapan Maura.
''Aku punya alasan, Em."
''Kau ingin menjauhiku, itu alasannya,'' sahut Emran kesal.
''Tidak, bu-bukan seperti itu." Maura segera menyangkal dugaan pria itu, bagaimana pun juga dia tidak ingin Emran salah paham.
''Aku diminta ayah mengabdi di salah satu yayasan miliknya, dan aku tidak bisa menolak." Wanita itu berusaha memberi pengertian pada pria di sampingnya.
''Itu artinya kau dan aku akan berjauhan, Maura. Apa aku bisa sehari saja tidak melihat wajahmu?"
Sontak, Maura tidak bisa menahan tawa mendengar penuturan Emran yang menurutnya terlalu berlebihan.
__ADS_1
''Apa ada yang lucu sampai kamu tertawa seperti itu?'' Emran menyorot tak suka gadis di depannya.
''Mukamu yang lucu. Kamu gak pantes gombal, apalagi minim ekspresi begitu. Asli gak banget, Em," kata Maura masih dengan sisa tawanya.
''Ra...."
''Iya, ada apa?''
''Mama ingin menjodohkan aku dengan wanita pilihannya."
Maura terdiam sesaat, kemudian menarik paksa kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.
''Wow, bagus, dong. Sebentar lagi, kau akan mengakhiri masa lajang." Gadis itu berusaha memperlihatkan kegembiraannya, meskipun ia harus menahan sesak dalam dada.
''Bukan ini tanggapan yang aku harapkan darimu, Ra," kata Emran dengan sorot penuh kekecewaan.
Maura mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
''Ternyata, aku salah. Aku kira, kau sudah memiliki perasaan padaku."
''Katakan yang jelas, Emran," protes Maura.
''Bukan ini tanggapan yang kuharap darimu, Ra. Aku berharap, kau akan memohon padaku untuk menolak perjodohan itu, lalu memintaku untuk segera melamarmu."
''Apa aku pantas meminta hal itu?" Maura balik bertanya.
''Semantara, posisiku bukan siapa-siapa bagimu. Aku bukan pasanganmu, kita tidak memiliki hubungan spesial hanya sebatas teman, terlebih ibumu juga sangat membenciku, bahkan menginginkan aku jauh menjauhimu, Em." Wanita itu berucap dengan mata berkaca-kaca, genangan air tampak menumpuk di kedua pelupuk matanya.
''Kenapa kau diam? Kau sendiri pun tak bisa menjawab, 'kan?" tanya Maura penuh kekecewaan.
''Mungkin, ini salah satu usaha ibumu untuk menjauhkanmu dariku."
''Tapi, Ra ... kita bisa berjuang bersama." Emran menggenggam lembut jemari gadis itu.
''Terimalah perjodohan itu."
''Tapi, Ra...."
''Terimalah, Em. Jangan kecewakan ibumu, demi aku." Maura mengeluarkan kata pamungkas untuk membujuk pria itu.
Emran menghembuskan nafas kasar, hingga kada akhirnya dia hanya jasa pasrah.
''Baiklah."
''Yakinlah, bila kita berjodoh pasti akan ada jalan untuk kita," kata Maura diiringi senyum tulusnya.
__ADS_1
Senyuman yang mampu membuat Emran merasa tenang.