
Tiga bulan kemudian
Huwek-huwek-huwek....
Kegiatan rutin Maura setiap pagi sejak beberapa hari terakhir. Sebagai seorang dokter tentu dia sangat memahami keadaan ini, apalagi periode bulanannya sudah terlambat selama satu beberapa minggu yang lalu. Hanya saja, dia tidak memahami berapa usia kandungannya.
"Di mana Maura, Pap?" tanya Emran ketika sampai di ruang makan.
Sang ayah hanya menunjuk dengan dagu keberadaan sang menantu yang ada di dapur. Terdengar dengan jelas suara wanita yang tengah berusaha memuntahkan isi perutnya.
''Kau gerak cepat sekali, Kak. Apa setiap malam kau tidak membiarkan istrimu istirahat dengan tenang? Baru beberapa bulan langsung isi." Emru berkomentar sembari mengoleskan selai coklat ke rotinya.
''Diamlah, Ru! Sebelum mulut lemesmu itu kusumpal dengan roti yang ada di tanganmu," sahut Emran dengan kesal sebelum meninggalkan tempat itu.
Emru hanya mengedikkan bahu acuh, tidak heran jika kakaknya seperti itu karena memang sudah wataknya.
''Sudah baikan?" Emran menghampiri sang istri yang tengah menyandarkan tubuh pada sandaran wastafel.
Maura hanya mengangguk lemah. Namun sedetik kemudian, dia segera menutup mulutnya karena rasa mual yang tiba-tiba mendera saat mencium parfum yang dikenakan suaminya.
''Menyingkirlah, Em! Kau bau, huek...."
Maura kembali membalikkan tubuh, semua yang telah masuk ke dalam perutnya terpaksa keluar.
Mengabaikan perintah istrinya, Emran mendekat untuk membantu memijat tengkuk wanita itu.
"Kau bau, menyingkir sana! Baumu benar-benar membuatku mual, Emran," usir Maura.
__ADS_1
Emran refleks mencium bawah kedua ketiaknya. Tidak ada yang aneh, wangi seperti biasa. Dia memakai sabun dan parfum yang biasa dipakai.
''Tidak ada yang aneh, Ra. Aku baru selesai mandi."
''Tapi kamu bau, aku gak suka." Maura segera menjauh dari suaminya sebelum rasa mualnya kembali.
''Jangan coba-coba mendekat, kalau tidak ingin aku muntah di bajumu." Wanita berucap penuh peringatan disertai tatapan sinisnya.
''Ra, gak bisa gitu, dong," protes Emran mengejar langkah sang istri.
''Jaga jarak, please. Mundur, mundur lagi!" titah Maura tegas, sedangkan Emran hanya bisa menurut daripada terkena semburan maut wanita itu.
Semua tingkah pasangan itu tak luput dari perhatian ayah dan adiknya. Emru berusaha menahan tawa melihat drama pagi itu. Ini bukan drama pertama yang dia saksikan, masih banyak drama lagi yang lebih seru dari ini.
"Ada apa lagi, Ra?" tanya Raichand.
''Apa kau tidak mandi, Kak?" tanya Emru dengan merapatkan mulutnya. Dia masih berusaha agar tawanya tidak meledak.
''Diamlah!" balas Emran diiringi sorot penuh kekesalan.
''Segera periksakan kehamilanmu, Maura. Barangkali ada obat untuk mual muntahmu," kata Raichand.
''Rencananya nanti, Pa. Setelah rapat akhir tahun bersama para divisi," jawab Maura pelan dengan hati-hati melahap makanannya.
''Kau jangan terlalu lelah, Ra. Ingat ada kehidupan lain dalam perutmu. Suruh saja suamimu untuk menggantikan pertemuan-pertemuanmu atau tugasmu di rumah sakit. Buat apa punya suami jika tidak dimanfaatkan.''
Emran mendengus kesal mendengar ucapan sang ayahnya, memberi saran sekaligus merendahkan.
__ADS_1
''Tenang saja, Pa. Pasti akan kumanfaatkan," sahut Maura dengan menahan tawa melihat ekspresi suaminya.
''Kau tenang saja, Kak. Aku pasti membantumu asal ada bonus setimpal." Emru ikut menimpali.
Bertambah keruhlah wajah Emran. Suasana ruang makan yang biasanya tenang, kini menjadi ramai karena suara tawa para penghuninya yang menjadikan Emran sebagai bahan bulan-bulanan setiap pagi.
...----------------...
''Usia kandungannya masih dua minggu. Morning sickness biasa terjadi di awal kehamilan. Saya harap Dokter Maura menjaga agar perut tetap terisi," pungkas seorang dokter wanita berkacamata ber-nametage Raisa.
''Tapi saya tidak bisa makan nasi, Dok. Apa ada solusinya?" tanya Maura.
''Tentu ada, jika tidak bisa makan nasi. Anda bisa mengganti dengan umbi-umbian, biskuit, teh hangat dan lain sebagainya."
''Saya juga merasa suami saya sangat bau. Apa itu juga termasuk dalam kehamilan?" tanya Maura lagi dengan melirik pria yang berada di sampingnya.
''Iya, Dokter. Indra penciuman wanita hamil itu sangat sensitif terhadap bau atau wangi-wangian tertentu. Saya sarankan agar Dokter Emran mau mengganti parfum atau sabun mandi agar mau di dekati istrinya," pungkas Dokter Raisa dengan menahan senyuman.
''Dan satu lagi, Dokter Maura agar bisa menjaga emosi. Usahakan jangan sampai terlalu stress dan lelah karena bisa berdampak pada kehamilan," lanjutnya lagi.
Maura mengangguk pelan, sedangkan Emran hanya memperlihatkan wajah datarnya. Dia benar-benar kesal saat ini tidak di rumah tidak di tempat kerja selalu menjadi bahan bulan-bulanan.
''Saya resepkan obat untuk mengurangi mual muntahnya. Tolong, diminum secara teratur ya, Dok. Anda bisa kembali lagi bulan depan, buku ini dibawa serta." Dokter Raisa menyodorkan kertas bertuliskan nama obat yang harus ditebus bersamaan dengan buku pemeriksaan bersampul merah muda.
''Baik, Dokter Raisa. Terima kasih," ucap Maura sebelum akhirnya pamit dari ruangan itu.
Lagi dan lagi, wanita itu memberi peringatan pada sang suami untuk menjaga jarak karena tak ingin mencium bau pria itu. Emran benar-benar frustasi dengan kehamilan ini. Bukan tidak bahagia, tentu saja dia sangat bahagia. Namun, bila seperti ini terus dirinya juga yang tersiksa.
__ADS_1
Dokter Raisa yang sedari tadi menyaksikan perdebatan sepasang suami-istri itu hanya bisa menggeleng pelan. Emran dan Maura yang selama ini terkenal pendiam. Kini, tak ubahnya seperti anjing dan kucing yang selalu bertengkar.