Pencarian Maura

Pencarian Maura
Pencarian Kedua


__ADS_3

''Ray, jaga rumah! Om ada kunjungan proyek baru di luar kota," ucap si Om memecah keheningan sarapan pagi itu.


''Oke, Om. Berapa hari?"


''Kalau urusan lancar sekitar satu mingguan. Kita tidak tahu kendala apa saja yang akan terjadi. Bisa jadi lebih dari itu," jelas si Om.


''Jadi duda setengah gitu, ya, Om. Dikit-dikit ke luar kota, dikit-dikit luar negeri. Kenapa sih Om gak nikah lagi aja?" celetuk Rayyan dengan entengnya.


Si Om langsung menatap tajam kearahnya. Dia tidak suka ucapan yang keluar dari mulut keponakannya. Baginya, tidak ada yang bisa menggantikan sang istri dengan wanita manapun.


Rayyan yang mendapat tatapan seperti itu hanya bisa melipat dalam-dalam mulutnya. Sadar akan kesalahannya, dia segera meminta maaf pada pria yang telah merawatnya setelah kepergian kedua orang tuanya akibat kecelakaan pesawat.


''Maaf, Om. Ini mulut memang suka khilaf," kata Rayyan diiringi cengiran khasnya.


Si Om tak menanggapi, dia melanjutkan makannya dengan hening. Begitulah, pria itu ketika marah. Diam dan hening dengan wajah dinginnya, tidak meledak-ledak seperti pria pada umumnya. Dia termasuk pria bertangan dingin. Jika ada yang berusaha menyalahi dirinya, dia akan langsung bertindak tanpa banyak berkata.


''Jaga diri baik-baik, Om. Jangan terlalu capek, bagaimanapun juga kesehatan Om lebih penting dari apapun. Biar Om bisa bertemu anak dan istri Om suatu hari nanti."


Pria baya itu hanya tersenyum simpul, keponakannya ini lumayan perhatian meski terkadang sikapnya lumayan menyebalkan.


''Oh, ya. kapan keberangkatan, Om?"


''Nanti setelah makan siang," jawabnya singkat.


Rayyan mengangguk. "Aku juga sekalian mau pamit. Aku diundang menjadi pembicara acara seminar kampus yang ada di Kota Hujan. Hanya satu hari, habis itu langsung pulang."


''Kapan berangkat?"


''Pagi ini."


''Ya sudah, hati-hati. Pakai kendaraan pribadi saja. tidak usah menggunakan angkutan umum. Buat apa punya mobil kalau tidak pernah di pakai," pesan pria itu.

__ADS_1


"Siap, Bos."


...----------------...


Maura menatap gedung megah yang menjulang tinggi di hadapannya. Dia menaruh harapan besar pada usahanya kali ini. Dengan langkah mantap, dia memasuki lobby setelah mendapat izin dari sekuriti.


''Permisi, Mbak." Maura menyapa seorang resepsionis yang berjaga disana.


''Iya, ada yang bisa saya bantu," jawab perempuan ber-blazer yang bername-tag Shofia.


''Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Bramasta Haidar?"


Wanita itu mengernyit bingung, memindai penampilan wanita di depannya dari atas sampai bawah. Untuk apa wanita ini mencari pemilik perusahaan ini, pikirnya.


Meskipun begitu, Shofia tetap menampilkan senyum ramahnya karena memang itu termasuk salah satu peraturan perusahaan. Selalu berlaku ramah dan sopan pada setiap tamu yang datang.


''Apa nona sudah membuat janji dengan beliau?" tanyanya dengan sopan.


''Betul, Nona."


Maura mematung sejenak, memikirkan bagaimana cara agar bisa bertemu dengan orang yang dimaksud.


''Begini, Mbak. Saya saudara jauh dari Tuan Asta. Saya tidak sempat membuat janji, karena saya baru menemukan alamatnya yang baru. Itupun hanya alamat kantor."


''Begini saja, saya serahkan tanda pengenal saya, tapi tolong izinkan saya bertemu beliau." Maura memaksa dengan menyodorkan tanda pengenal miliknya yang sempat dia ambil.


''Maaf, Mbak. Tidak bisa. Saya hanya mengikuti prosedur perusahaan," jawab wanita itu masih dengan kesopanannya.


Maura terus memaksa si resepsionis agar diizinkan untuk bertemu sang ayah sekarang juga. Karena jika harus membuat janji terlebih dahulu, ia tidak yakin bisa menepatinya. Mengingat jadwalnya selama beberapa hari ke depan lumayan padat.


''Ada apa ini?" Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan menghampiri keributan yang ada di lobby itu.

__ADS_1


''Ini tuan, Nona ini memaksa ingin bertemu Tuan Bram," jawab Shofia dengan nada ketakutan.


''Anda siapa?'' Pria itu balik bertanya pada Maura.


''Saya Maura, Tuan. Ada hal yang sangat penting untuk di sampaikan pada Tuan Asta. Saya mohon, Tuan. Izinkan saya menemui beliau." Maura memohon dengan menangkup kedua tangannya di depan dada.


''Nona siapanya, Bos?'' Pria itu menatap intens wanita di depannya.


Dia harus selalu waspada, bisa jadi wanita ini hanya seorang penyusup yang di selundupkan pihak musuh yang ingin mengambil alih perusahaan ini.


''Saya saudara jauhnya, Tuan."


''Kau tidak berbakat melakukan kebohongan, Nona. Bos tidak mempunyai saudara lagi selain keponakannya, karena adiknya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Selain itu, beliau tidak punya saudara lagi." Pria itu terkekeh sinis.


''Katakan! Siapa yang mengirimmu?" tanya Pria itu dengan menatap tajam kearah Maura.


Wanita itu terlihat gusar, dia hanya ingin bertemu ayahnya. Kenapa dituduh yang tidak-tidak seperti ini. Sejurus kemudian dia menunjukkan barang peninggalan ibunya.


''Ini saya punya ini." Maura melepas kalung dan anting-anting yang dia pakai, lalu menunjukkan pada pria itu.


''Kalau Anda sudah lama bekerja dengan orang yang saya maksud, pasti Anda mengenali dua benda ini."


Pria itu terkejut melihatnya. Itu adalah hadiah pemberian tuannya untuk hadiah ulang tahun istrinya dulu, sebelum peristiwa penculikan itu.


''Dan ini tanda pengenal saya. Nama lengkap saya tersemat nama ibu saya di belakangnya." Maura menunjukkan benda yang sedari tadi dalam genggamannya.


''Itu artinya, kamu....'' Pria yang menjadi asisten Bram tak bisa melanjutkan ucapannya karena rasa terkejutnya.


Maura mengangguk mantap.


Ini adalah sebuah keajaiban, seandainya tuannya mengetahui hal ini, pasti dia akan sangat bahagia.

__ADS_1


''Mari ikut saya....''


__ADS_2