
Sepasang mata lentik tampak mengerjap beberapa kali, netranya memindai tempat yang ia tempati. Sebuah kamar megah disertai beberapa perabotan mewah menyapa indranya untuk pertama kali.
"Di mana ini?"
Dia berusaha untuk bangun tapi tubuhnya terasa sulit saat digerakkan.
''Kenapa aku diikat seperti ini?"
''Siapa yang melakukannya?"
Bermaksud berteriak tapi gagal, suaranya hanya tertahan di rongga mulutnya.
"Hemmmm...."
"Hemmmm...."
Wanita itu terus berteriak diiringi gerakan intens dari tubuhnya yang berusaha melepas ikatan pada tangan dan kakinya. Posisinya yang berbaring sangat tidak menguntungkan bagi usahanya.
''Sialan! Kenapa ikatannya kencang sekali," umpatnya dalam hati.
Dia terus menggerakkan tangannya, hingga membekas kemerahan pada pergelangan tangan tersebut.
''Ya Tuhan, aku di mana ini? Siapa yang melakukan ini padaku?"
Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah.
Suara decitan pintu mengalihkan perhatiannya, kemudian disusul kedatangan seorang pria berjas rapi tengah menyeringai ke arahnya.
''Hallo, Nona Manis. Kita bertemu lagi."
''Siapa dia?"
__ADS_1
Angelo masih mengira jika wanita yang terbaring di ranjangnya adalah orang yang dia incar, karena wajahnya tidak terlihat jelas akibat helaian rambut menutupi sebagian tempat itu.
Dia terus berteriak di balik perekat yang melekat pada mulutnya sebagai isyarat minta dilepaskan.
"Kau ingin benda itu lepas dari mulutmu?" tanya Angelo.
Dia mengangguk cepat.
"Baiklah, aku juga tidak sabar mendengar desahanmu, Nona Manis," bisiknya dengan nada sensual.
''Apa maksudnya?"
"Panas, kenapa tubuhku merasa aneh?"
''Panas...."
''Apa pendingin ruangannya mati?"
"Aakkh!" teriaknya kesakitan ketika perekat itu ditarik paksa dari mulutnya.
''Tolong, aku ... Panas," rintih wanita itu sangat mirip dengan suara *******.
Angelo memejamkan mata menikmati alunan merdu yang keluar dari mulutnya.
''Aku tidak sabar menghabiskan malam denganmu, Non...." Ucapannya terhenti ketika tangannya berhasil menyibak helaian rambut itu.
Matanya terbelalak sempurna ketika perempuan yang ada di hadapannya bukanlah target yang dia incar.
''Siapa kau?!"
''Mestinya, aku yang bertanya seperti itu," jawab Fani dengan lemah.
__ADS_1
Dia mati-matian berusaha menahan gelombang gair*h yang melanda dirinya.
''Panas, tolong ... Panas.''
''Di mana nona manisku?" Pria itu mengeram kesal dengan mata memerah.
''Tolong, panas ... aku butuh sesuatu."
Fania tidak fokus lagi dengan keadaan sekitar. Badannya terus menggeliat seperti cacing kepanasan yang terlihat sangat erotis di mata Angelo.
''****! Kenapa dia sangat menggoda?" Angelo resah sendiri melihat pergerakan wanita itu.
Karena tidak ingin tergoda, dia memilih pergi meninggalkan wanita itu. Namun, langkahnya harus terhenti ketika mendengar bunyi benda jatuh dari atas ranjang. Sontak, pria itu segera berbalik.
Matanya terbelalak ketika dia mendapati wanita itu tergolek tak berdaya di sisi tempat tidur dengan posisi tengkurap. Angelo segera menghampiri untuk melepas ikatan tangannya, lalu membalikkan tubuh wanita itu.
''Aku salah target. Maaf telah menjadikanmu seperti ini.''
''Panas, aku mohon bantu aku...."
"Panas...."
Tangan yang terbebas, membuat Fania tanpa sadar membuka kancing kebayanya hingga memperlihatkan tubuh bagian depannya.
Bohong jika Ello tidak tertarik. Dia pria normal, melihat gerakan erotisnya di atas tempat tidur saja, sudah membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya. Apalagi, ini ... Kucing mana yang akan menolak jika disuguhi ikan asin.
Tarikan tangan lembut pada lehernya berhasil menyadarkan dari lamunannya. Belum sempat dia menghindar, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir wanita itu.
Ello hanya pasrah mengikuti nalurinya. Untuk menghindar pun percuma. Kepalang tanggung, dia layani saja keinginan wanita itu. Toh, dia juga yang menyebabkannya seperti sekarang ini.
''Aku harap kau tidak menyesal, Nona," lirihnya dengan suara serak.
__ADS_1