Pencarian Maura

Pencarian Maura
Rencana


__ADS_3

"Emran, akhirnya aku bisa bertemu denganmu," ucap Maura dengan mendekap erat tubuh pria di depannya.


Emran segera mendatangi kediaman Bramasta Haidar saat, Rayyan memberitahukan jika Maura sedang sakit dan tengah mencarinya, saat ini.


''Kau kenapa, Ra? Kenapa wajahmu pucat begini? Dan apa ini?" Emran menunjuk selang infus yang ada di dekatnya.


''Aku tidak apa-apa, Em. Jangan khawatir," ucap Maura dengan senyum lembutnya.


''Bagaimana aku tidak khawatir. Tubuhmu ringkih seperti ini, mirip mayat hidup," protes Emran, kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.


"Gara-gara mogok makan berhari-hari ya, hasilnya begitu. Om Bram tidak membolehkan balik ke apartemen karena dia takut, Maura akan menemuimu secara diam-diam," sahut Rayyan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


''Lah, terus ini apa? Di rumahnya langsung malah," sanggah Emran.


Maura terkikik geli, "kita kucing-kucingan."


Emran menghela nafas kasar, mendengar itu semua.


"Lalu bagaimana jika sampai ketahuan?"


Senyum yang sempat terkembang di wajah pucat Maura perlahan memudar. Dia merasa Emran tak menghargai usahanya kali ini.


"Kamu kok gitu, sih? Ini aku udah berusaha untuk bertemu denganmu, Em. Seharusnya, kamu menghargai usahaku bukan malah protes begini," sungutnya dengan mengerucutkan bibir.


''Bukan begitu, Maura. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, tapi tidak dengan jalan seperti ini," kata Emran berusaha memberi pengertian pada gadis itu.


Rayyan merotasi kedua bola matanya melihat drama pasangan tak resmi yang ada di depannya.


''Kalian ini aneh, kalian tidak menjalin hubungan apapun tapi tindak tanduk kalian mirip pasangan tak direstui." Pria itu berkomentar.


''Emran, aku setuju dengan ajakanmu malam itu. Jika masih berlaku."


Maura membahas kembali ajakan Emran tanpa menghiraukan protes dari Rayyan.


''Tidak, Maura. Aku ingin kau menuruti perintah Tuan Bram. Lupakan ajakanku malam itu, anggap saja aku sedang mabuk." Emran menolak keras.


''Tapi, Em...."


Emran segera membungkam mulut wanita itu dengan telunjuknya.


"Aku tidak ingin kau menjadi anak durhaka, Ra. Aku tau bagaimana perjuanganmu mencari ayah kandungmu. Tolong, jangan pernah berfikiran seperti itu lagi."


Air mata Maura luruh tanpa bisa dicegah. Dia menggeleng kuat, tidak ingin menerima pinangan pria lain yang tidak ia cintai, meskipun itu masih rencana.


"Aku tidak bisa," lirihnya dengan menggeleng kuat.


Rayyan hanya bisa mengernyit bingung, tanpa tahu arah pembicaraan dua manusia itu. Ajakan macam apa yang diutarakan Emran, hingga membuat Maura menjadi anak durhaka, dia mencoba menerka-nerka dalam hati.

__ADS_1


"Ayo, kita kawin lari...."


"APA?! Kau jangan gila, Ra," sahut Rayyan cepat.


''Ini jalan satu-satunya."


''Sebaiknya, kamu makan dulu. Aku suapi." Emran meraih sepiring nasi yang berada dalam jangkauannya untuk mengalihkan pembahasan gadis itu.


''Tidak! Sebelum kau menyentujui keinginanku." Maura memalingkan muka, menolak sesendok nasi yang berada tepat di depan mulutnya.


''Makan dulu, baru kita bahas nanti," ujar Emran setengah memaksa.


Mendengar hal itu, hati Maura sedikit luluh. Perlahan, dia membuka mulutnya untuk menerima makanan itu.


''Benar ya nan ... Emmpphh...."


Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, Emran segera menyumpal mulut gadis itu dengan sesendok penuh nasi yang ada di tangannya, bahkan dia melakukan hal yang sama secara berulang-ulang hingga nasi yang ada di piring tandas.


