
Lamaran sederhana yang diadakan di kediaman Bramasta Haydar telah usai. Semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti, untuk acara pernikahan akan diadakan tenggat waktu satu minggu lagi sesuai tanggal yang tertera pada kartu undangan.
Kini, sepasang ayah dan anak itu tengah berkumpul di ruang keluarga. Bram tengah menonton acara berita di televisi, sedangkan Maura tengah sibuk dengan cermin kecil di tangannya dan satu kotak alat rias yang sengaja dia bawa. Tak jauh darinya, tampak Rayyan tengah sibuk bermain game online dengan ponsel di tangannya.
''Maura, ayah ingin mengunjungi makam ibumu sebelum hari pernikahanmu." Suara Bram memecah keheningan ruangan itu.
Maura menghentikan kegiatannya membersihan sisa riasan wajah, kemudian beralih memandang ke arah ayahnya.
''Ayah atur saja waktunya, kondisi ayah sudah pulih bukan?"
Bram mengangguk pelan diiringi senyum lembutnya.
''Aku diajak gak, Om," sahut Rayyan cepat tapi mata masih tertuju pada layar ponsel. Sesekali juga menggoyangkan ponsel tersebut ke kanan dan ke kiri.
''Gak usah, Tuan. Aku aja yang diajak," sambar Mira yang baru bergabung dengan mereka.
Gadis itu menjatuhkan bobot tubuhnya disamping sang sahabat.
''Nyamber aja kayak geledek." Rayyan memutar bola matanya jengah.
''Biarin." Mira menjulurkan lidah kearah pria itu bermaksud mengejek.
''Sudah-sudah, kalian tidak usah bertengkar. Kalian akan ikut." Bram segera melerai adu mulut dua muda-mudi itu, sebelum membuat kepalanya pecah.
''Mira, panggil saya Om seperti Rayyan. Kau juga sahabat baik putriku. Aku bukan atasanmu."
''I-iya, Tu ... Eh, Om. Masih perlu pembiasaan," ucap Mira menunjukkan deretan gigi putihnya.
''Nanti, aku juga akan mengenalkan ayah pada orang tua angkatku. Mereka sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri, bahkan tanpa mereka. Mungkin, aku tidak akan pernah bisa berada di posisi ini," ungkap Maura dengan antusias.
__ADS_1
''Sepertinya ayah harus berterima kasih pada mereka."
...----------------...
''Ello, apalagi yang kau rencanakan? Kau tidak ada kapok-kapoknya setelah kemarin hampir tertangkap,'' tegur pria baya setelah mendengar Angelo menelpon seseorang.
''Aku tidak akan kapok sebelum dia merasakan kehancuran seperti yang aku rasakan.''
''Apa kau akan melakukan drama penculikan seperti kemarin?" tanya pria baya itu dengan rasa penasaran menggunung.
''Lebih dari itu," jawab Angelo dengan tatapan menghunus ke depan.
''Bila bermain api, kau harus siap untuk terbakar," pesan ayah angkatnya sebelum pergi meninggalkan pria itu sendirian.
''Api ya ... Hmmm, sepertinya menarik," gumamnya menyeringai.
Dia segera merogoh ponsel untuk menghubungi anak buahnya, meminta mereka segera berkumpul untuk membahas misi pembalasan dendamnya. Setelah menghubungi anak buahnya, dia juga meminta partner in crime-nya turut serta dalam misi ini.
''Segera temui aku di markas yang ada di Jalan Merpati, sekarang!" ujarnya penuh penekanan.
...----------------...
"Pria Gila! Ini sudah larut, apa tidak bisa besok pagi saja."
''Bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan?"
Divia mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya. Dia melirik suaminya yang tengah tertidur lelap, berganti melirik jam dinding yang tak jauh darinya, menunjukkan pukul 01.00.
Beberapa menit lalu, tidur lelapnya dikejutkan dengan getaran ponsel yang ada di dekatnya. Ternyata, telepon dari seorang pria yang meminta dirinya untuk datang ke suatu tempat, bahkan panggilannya sudah terputus sebelum Divia berkata sepatah katapun.
__ADS_1
''Sialan! Aku dibuat bingung di waktu sepagi ini. Jika tidak segera dituruti pasti dia akan marah."
''Aku harus bagaimana?" gumamnya resah karena tak kunjung menemukan jalan keluar
Tanpa sengaja matanya melirik mantel panjang miliknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia segera menyambar mantel tersebut, lalu memakainya tanpa mengaitkan kancing depan, kemudian mendekat ke arah sang suami dengan langkah sepelan mungkin. Dia menggoyangkan tangannya di depan wajah Raichand untuk memastikan jika tidur pria itu masih pulas.
''Aman," bisiknya.
Dengan mengendap-endap, Divia berjalan menuju pintu, kemudian membukanya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Dia menarik nafas lega setelah berhasil keluar dari kamarnya.
Perjuangannya belum usai, wanita itu masih harus menuruni anak tangga untuk sampai ke lantai dasar dan melewati ruangan megah yang ada di bawah sana untuk bisa sampai pada pintu utama.
Dia menapaki anak tangga langkah demi langkah dengan sangat hati-hati. Sesekali, dia menoleh ke arah sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang melihatnya keluar dari rumah. Lagi dan lagi, dia berhasil mencapai lantai dasar.
Ketika hendak melangkah menuju pintu utama, pendengarannya menangkap langkah kaki seseorang tengah menuju ke arahnya. Dia segera menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah pilar agar tidak ketahuan.
Divia sempat mengintip dari tempat persembunyiannya, ternyata Emru tengah mengambil air minum di dapur. Pria itu juga bersenandung kecil sambil melihat-lihat isi kulkas.
Wanita itu merutuki putranya yang tak kunjung pergi, jika begini waktunya akan terbuang sia-sia.
''Cepatlah pergi, Emru! Mama sudah di tunggu seseorang," titah Divia dengan berbisik yang tentu saja tidak akan di dengar oleh pria itu.
Dia menghembuskan nafas lega, saat putranya kembali menaiki tangga dengan membawa segelas air di tangannya. Melihat hal itu, Divia buru-buru pergi dari tempat persembunyiannya sebelum ada yang melihat. Namun nahas, mantel panjangnya menyambar sebuah vas bunga, hingga membuat benda itu berbunyi nyaring di lantai.
PRANK!
"Siapa kamu?"
''Mati aku!"
__ADS_1