"Anak pintar." Pria itu tampak tersenyum puas berhasil mengelabui gadis itu


Berbeda dengan ekspresi Maura yang berbanding terbalik, bibirnya tampak mengerucut kesal karena merasa ditipu oleh pria di hadapannya.


"Nyebelin!"


...----------------...


Rayyan tidak bisa lagi membendung rasa penasarannya. Setelah memastikan Maura terlelap setelah meminum obatnya, Rayyan mengajak Emran keluar. Mereka memutuskan untuk bersantai di sebuah Coffee Shop yang terletak tak jauh dari kediaman Bram.


''Aku tidak segila itu," jawab Emran singkat.


''Lantas, kenapa malam itu, kau mengatakan itu padanya?" tanya Rayyan memicing tajam.


''Waktu itu, aku benar-benar stres dengan permintaan ibuku. Aku tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di pikiranku hanya bagaimana cara memiliki Maura seluruh, hingga terlintas pikiran itu dalam pikiranku."


''Kenapa kau tidak memperjelas hubunganmu dengan Maura?"


''Aku sudah mengutarakan perasaanku tapi dia menolaknya dengan alasan asmara bukan prioritas dalam hidupnya," kata Emran apa adanya.


''Aku kadang tidak habis pikir, kenapa kau sebodoh ini?"


Emang langsung menatap tajam pria yang bersamanya.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?"


''Sebenarnya, kau ini punya otak apa tidak? Kau mengungkapkan perasaanmu sewaktu Maura mencari ayah kandungnya dulu, sedangkan sekarang...." Rayyan menghembuskan nafas kuat, tidak habis pikir dengan pria ini


''Apa cinta mengubah seseorang menjadi bodoh?" batinnya.

__ADS_1


Emran terdiam memikirkan perkataan Rayyan. Dia bisa saja mengutarakan kembali perasaannya tetapi kini....


"Situasinya berbeda, Rayyan," sahut Emran lemah, "kemungkinan besar Maura akan menerima pernyataanku tapi penghalang terbesar hubungan kami adalah Tuan Bram."


''Aku bisa saja membawa lari gadis itu, tapi aku tidak akan setega itu memisahkan anak dari ayahnya. Apalagi mereka baru bertemu," lanjut Emran.


''Jalan satu-satunya, kau harus bisa meluluhkan hati Om Bram."


...----------------...


''Selamat siang, Andrian," sapa Bram ketika memasuki sebuah ruangan.


Andrian yang masih fokus pada pekerjaan pun mendongak. Dia sangat terkejut ketika melihat pemilik rumah sakit mendatangi ruangannya.


"Tuan Bram, mari silahkan duduk." Andrian segera berdiri untuk mempersilahkan pria baya itu duduk.


''Apa kau sibuk?'' tanya Bram dengan melirik kertas-kertas yang menumpuk di atas meja.


''Oh, tidak, Tuan. Hanya beberapa berkas yang harus saya periksa."


Bram mengangguk paham. "Kalau begitu, apa saya bisa membicarakan sesuatu denganmu."


Andrian terdiam sejenak. Dia paham betul apa yang akan dibicarakan pria itu. Namun, dia berusaha untuk mendengar demi menghormati atasannya.


''Silahkan, Tuan."


''Berapa usiamu?"


''35 tahun, Tuan."


''Apa kau tidak ada niatan untuk menjalin hubungan serius?"


Andrian terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Dan sikap diamnya diartikan berbeda oleh Bram.


''Baiklah langsung saja. Aku berniat menjodohkan putriku denganmu...."


...----------------...


Eng ing eng.... Apa sih rahasia si Drian? Sok misterius banget si doi.


Hallo, Readersku.... Lama aku gak nyapa para pembaca kesayangan. Gimana mulai bosan apa enggak dengan tulisan gaje-ku ini? Semoga enggak ya....


Terima kasih buat kalian yang selalu setia mengikuti cerita recehku. Tanpa kalian, apalah arti diriku ini. Maaf jika di part ini ada beberapa kalimat yang sedikit gak nyambung, otak lagi gak sinkron, lagi gak bisa diajak mikir.


Jangan lupa like, subscribe alias ❤, dan comment-nya....


See you next part....

__ADS_1


Babay


__ADS_2